Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaPolitik

PKB Hidupkan Kembali Sosialisme Islam, Gali Pemikiran Tjokroaminoto hingga Ali Syariati

×

PKB Hidupkan Kembali Sosialisme Islam, Gali Pemikiran Tjokroaminoto hingga Ali Syariati

Sebarkan artikel ini
PKB menghidupkan kembali diskusi Sosialisme Islam melalui pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati tentang agama, kekuasaan, dan keadilan sosial.

MATARAM – Di tengah dinamika politik yang sering kali diwarnai perebutan pengaruh dan kepentingan kekuasaan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengajak kadernya kembali menengok pemikiran ideologis. Jajaran PKB di berbagai daerah secara serentak menggelar diskusi untuk mengkaji buku Sosialisme Islam melalui pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syariati.

Langkah ini menghadirkan kembali diskusi tentang hubungan agama, ideologi, dan keadilan sosial ke dalam ruang politik. Ketika partai politik umumnya disibukkan dengan konsolidasi organisasi dan agenda elektoral, PKB justru membuka ruang untuk membicarakan kembali gagasan yang menjadi landasan perjuangan politik.

IKLAN
Example 300x600

Di Nusa Tenggara Barat, diskusi publik tersebut diselenggarakan DPW PKB NTB di Lombok Raya Hotel, Mataram, Minggu (8/11/2026). Mengangkat tema Sosialisme Islam: Membedah Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syariati, kegiatan ini menghadirkan Romo Emanuel Ano, Pimpinan Gereja St. Maria Imaculata Mataram, serta Prof. Dr. H. Jumarin, M.HI, Wakil Rektor III UIN Mataram. Diskusi dipandu Ahmad Sanusi, M.Pd.

Kehadiran dua narasumber dengan latar belakang berbeda memberikan perspektif tersendiri dalam pembahasan. Sosialisme Islam dikaji melalui sudut pandang keagamaan dan akademik. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan keadilan sosial merupakan ruang dialog yang dapat melampaui sekat identitas agama.

Bagi Romo Emanuel Ano, pembahasan sosialisme Islam tidak bisa dilepaskan dari hubungan agama dengan kehidupan sosial dan kekuasaan. Ia mengaitkan pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dengan tiga prinsip penting, yakni kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan.

Gagasan Tjokroaminoto memiliki akar kuat dalam sejarah pergerakan Indonesia. Pemikirannya tentang sosialisme Islam memperlihatkan bagaimana nilai-nilai agama dapat berjalan beriringan dengan perjuangan melawan ketimpangan dan penindasan. Dalam perspektif ini, agama tidak hanya menjadi pedoman kehidupan pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun tatanan sosial yang lebih adil.

Romo Emanuel turut menghubungkan pembahasan tersebut dengan pemikiran Karl Marx, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta gagasan Ali Syariati. Salah satu persoalan yang disorot adalah relasi antara pemimpin agama dan kekuasaan. Pembahasan ini membuka pertanyaan tentang bagaimana otoritas keagamaan menjalankan peran sosialnya serta menempatkan diri di tengah pengaruh kekuatan politik.

Sementara itu, pemikiran Ali Syariati menawarkan perspektif tentang agama sebagai kekuatan pembebasan. Agama tidak semestinya berhenti pada simbol dan ritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merespons berbagai bentuk ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat.

Dari pembahasan tersebut, sosialisme Islam terlihat bukan sekadar perdebatan mengenai hubungan Islam dengan sosialisme sebagai ideologi. Lebih jauh, gagasan ini menyangkut bagaimana nilai-nilai keagamaan diterjemahkan menjadi kesadaran sosial dan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Dari Pemikiran Ideologis Menuju Persoalan Indonesia

Diskusi kemudian mengarah pada pertanyaan yang lebih kontekstual: sejauh mana pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati masih relevan untuk menjawab persoalan Indonesia saat ini?

Prof. Dr. H. Jumarin, M.HI, menghubungkan diskursus sosialisme Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara. Ia mengajak peserta melihat kembali apa yang dapat dilakukan berdasarkan pemikiran kedua tokoh tersebut dan bagaimana gagasannya dapat diterapkan dalam menghadapi berbagai persoalan Indonesia kontemporer.

Hubungan sosialisme Islam dengan Pancasila menjadi pembahasan menarik karena keduanya membuka ruang diskusi mengenai keadilan sosial, kebebasan, dan martabat manusia. Keadilan tidak cukup ditempatkan sebagai prinsip normatif, tetapi perlu diwujudkan dalam kebijakan dan kehidupan masyarakat.

Jumarin juga memperluas pembahasan ke persoalan ekologi, termasuk isu waduk dan lingkungan hidup. Perspektif ini menunjukkan bahwa keadilan sosial tidak hanya menyangkut distribusi kekayaan dan hubungan kekuasaan, tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam serta keberlanjutan lingkungan.

Selain itu, sejumlah prinsip mendasar mengenai agama, akal, kebebasan, serta harkat dan martabat manusia turut menjadi perhatian. Prinsip-prinsip tersebut menjadi landasan untuk melihat manusia sebagai subjek yang memiliki hak, kebebasan, dan kedudukan penting dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, diskursus sosialisme Islam memiliki cakupan yang luas. Pembahasannya dapat menjangkau persoalan ketimpangan ekonomi, hubungan agama dan kekuasaan, hingga perlindungan lingkungan yang semakin relevan dalam agenda pembangunan.

Menguji Kembali Orientasi Politik

Pengkajian sosialisme Islam yang dilakukan PKB secara serentak pada akhirnya memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai hubungan antara ideologi dan praktik politik.

PKB memiliki akar sejarah dalam tradisi Islam dan kebangsaan. Karena itu, pembahasan pemikiran sosialisme Islam dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kembali identitas keagamaan, cita-cita kerakyatan, dan arah perjuangan politik partai.

Namun, tantangan sebuah gagasan tidak berhenti pada kemampuannya menjadi bahan diskusi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pemikiran tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Jika keadilan sosial menjadi salah satu prinsip yang diangkat, relevansinya perlu tercermin dalam sikap politik terhadap ketimpangan ekonomi, perlindungan masyarakat kecil, pengelolaan sumber daya alam, hingga perumusan kebijakan publik.

Di sinilah pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati memperoleh makna yang lebih luas. Keduanya bukan sekadar mewariskan gagasan untuk dipelajari, tetapi juga menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana agama seharusnya mengambil peran dalam menjawab persoalan nyata kehidupan manusia.

Langkah PKB menghidupkan kembali diskursus tersebut membuka ruang bagi tumbuhnya tradisi intelektual di lingkungan partai politik. Ruang semacam ini penting karena politik tidak hanya membutuhkan strategi untuk meraih kekuasaan, tetapi juga gagasan mengenai tujuan, arah, dan tanggung jawab dalam menggunakan kekuasaan.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan sekadar mengapa pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Syariati perlu dibaca kembali. Lebih dari itu, sejauh mana gagasan keduanya mampu memengaruhi orientasi politik partai dan menentukan keberpihakannya terhadap masyarakat menjadi hal yang patut diuji.

Example 300250
Example 120x600
Example 120x600