Lombok Tengah | Lombok Fokus – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lombok Tengah mengingatkan panitia penyelenggara berbagai kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia agar tetap memperhatikan norma agama dalam setiap rangkaian acara.
Salah satu yang menjadi perhatian MUI adalah kegiatan karnaval dan gerak jalan yang biasanya digelar untuk memeriahkan momentum kemerdekaan.
Ketua MUI Lombok Tengah, TGH. Muhammad Nur Mukhtar, mengimbau panitia agar tidak menggelar kegiatan yang bertentangan dengan norma agama, nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Menurutnya, kegiatan peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus memperkuat semangat persatuan dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Mengimbau kepada panitia penyelenggara (karnaval-gerak jalan) supaya mengadakan kegiatan yang tidak bertentangan dengan norma agama, tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45, dan mencerminkan rasa syukur dan semangat cinta NKRI,” kata TGH. Muhammad Nur Mukhtar.
Ia secara khusus menyoroti penggunaan pakaian yang menyerupai lawan jenis dalam kegiatan karnaval maupun kegiatan peringatan kemerdekaan lainnya.
MUI Lombok Tengah menegaskan, dalam perspektif syariat Islam, laki-laki yang mengenakan pakaian menyerupai perempuan maupun perempuan yang mengenakan pakaian menyerupai laki-laki termasuk tasyabbuh.
“Tindakan berbusana menyerupai lawan jenis (tasyabbuh) hukumnya haram dalam syariat Islam,” tegasnya.
TGH. Muhammad Nur Mukhtar menjelaskan, larangan tersebut sebagaimana disebutkan dalam Kitab Bajuri Jilid II halaman 97, yang merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW mengenai larangan laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
Karena itu, MUI Lombok Tengah meminta panitia penyelenggara di tingkat desa, dusun, lingkungan, lembaga pendidikan, organisasi maupun kelompok masyarakat agar lebih selektif dalam menyusun konsep kegiatan.
Di sisi lain, MUI Lombok Tengah tidak mempersoalkan semangat masyarakat dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Masyarakat justru diajak mengisi momentum tersebut dengan kegiatan yang positif dan memberikan manfaat.
Kegiatan yang memperkuat persatuan, mempererat persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan semangat gotong royong dinilai dapat menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.
“Mari kita peringati hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan kegiatan-kegiatan positif yang mencerminkan rasa syukur, seperti kegiatan yang memperkuat persatuan,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak doa dan zikir sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah dirasakan bangsa Indonesia.
“Memperbanyak doa dan zikir untuk terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.
MUI Lombok Tengah berharap seluruh rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat berlangsung meriah tanpa mengabaikan nilai-nilai agama dan norma yang berlaku di masyarakat.
Momentum kemerdekaan diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, persatuan, gotong royong dan kecintaan terhadap NKRI.
Dengan demikian, semarak kemerdekaan tetap dapat dirasakan masyarakat sekaligus menjadi momentum membangun kehidupan sosial yang religius, harmonis dan penuh semangat kebangsaan.















