MATARAM, LOMBOK FOKUS – Pengurus Wilayah Pemuda Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar pertemuan sekaligus orientasi perdana pada Minggu (8/11/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyatukan visi dan memperkuat komitmen pemuda dalam menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Abdul Malik, M.Pd., menyampaikan materi mengenai pentingnya mengembalikan peran masjid dalam kehidupan umat. Ia menegaskan bahwa kebangkitan generasi muda perlu dibangun melalui kesadaran untuk memakmurkan masjid, sebagaimana fungsi masjid pada masa awal perkembangan Islam.
Menurutnya, masjid tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat menjalankan ibadah ritual. Lebih dari itu, masjid memiliki peran strategis sebagai ruang pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan kehidupan sosial masyarakat.
“Membangun komitmen di dalam tubuh PRIMA DMI harus berakar dari niat yang lurus. Dalam mewujudkannya tentu membutuhkan konsistensi dan istiqamah yang kuat,” ujar Prof. Abdul Malik. Mingu (08/11/2026)
Ia juga menjelaskan bahwa pemikiran mengenai transformasi dan dinamika sosial masjid telah dituangkan dalam buku karyanya berjudul Antropologi Masjid. Buku tersebut mengangkat berbagai perspektif mengenai kedudukan dan peran masjid dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum PRIMA NTB, Supriadin, menyoroti sejumlah tantangan dalam mengembalikan fungsi masjid sebagai ruang yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kebiasaan sebagian pengelola masjid yang mengunci bangunan masjid di luar waktu salat. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan refleksi bersama agar masjid tidak kehilangan fungsi sosial dan kemasyarakatannya.
Ia mengajak para kader PRIMA DMI NTB untuk mendorong perubahan paradigma dalam pengelolaan masjid. Masjid perlu dihidupkan sebagai ruang bersama yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif, mulai dari diskusi, pendidikan, pengembangan kreativitas, hingga gerakan sosial kepemudaan.
“Masjid harus diposisikan sebagai poros peradaban. Selama ini, sekat budaya membuat masjid terkesan kaku dan terbatas hanya sebagai tempat ibadah. Padahal, segala bentuk diskusi, pengembangan potensi umat, dan gerakan sosial bisa dikembangkan di masjid, seperti halnya inspirasi gerakan Masjid 1000 Pemuda,” tegas Supriadin di hadapan para peserta orientasi.
Melalui orientasi perdana ini, PRIMA DMI NTB diharapkan mampu membangun kesamaan visi sekaligus memperkuat peran kader muda dalam memakmurkan masjid. Komitmen tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui program-program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan demikian, masjid diharapkan kembali menjadi pusat pembinaan generasi muda, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan sosial, dan penguatan solidaritas umat di Nusa Tenggara Barat.















