YOGYAKARTA, LOMBOK FOKUS – Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) PTKIN diharapkan menjadi lebih dari sekadar kompetisi akademik antarmahasiswa. Ajang tersebut juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kreativitas, memperkuat tradisi keilmuan, serta melahirkan generasi muda yang mampu menciptakan inovasi di tengah perkembangan teknologi.
Ketua Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Indonesia yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., menilai mahasiswa perlu mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga perlu mengembangkan gagasan, melakukan penelitian, dan menghasilkan solusi inovatif yang dapat menjawab berbagai persoalan di masyarakat.
Bagi Prof. Masnun, keberhasilan OASE tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah medali yang diperoleh peserta, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu mendorong lahirnya pemikiran dan karya baru dari kalangan mahasiswa.
“Ajang OASE harus kita maknai lebih dari sekadar perlombaan. Ini merupakan ruang untuk membangun tradisi akademik, menumbuhkan keberanian berinovasi, dan mempertemukan gagasan-gagasan terbaik mahasiswa PTKN. Kita ingin mahasiswa tidak hanya menjadi peserta kompetisi, tetapi juga menjadi pencipta gagasan dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat,” ungkap Prof. Masnun.
OASE PTKIN III Tahun 2026 diselenggarakan pada 3–7 November 2026 di Yogyakarta. Kegiatan nasional tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia dan secara resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., di Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu malam (4/11/2026).
Dalam momentum tersebut, Prof. Masnun turut menyoroti pentingnya penguasaan sains dan teknologi sebagai bagian dari upaya membangun kembali kejayaan peradaban Islam. Ia berpandangan bahwa kemajuan peradaban pada masa lalu tidak terlepas dari kuatnya tradisi intelektual, keterbukaan terhadap perkembangan ilmu, serta kemampuan melahirkan berbagai penemuan dan pemikiran baru.
Dalam konteks perkembangan teknologi saat ini, mahasiswa PTKN dituntut mampu beradaptasi sekaligus mengembangkan kompetensi yang lebih luas. Pemanfaatan AI, misalnya, tidak seharusnya terbatas pada penggunaan aplikasi untuk membantu aktivitas sehari-hari, tetapi juga diarahkan untuk mendukung penelitian, pengembangan pengetahuan, dan penciptaan inovasi.
“Mahasiswa PTKN harus berani mengambil peran dalam perkembangan AI. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menjadi inovator, peneliti, dan pengembang pengetahuan. Kita membutuhkan generasi yang mampu memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperkuat pendidikan, riset, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Meski mendorong penguasaan teknologi, Prof. Masnun mengingatkan bahwa kemajuan digital tetap harus disertai tanggung jawab moral. Menurutnya, kemampuan intelektual dan kecakapan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai agama, etika, serta kepedulian terhadap sesama.
Perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi penting dalam memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengabaikan aspek kemanusiaan. Karena itu, pendidikan di lingkungan PTKN perlu membentuk mahasiswa yang tidak hanya kompeten dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat.
“Keunggulan PTKN harus dibangun melalui integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman. Kita ingin melahirkan generasi yang unggul dalam sains, kuat dalam spiritualitas, berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Inilah kontribusi penting perguruan tinggi keagamaan dalam membangun peradaban masa depan,” tambahnya.
Selain pengembangan kapasitas mahasiswa, Prof. Masnun juga menilai kerja sama ant perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi keagamaan. Menurutnya, OASE dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperluas kolaborasi di bidang penelitian, pertukaran pengetahuan, pengembangan metode pembelajaran, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap kompetisi akademik tersebut tidak berhenti setelah seluruh rangkaian perlombaan selesai. Interaksi dan pertukaran gagasan yang terbangun selama kegiatan diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama yang menghasilkan penelitian maupun inovasi baru.
Sebagai bagian dari PTKN Indonesia, UIN Mataram juga terus mendorong penguatan budaya akademik, peningkatan kualitas penelitian, serta pengembangan potensi mahasiswa dalam berbagai bidang. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perguruan tinggi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan landasan nilai-nilai keislaman.
Melalui OASE PTKIN III Tahun 2026, diharapkan muncul generasi mahasiswa yang tidak hanya membawa pulang prestasi dan penghargaan, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengembangkan gagasan menjadi karya nyata.
Lebih dari sekadar mengejar medali, mahasiswa PTKN diharapkan mampu menjadi inovator, peneliti, dan penggerak perubahan yang memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, serta perkembangan peradaban dunia.















