MATARAM- Politisi Partai Demokrat tersebut menghadiri langsung acara syukuran gedung baru Amara Montessori School yang berlokasi di Jalan Terusan Bung Hatta Nomor 21, Kelurahan Pejanggik, Kota Mataram, Selasa (28/10/2026).
Nanang berharap kehadiran lembaga pendidikan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di NTB. Menurutnya, pendidikan

pada tahap awal kehidupan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kemandirian, dan kecerdasan anak.
“Semoga kehadiran Amara MonteDiapssori School ini menjadi ruang tumbuh anak yang hangat dan bermakna untuk pendidikan anak. Gedung ini menjadi tempat anak-anak belajar, bereksplorasi, dan tumbuh bahagia,” ujar Nanang Samodra di Mataram.
Kurikulum Montessori sendiri merupakan pendekatan pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Metode ini menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi, kemandirian, dan keterampilan hidup melalui lingkungan belajar yang dirancang sesuai kebutuhan perkembangan mereka.
Kembangkan Potensi Anak secara Holistik
Kepala Sekolah Amara Montessori School, Endah Mursidah Ahyar, M.Pd., mengatakan pendidikan anak usia dini dengan pendekatan Montessori mendapat sambutan positif dari masyarakat Kota Mataram.
Menurutnya, Amara Montessori School tidak hanya menyediakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman, tetapi juga menerapkan metode pembelajaran yang memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh.
Pendekatan tersebut memadukan kegiatan bermain dan belajar untuk menumbuhkan kemandirian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, empati, serta akhlak mulia.
“Amara Montessori School menerapkan kurikulum Montessori yang memiliki lima bidang studi utama bagi anak-anak, yaitu latihan keterampilan hidup, sensorial, matematika, bahasa, dan budaya atau kosmik. Selain itu, ada tambahan area seni, musik, dan gerakan,” jelas Endah kepada DISWAYLOMBOK.ID, Selasa (28/10/2026).
Amara Montessori School menerapkan program kelas lintas usia atau mixed-age group, yang menggabungkan anak-anak berusia 3–6 tahun dalam satu kelas.
Melalui metode tersebut, setiap anak diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai potensi dan tahap perkembangannya masing-masing, dengan pendampingan guru profesional dalam lingkungan yang mendukung proses belajar.
Dari Berkebun hingga Kelas Yoga
Salah satu keunggulan Amara Montessori School adalah kegiatan pembelajaran yang tidak terbatas pada aktivitas di dalam kelas.
Anak-anak akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, kemampuan sosial, dan kemandirian.
Kegiatan tersebut antara lain berkebun, kids yoga, kelas berenang, pembelajaran bahasa Inggris, pengenalan seni dan budaya lokal, hingga program sister class bersama panti asuhan.
Beragam aktivitas itu diharapkan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membantu anak mengenal lingkungan dan membangun kepedulian terhadap sesama sejak dini.
Endah optimistis Amara Montessori School dapat diterima secara luas oleh masyarakat NTB. Terlebih, lembaga pendidikan tersebut didukung tenaga pengajar berpengalaman dan profesional yang berkomitmen mendampingi perkembangan anak.
Dengan mengusung moto Nurturing Holistic Growth, Amara Montessori School berkomitmen mendukung pertumbuhan anak secara menyeluruh, mulai dari aspek kognitif, motorik halus dan kasar, sosial, emosional, hingga spiritual.
“Visi sekolah kami adalah mewujudkan lembaga pendidikan anak usia dini yang ramah anak dan menjadi mitra orang tua dalam menyediakan pendidikan bagi anak usia dini, sehingga dapat membentuk anak yang merdeka dan dapat berkontribusi untuk kemajuan nusa dan bangsa,” paparnya.
Padukan Kurikulum Merdeka dengan Montessori
Dalam pelaksanaan pembelajaran, Amara Montessori School menggunakan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang mengacu pada Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Montessori.
Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan karakteristik satuan pendidikan, kebutuhan dan tahap perkembangan peserta didik, serta kondisi lingkungan dan potensi lokal.
Proses pembelajaran berpusat pada anak (child-centered) melalui kegiatan bermain sambil belajar yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik.
Pendekatan Montessori diterapkan melalui lingkungan belajar yang disiapkan secara khusus atau prepared environment, kegiatan praktik langsung (hands-on activities), pembiasaan kemandirian, serta pengembangan keterampilan hidup.
Anak-anak juga diberikan ruang untuk mengeksplorasi lingkungan dan belajar secara mandiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dalam penerapannya, pembelajaran mencakup tiga elemen Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yakni nilai agama dan budi pekerti, jati diri, serta dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni atau STEAM.
Ketiga elemen tersebut dikembangkan secara terpadu melalui kegiatan bermain dan pembelajaran yang holistik.
Kegiatan pendidikan terdiri atas pembelajaran intrakurikuler dan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Pembelajaran intrakurikuler dilaksanakan melalui kegiatan bermain yang terintegrasi dengan tema pembelajaran.
Sementara itu, kegiatan projek memadukan pendekatan Montessori dengan pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan karakter peserta didik, termasuk sikap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Selain lima area utama Montessori, yaitu keterampilan hidup (Practical Life), sensorial, bahasa, matematika, serta budaya atau kosmik, sekolah juga mengintegrasikan kegiatan seni, kerajinan, dan pembelajaran tematik sesuai kebutuhan anak.
Melalui pendekatan tersebut, Amara Montessori School berharap dapat menghadirkan pendidikan anak usia dini yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Dukungan Nanang Samodra terhadap kehadiran lembaga ini diharapkan turut mendorong berkembangnya pilihan pendidikan anak usia dini yang berkualitas di NTB, sekaligus memperkuat fondasi bagi lahirnya generasi masa depan yang cerdas, mandiri, dan berkarakter.















