LOMBOK TENGAH – Kisah pilu dialami seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Dusun Selakan Lendang Re, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Niat mulianya merantau ke Taiwan demi memperbaiki ekonomi keluarga justru berujung pada pengkhianatan dari orang yang paling ia percaya: suaminya sendiri.
Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Taiwan itu telah menghabiskan waktu sembilan tahun bekerja di negeri orang. Selama itu pula, ia rutin mengirimkan gajinya kepada sang suami dengan harapan uang tersebut digunakan untuk membeli tanah, modal usaha, dan menjamin masa depan anaknya.
Namun kenyataan pahit harus ia terima. Uang kiriman yang diperkirakan mencapai Rp200 juta tersebut justru dihabiskan tanpa sepengetahuannya untuk keperluan pribadi dan bersenang-senang.
“Siapa yang tidak sakit hati. Saya kerja siang malam di negara orang, jauh dari anak dan keluarga. Uang yang saya kirim katanya untuk beli tanah dan modal usaha, ternyata habis untuk voya-voya yang tidak jelas,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Ia mengaku selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarga, rela menahan rindu dan kelelahan demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Ironisnya, pengorbanan tersebut berakhir tanpa hasil apa pun.
Hingga kini, ibu satu anak itu telah berupaya meminta pertanggungjawaban suaminya secara baik-baik dan melalui jalur kekeluargaan. Namun upaya tersebut tak membuahkan hasil.
“Saya sudah minta dengan cara baik, bicara secara kekeluargaan, tapi tidak ada itikad baik. Malah saya disuruh pulang dulu ke rumah suami, baru uangnya akan diganti. Kalau memang uangnya ada, tentu gampang saya pulang. Faktanya, hampir 10 tahun saya kerja, tidak ada hasil yang saya terima sama sekali,” ujarnya.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan yang kerap dialami TKW, khususnya terkait pengelolaan hasil jerih payah mereka di kampung halaman. Ia berharap ada perhatian dan pendampingan agar hak-haknya sebagai pencari nafkah utama dapat diperjuangkan secara adil.












