Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaPendidikanTokoh

Dari Kampung di Batukliang ke Panggung Akademik Nasional, Perjalanan Masnun Tahir

×

Dari Kampung di Batukliang ke Panggung Akademik Nasional, Perjalanan Masnun Tahir

Sebarkan artikel ini
Profil Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. — Dari Kampung di Batukliang ke Panggung Akademik Nasional.

LOMBOK FOKUS – Nama Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. kini dikenal luas di lingkungan akademik, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia merupakan Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Islam sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Namun, perjalanan Masnun hingga mencapai posisi tersebut bukanlah kisah yang dimulai dari kehidupan serba berkecukupan. Jauh sebelum dikenal sebagai akademisi dan pimpinan perguruan tinggi Islam negeri, ia adalah seorang anak kampung dari Batukliang, Lombok Tengah, yang tumbuh dalam keluarga sederhana dan terbiasa bekerja keras sejak usia sekolah.

IKLAN
Example 300x600

Kisah hidupnya menggambarkan perjalanan panjang seorang anak desa yang menapaki pendidikan dengan berbagai keterbatasan. Mulai dari membantu pekerjaan orang tua, menjadi buruh harian, menggembala ternak, hingga bekerja sebagai kuli bangunan ketika merantau ke Yogyakarta.

Ungkapan dari pengaret menjadi rektor menjadi gambaran sederhana perjalanan hidup Masnun Tahir. Di balik pencapaian tersebut, ada proses panjang yang dibentuk oleh pendidikan, pengalaman hidup, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tumbuh dalam Keluarga Sederhana dan Dididik Mandiri Sejak Kecil

Masnun Tahir lahir pada 27 Agustus 1975. Ia berasal dari lingkungan masyarakat Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Ayahnya bernama HM. Tahir, sedangkan ibunya adalah Hj. Asmaul Husna.

Sejak kecil, Masnun tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menerapkan disiplin cukup ketat. Kehidupan sederhana membuat dirinya dan saudara-saudaranya terbiasa melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga maupun membantu pekerjaan orang tua.

Bahkan, pengalaman masa kecilnya tidak selalu identik dengan kehidupan anak-anak pada umumnya. Ia pernah berangkat sekolah tanpa bekal makanan. Dalam beberapa kesempatan, tali gangsingan pun digunakan sebagai pengganti ikat pinggang.

Sepulang sekolah, aktivitasnya belum selesai. Ia harus mencari rumput untuk pakan sapi peliharaan keluarga. Ia juga terbiasa membantu pekerjaan di sawah, mencuci pakaian, hingga memasak sendiri.

Ketika memiliki waktu luang, Masnun kerap diminta bekerja sebagai buruh harian untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Ia juga pernah menjadi penggembala dan buruh pembuatan genteng.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Kemandirian dan tanggung jawab bukan sekadar nasihat yang diterimanya sejak kecil, melainkan sesuatu yang benar-benar dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

Pernah Menjadi Buruh Tani dengan Upah Rp2.000 Sehari

Salah satu pengalaman menarik Masnun terjadi ketika masih menjadi siswa Madrasah Aliyah pada era 1990-an.

Saat itu, ia pernah bekerja sebagai buruh harian di sawah untuk membantu para petani. Dari pekerjaan tersebut, Masnun memperoleh upah sebesar Rp2.000 per hari.

Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran. Ia memperhatikan buruh perempuan yang bekerja bersamanya justru menerima upah lebih rendah, yakni Rp1.500 per hari.

Masnun kemudian mempertanyakan perbedaan upah tersebut kepada orang yang memberikan pekerjaan. Baginya, selisih upah itu tidak masuk akal karena para pekerja perempuan justru dinilainya memiliki etos kerja yang lebih rajin.

Akan tetapi, jawaban yang diterimanya hanya menyebut bahwa perbedaan tersebut memang sudah menjadi aturan.

Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan rasa ingin tahunya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sejak muda Masnun sudah memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial, termasuk ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Pengalaman lain juga muncul ketika ia menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAN-PK) Mataram.

Pada masa itu, seluruh siswa di sekolah tersebut adalah laki-laki. Bahkan, jumlah tenaga pengajar juga didominasi laki-laki. Hanya guru Kimia dan Bahasa Indonesia yang merupakan perempuan.

Para siswa MAN-PK ketika itu dipersiapkan untuk menjadi ulama. Perempuan dianggap tidak mungkin menempuh peran yang sama. Salah satu pertimbangan lainnya adalah kekhawatiran bahwa keterlibatan siswa perempuan dapat mengganggu hafalan para siswa laki-laki.

Masnun dan teman-temannya bahkan memiliki aturan tersendiri mengenai hiburan. Mereka dilarang mendengarkan lagu-lagu Nike Ardilla karena dikhawatirkan dapat mengganggu hafalan. Sebaliknya, mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ diperbolehkan.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari fase pendidikan yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan sosial dan keagamaan.

Merantau ke Yogyakarta, Kuliah Sambil Menjadi Kuli Bangunan

Setelah menyelesaikan pendidikan di MAN-PK Mataram pada 1993, Masnun melanjutkan perjalanan pendidikannya ke Yogyakarta.

Ia diterima di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada 1999, ia menyelesaikan pendidikan sarjana dengan mengambil jurusan Perbandingan Mazhab.

Menjadi mahasiswa perantauan tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Keterbatasan ekonomi membuat Masnun harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai berbagai keperluan pendidikannya.

Di tengah kesibukan mengikuti perkuliahan, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan mengangkat batu bata hingga kapur dilakoninya demi mendapatkan penghasilan tambahan.

Tidak banyak mahasiswa yang mampu menjalani aktivitas perkuliahan sekaligus pekerjaan fisik yang cukup berat. Namun, bagi Masnun, kondisi tersebut menjadi bagian dari perjuangan untuk menyelesaikan pendidikan.

Yogyakarta juga menjadi ruang penting bagi perkembangan intelektual dan keagamaannya. Selain mengikuti pendidikan formal, ia menjadi santri kalong di sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Minhajul Muslim dan Al-Munawwir Krapyak.

Ia juga mengikuti pengajian di lingkungan Masjid UIN Sunan Kalijaga bersama sejumlah ulama, seperti KH. Machasin, KH. Abdul Malik Madaniy, KH. Ma’mun Murai, dan KH. Toha Abdurrahman.

Pengalaman belajar tersebut memperkaya pengetahuannya, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam tradisi keilmuan Islam.

Menyelesaikan Pendidikan S1, S2, hingga S3

Perjalanan akademik Masnun tidak berhenti setelah memperoleh gelar sarjana.

Pada 2002, ia menyelesaikan pendidikan magister dengan konsentrasi Hukum Islam. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan doktoral dalam bidang Studi Islam dan berhasil meraih gelar doktor pada 2011 di kampus yang sama.

Perjalanan dari mahasiswa perantauan hingga menyelesaikan pendidikan doktoral tentu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Pengalaman hidup sederhana, bekerja sambil kuliah, dan lingkungan intelektual Yogyakarta menjadi bagian dari proses panjang tersebut.

Pendidikan kemudian menjadi salah satu jalan yang mengantarkan Masnun untuk mengembangkan kapasitas keilmuan sekaligus mengabdikan diri di dunia akademik.

Kembali ke Lombok dan Mengawali Pengabdian sebagai Pendidik

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Masnun kembali ke Nusa Tenggara Barat. Ia mulai mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan menjadi guru di MA Uswatun Hasanah, Lombok Tengah, pada periode 2000–2006.

Selain mengajar, ia juga mulai membangun karier sebagai dosen di lingkungan IAIN Mataram, perguruan tinggi yang kemudian bertransformasi menjadi UIN Mataram.

Karier akademiknya terus berkembang seiring dengan berbagai tanggung jawab kelembagaan yang dipercayakan kepadanya.

Masnun pernah menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), kemudian dipercaya menjadi Ketua LP2M.

Pada periode 2015–2017, ia menjabat sebagai Wakil Rektor I IAIN Mataram. Ketika kampus tersebut bertransformasi menjadi UIN Mataram, ia kembali dipercaya mengemban jabatan yang sama untuk periode 2017–2021.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak hanya berlangsung melalui kegiatan mengajar dan penelitian, tetapi juga melalui keterlibatan dalam pengelolaan serta pengembangan perguruan tinggi.

Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Islam

Salah satu pencapaian penting dalam perjalanan akademik Masnun Tahir adalah ketika ia memperoleh jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar.

Pada 29 Maret 2018, Masnun tercatat sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum Perdata Islam.

Bidang keilmuan tersebut berkaitan dengan berbagai persoalan hukum Islam, terutama hukum keluarga, fikih, serta dinamika penerapan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.

Sejumlah karya ilmiahnya menunjukkan perhatian terhadap hubungan antara hukum Islam, kebudayaan lokal, dan perubahan sosial.

Beberapa kajian yang dikembangkannya membahas pembaruan hukum keluarga Islam, tradisi merariq dalam masyarakat Sasak, hubungan hukum Islam dengan budaya lokal, hingga gagasan Fikih NKRI.

Salah satu karyanya yang menarik perhatian adalah buku Fikih NKRI: Landasan Berkonstitusi bagi Umat di Indonesia.

Melalui gagasan tersebut, Masnun mengangkat pembahasan mengenai hubungan antara nilai-nilai keislaman dan kehidupan berbangsa serta bernegara.

Kajian-kajian tersebut memperlihatkan bahwa hukum Islam tidak hanya dipahami melalui pendekatan normatif, tetapi juga perlu ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat yang terus mengalami perubahan.

Aktif di Organisasi Keagamaan dan Nahdlatul Ulama

Di luar aktivitas akademik, Masnun juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan.

Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PW GP Ansor NTB periode 2004–2006. Kiprahnya kemudian berlanjut di lingkungan Nahdlatul Ulama dengan menjadi Wakil Syuriah PWNU NTB periode 2012–2017.

Ia juga terlibat dalam Majelis Pembina Cabang PMII Mataram, menjabat sebagai Direktur Madrasah Development Center Provinsi NTB periode 2016–2021, serta aktif dalam kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB.

Pada 2019, Masnun dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU NTB. Kepercayaan tersebut kembali diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut pada periode 2025–2030.

Keterlibatannya dalam berbagai organisasi menunjukkan bahwa aktivitas pengabdian Masnun tidak hanya berpusat di lingkungan kampus. Ia juga mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat NTB.

Dua Periode Memimpin UIN Mataram

Perjalanan panjang Masnun di dunia pendidikan tinggi mencapai salah satu titik penting ketika ia dipercaya menjadi Rektor UIN Mataram.

Pada 28 Juli 2021, ia mulai mengemban amanah sebagai Rektor UIN Mataram periode 2021–2025.

Setelah menyelesaikan periode pertama, kepercayaan kembali diberikan kepadanya. Pada 31 Juli 2025, Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi melantik Masnun Tahir sebagai Rektor UIN Mataram periode 2025–2029.

Pelantikan tersebut menandai kelanjutan kepemimpinannya dalam mengembangkan salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Nusa Tenggara Barat.

Dalam pernyataan setelah pelantikan, Masnun menyampaikan komitmennya untuk menjadikan UIN Mataram sebagai pusat keunggulan integrasi keilmuan dan peradaban.

Amanah tersebut tentu bukan pekerjaan ringan. Perguruan tinggi dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari peningkatan mutu pendidikan, penguatan riset dan publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, hingga peningkatan daya saing lulusan.

Sebagai rektor, Masnun memiliki tanggung jawab untuk memastikan UIN Mataram terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dari Batukliang untuk Generasi Muda NTB

Perjalanan hidup Masnun Tahir memperlihatkan bahwa latar belakang keluarga dan tempat seseorang dilahirkan tidak harus menjadi batas bagi masa depannya.

Dari kehidupan sederhana di Batukliang, ia menjalani pendidikan di Lombok, merantau ke Yogyakarta, bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan, menyelesaikan pendidikan doktoral, memperoleh jabatan guru besar, hingga dipercaya memimpin UIN Mataram selama dua periode.

Perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang keberhasilan meraih jabatan. Ada proses panjang yang melibatkan kerja keras, ketekunan menuntut ilmu, pengalaman sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ungkapan dari pengaret menjadi rektor menjadi potret perjalanan seorang anak kampung yang menapaki kehidupan melalui pendidikan.

Bagi generasi muda di Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat, kisah Masnun Tahir menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berusaha.

Sebab, perjalanan panjang menuju keberhasilan sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Dari sebuah kampung di Batukliang, Masnun Tahir membuktikan bahwa pendidikan dapat membuka jalan menuju panggung akademik yang lebih luas.

Profil Lengkap Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag.

Untuk mengenal lebih jauh sosok Rektor UIN Mataram ini, berikut profil dan perjalanan pendidikan serta organisasi yang pernah dan sedang diembannya.

Identitas Diri

  • Nama lengkap: Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag.
  • Tempat lahir: Dusun Tenten Lauk, Desa Bujak, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
  • Tanggal lahir: 27 Agustus 1975.
  • Ayah: HM. Tahir.
  • Ibu: Hj. Asmaul Husna.
  • Profesi: Akademisi dan Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Islam.
  • Jabatan saat ini: Rektor UIN Mataram periode 2025–2029.
  • Jabatan organisasi: Ketua Tanfidziyah PWNU NTB periode 2025–2030.

Riwayat Pendidikan

Perjalanan pendidikan Masnun Tahir dimulai dari sekolah dasar di lingkungan tempat tinggalnya di Lombok Tengah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pesantren hingga menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta.

Berikut riwayat pendidikan formalnya:

  1. SDN Lendang Terong (1982–1987).
  2. MTs Pondok Pesantren Uswatun Hasanah (1987–1990).
  3. MAN Program Khusus (MAN-PK) Mataram (1990–1993).
  4. Sarjana (S1) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kini UIN Sunan Kalijaga (1994–1999).
  5. Magister (S2) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kini UIN Sunan Kalijaga (2000–2002).
  6. Doktor (S3) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2005–2011).

Riwayat Jabatan Akademik dan Pemerintahan Kampus

  • Guru MA Uswatun Hasanah, Lombok Tengah (2000–2006).
  • Sekretaris LP2M IAIN Mataram.
  • Ketua LP2M IAIN Mataram.
  • Wakil Rektor I IAIN Mataram (2015–2017).
  • Wakil Rektor I UIN Mataram (2017–2021).
  • Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Islam (29 Maret 2018).
  • Rektor UIN Mataram periode 2021–2025.
  • Rektor UIN Mataram periode 2025–2029.

Riwayat Organisasi

Selain aktif di dunia akademik, Masnun Tahir juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi kepemudaan, keagamaan, dan kemasyarakatan.

Berikut sejumlah jabatan organisasi yang pernah dan sedang diembannya:

  1. Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Uswatun Hasanah (IKAPPUH), sejak 2000.
  2. Wakil Ketua PW GP Ansor NTB (2004–2006).
  3. Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Mataram.
  4. Wakil Syuriah PWNU NTB (2012–2017).
  5. Ketua Divisi Pengkaderan MUI NTB (2015–2020).
  6. Direktur Madrasah Development Center NTB (2016–2021).
  7. Ketua Tanfidziyah PWNU NTB (2019–2024).
  8. Ketua Tanfidziyah PWNU NTB (2025–2030).
Example 300250
Example 120x600
Example 120x600