MATARAM – Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, angkat bicara terkait sejumlah insiden keributan yang mewarnai pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurutnya, peristiwa tersebut tidak hanya menjadi perhatian masyarakat NTB, tetapi juga telah menjadi sorotan di tingkat nasional karena video keributan tersebar luas di media sosial dan menjadi konsumsi publik di berbagai daerah.
“Ini juga menjadi perhatian nasional. Saya termasuk yang paling banyak ditanya oleh teman-teman di Jakarta karena mereka tahu saya berasal dari NTB. Di sisi lain, kita akan menjadi tuan rumah PON,” ujar Hadrian.
Ia berharap insiden yang terjadi murni merupakan bagian dari tingginya semangat kompetisi dalam olahraga.
“Saya berharap kejadian kemarin merupakan semangat kompetisi. Itu harapan saya,” katanya.
Namun demikian, apabila keributan dipicu oleh dugaan kecurangan dalam pertandingan, menurutnya hal tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTB.
“Kalau ternyata itu terjadi karena kecurangan, maka itu menjadi PR dan tugas yang tidak mudah bagi KONI dan tentunya pemerintah provinsi harus turun tangan,” tegasnya.
Hadrian mengusulkan agar Pemerintah Provinsi NTB segera mengundang KONI untuk melakukan tabayyun atau klarifikasi secara terbuka mengenai penyebab sebenarnya dari berbagai keributan yang terjadi selama Porprov berlangsung.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat sekaligus memberikan penjelasan kepada publik.
“Saya mengusulkan agar pemerintah provinsi mengundang KONI untuk menanyakan sesungguhnya apa yang terjadi,” ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena video keributan telah menyebar ke seluruh Indonesia.
“Videonya tersebar ke seluruh Indonesia. Bahkan hampir di setiap pertandingan terjadi keributan. Berarti ada yang salah. Salahnya apa? Nah, itu yang harus dijelaskan.”
Hadrian juga meminta KONI bersikap terbuka dan transparan apabila memang ditemukan adanya kesalahan, termasuk jika berasal dari perangkat pertandingan seperti wasit.
“KONI saya minta untuk terbuka seterbuka mungkin, transparan menyampaikan apa adanya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa jika memang terdapat kekeliruan dari wasit atau perangkat pertandingan, hal tersebut harus disampaikan secara jujur agar dapat menjadi bahan evaluasi.
“Kalau memang itu kekeliruan di wasit-wasit kita, sampaikan saja agar kita bisa evaluasi. Jangan ditutup-tutupi dengan mengatakan itu hanya semangat kompetisi atau semangat pertandingan.”
Menurutnya, keterbukaan justru menjadi langkah penting agar kualitas penyelenggaraan olahraga di NTB semakin baik ke depan.
Sebagai salah satu pihak yang ikut memperjuangkan NTB dalam persiapan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Hadrian mengaku cukup khawatir apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.
Ia mengingatkan bahwa selain persoalan keributan, kesiapan fasilitas venue juga masih menjadi perhatian pemerintah pusat.
“Saya menjadi salah satu yang memperjuangkan di Jakarta. Agak deg-degan juga kalau situasi ini tidak segera kita perbaiki. Kemudian fasilitas venue sampai hari ini kalau kita tidak siap juga akan menjadi pertimbangan pemerintah pusat,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar citra NTB sebagai calon tuan rumah PON tidak tercoreng sehingga menimbulkan keraguan dari provinsi lain.
“Jangan sampai provinsi lain merasa ragu, merasa khawatir kalau PON dilaksanakan di NTB.”
Menutup pernyataannya, Hadrian menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan lain selain memastikan NTB mampu menjadi tuan rumah PON yang baik.
“Saya tidak punya kepentingan apa-apa. Kepentingan saya cuma satu, saya ingin menjaga bahwa NTB siap menjadi tuan rumah yang baik.”
Ia mengajak KONI, Pemerintah Provinsi NTB, serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk bersatu menyiapkan penyelenggaraan PON secara maksimal.
“Sehingga saya menghimbau semua pihak, KONI, Pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten/kota, ayo kita sama-sama siapkan PON ini dengan sebaik-baiknya. Kalau kita siapkan secara bersama-sama, insyaallah kita bisa membuktikan bahwa NTB siap menjadi tuan rumah yang baik.”















