Mataram, Lombokfokus.com – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, resmi melantik 13 pejabat lingkup Pemerintah Provinsi NTB pada Rabu, 17 September 2025, di Pendopo Gubernur. Dari jumlah tersebut, delapan pejabat menduduki posisi eselon II, sementara lima lainnya di eselon III.
Iqbal menegaskan, mutasi dan promosi jabatan ini merupakan bagian dari penerapan sistem meritokrasi yang transparan dan objektif.
“Sebagian besar yang dilantik ini baru saya kenal setelah masuk tiga besar. Jadi, alhamdulillah ini yang terbaik yang bisa kita persembahkan untuk NTB,” kata Iqbal.
Daftar Nama 13 Pejabat Baru Pemprov NTB
• Budi Herman – Inspektur Inspektorat NTB
• Samsudin – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
• Ervan Anwar – Kepala Dinas Perhubungan
• Irnadi Kusuma – Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP
• Marga Sulkifli Rayes – Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa
• Dr. Hubadi – Kepala Biro Hukum
• Muhammad Taufieq Hidayat – Kepala Biro Organisasi Setda NTB
• Najamuddin Amy – Kepala Biro Perekonomian Setda NTB
• Wahyu Hidayat – Kepala Protokol
• Dadang Fajar – Sekretaris DPMPTSP
• Jaka Wahayana – Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dispusip NTB
• Arifin – Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB
• Muhammad Anwar – Kepala UPTD Balai Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan NTB
Iwan Slank Kritik Meritokrasi Iqbal
Pelantikan pejabat ini mendapat perhatian dari M. Ihwan alias Iwan Slank, eks Tim Hukum 99 Iqbal-Dinda. Ia mempertanyakan konsistensi penerapan meritokrasi yang kerap dikampanyekan Gubernur Iqbal.
“Ganti PJ Sekda ke definitif, ganti Kepala BKD, ganti Kaban Bakesbangpol, ganti Kaban Bencana, ganti Sadimin, dan revisi SK Irnadi,” tegas Iwan pada Senin, 22 September 2025.
Iwan juga menilai, jika Pemprov tidak memiliki stok pejabat mumpuni, seharusnya bisa mengambil dari kabupaten/kota.
“Kan karo hukum juga banyak dari kota. Banyak juga pejabat top di kabupaten/kota NTB ini,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Iwan melontarkan sindiran tajam kepada gaya kepemimpinan Iqbal.
“Ketika pemimpin tidak bisa mengidentifikasi mana reket mana tain begang, maka oregadelah rasa poteng ini,” sindirnya dengan bahasa satir.












