Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaHeadlinePendidikan

Ubah Pekarangan dan Botol Bekas Jadi Sumber Pangan, Tim Fatepa Unram Latih Warga Aikmel Bertanam Hidroponik

×

Ubah Pekarangan dan Botol Bekas Jadi Sumber Pangan, Tim Fatepa Unram Latih Warga Aikmel Bertanam Hidroponik

Sebarkan artikel ini

LOMBOK TIMUR — Pekarangan rumah yang selama ini dibiarkan kosong di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, mulai dilirik sebagai sumber pangan keluarga.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa), Universitas Mataram (Unram), memperkenalkan budidaya hidroponik sederhana kepada warga setempat.

IKLAN
Example 300x600

Program yang berlangsung sejak awal 2026 tersebut mengajak masyarakat memanfaatkan ruang terbatas di sekitar rumah untuk menanam sayuran. Menariknya, teknologi yang diperkenalkan tidak harus menggunakan perangkat mahal.

Botol plastik bekas pun disulap menjadi wadah tanam.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan keluarga sekaligus memberikan alternatif pemanfaatan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.

Wenny Amaliah, salah satu perwakilan tim pengabdi Unram, mengatakan potensi pekarangan di Desa Kembang Kerang Daya sebenarnya cukup besar. Namun, pemanfaatannya masih terkendala pengetahuan teknis dan anggapan bahwa hidroponik membutuhkan biaya serta lahan yang besar.

“Masyarakat di sini sebenarnya punya pekarangan yang cukup luas. Namun, masih ada anggapan bahwa hidroponik itu rumit dan mahal. Padahal, sistem ini bisa diterapkan secara sangat sederhana, bahkan dengan memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar kita,” kata Wenny.

Dari Pipa PVC hingga Botol Air Mineral

Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan dua model hidroponik yang relatif sederhana dan terjangkau.

Pertama, Deep Flow Technique (DFT) dengan memanfaatkan pipa paralon atau PVC sebagai media instalasi. Kedua, wick system atau sistem sumbu yang memanfaatkan botol plastik bekas air mineral sebagai wadah tanam.

Sistem tersebut dipilih agar teknologi hidroponik dapat diterapkan masyarakat tanpa harus mengeluarkan investasi besar.

Botol plastik yang biasanya berakhir menjadi sampah justru diberi fungsi baru sebagai media budidaya sayuran.

Dengan pendekatan tersebut, warga tidak hanya diajak memproduksi pangan dari pekarangan, tetapi juga diperkenalkan pada praktik sederhana pengurangan sampah plastik di tingkat rumah tangga.

Tim pengabdi terdiri dari Wenny Amaliah, Guyup Mahadhian Dwiputra, Ajeng Setiawati, Oki Saputra, Gagassage Nanaluih De Side, Sapitri Mustika Sari, dan Ahmad Akbar Syahreza.

Kegiatan dilakukan melalui kombinasi penyampaian materi, demonstrasi, praktik penyemaian, perakitan instalasi hingga pendampingan budidaya.

Program ini juga berkolaborasi dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unram di desa setempat.

Pengetahuan dan Keterampilan Warga Meningkat

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan warga setelah mengikuti rangkaian kegiatan.

Pengetahuan peserta mengenai budidaya hidroponik meningkat dari skor awal 1,97 menjadi 3,81 dalam skala 5.

Sementara keterampilan teknis, termasuk kemampuan merakit instalasi dan memberikan nutrisi AB Mix, meningkat dari 1,96 menjadi 3,79.

Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan warga dalam menerapkan teknologi hidroponik setelah mengikuti pelatihan dan praktik langsung.

Antusiasme peserta juga tercermin dari tingkat kepuasan terhadap program yang mencapai 97,6 persen, dengan skor 4,88 dari 5.

Lebih dari 90 persen warga yang terlibat menyatakan optimistis program tersebut dapat memberikan dampak terhadap ketahanan pangan serta kondisi sosial-ekonomi keluarga.

Seorang perangkat desa yang hadir dalam kegiatan serah terima instalasi hidroponik turut mengapresiasi program tersebut. Kehadiran instalasi hidroponik diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi sederhana yang bisa dikembangkan warga di lingkungan masing-masing.

Tidak Berhenti di Pelatihan

Tim Fatepa Unram tidak ingin program tersebut berhenti pada kegiatan pelatihan dan serah terima instalasi.

Untuk menjaga keberlanjutan, mahasiswa KKN dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) di desa setempat dilibatkan dalam proses pendampingan.

Pendampingan diarahkan untuk membantu memonitor pertumbuhan tanaman, mengontrol pemberian nutrisi, serta membantu warga ketika menghadapi kendala teknis dalam proses budidaya.

Model pendampingan tersebut diharapkan membuat warga tidak sekadar mengetahui konsep hidroponik, tetapi mampu menjalankannya secara mandiri setelah program berakhir.

Bagi masyarakat desa, teknologi yang diperkenalkan juga membuka kemungkinan baru: pekarangan tidak harus luas untuk menghasilkan pangan.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah

Program di Kembang Kerang Daya memperlihatkan bahwa gagasan ketahanan pangan dapat diterapkan melalui langkah sederhana di tingkat keluarga.

Pekarangan kosong dapat menjadi ruang produksi pangan, sementara barang yang sebelumnya dianggap sampah dapat diubah menjadi bagian dari sistem budidaya.

Program tersebut juga dikaitkan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan, SDG 2 tentang tanpa kelaparan, dan SDG 17 tentang kemitraan untuk pembangunan.

Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap pasokan sayuran dari pasar, pemanfaatan pekarangan melalui hidroponik menawarkan alternatif produksi pangan skala rumah tangga.

Dari pipa paralon hingga botol air mineral bekas, inovasi yang dibawa tim Fatepa Unram menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas.

Bisa dimulai dari halaman rumah. Bahkan dari botol bekas yang selama ini dianggap tidak berguna.

Example 300250
Example 120x600
Example 120x600