MATARAM — Presiden Sahabat Muda NTB, Kusnadi Unying, menyatakan dukungan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal untuk maju sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026–2031.
Menurut Kusnadi, momentum pergantian kepengurusan KONI NTB harus menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola olahraga di NTB, terlebih daerah ini akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
“Kita membutuhkan energi baru, kepemimpinan baru, dan keberanian baru untuk melakukan pembenahan,” kata Kusnadi.
Ia menilai PON 2028 bukan sekadar agenda olahraga nasional, tetapi juga momentum penting bagi NTB untuk membuktikan kemampuan dalam mengelola perhelatan olahraga berskala besar sekaligus membangun sistem olahraga yang lebih profesional, transparan, berintegritas, dan berorientasi pada prestasi.
Karena itu, menurutnya, kepemimpinan KONI NTB periode 2026–2031 memiliki posisi strategis dalam menentukan arah olahraga NTB menjelang PON 2028.
Soroti Polemik Porprov XII NTB 2026
Kusnadi menyebut dukungannya terhadap Lalu Muhammad Iqbal tidak semata-mata didasarkan pada posisi Iqbal sebagai gubernur. Dukungan tersebut, kata dia, lahir dari kegelisahan terhadap kondisi tata kelola olahraga NTB, terutama setelah pelaksanaan Porprov XII NTB 2026.
Ia menilai pelaksanaan Porprov XII NTB diwarnai sejumlah persoalan dan polemik di berbagai cabang olahraga.
Menurut Kusnadi, sedikitnya terdapat delapan insiden yang mencuat, mulai dari aksi pemukulan terhadap wasit, protes terhadap hasil penjurian, atlet yang memilih mundur akibat dugaan kecurangan, hingga pertandingan yang dibubarkan aparat kepolisian karena dugaan taruhan.
“Persoalan-persoalan tersebut tentu tidak dapat dipandang sebagai dinamika pertandingan biasa,” ujarnya.
Kusnadi mengatakan, Porprov semestinya menjadi ruang untuk membuktikan bahwa olahraga NTB memiliki sistem kompetisi yang sehat, profesional, transparan, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Jika pesta olahraga terbesar di tingkat provinsi justru diwarnai konflik, protes, dan persoalan integritas pertandingan, menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga.
“Jika sebuah pesta olahraga terbesar di tingkat provinsi justru dipenuhi konflik, protes, dan persoalan integritas pertandingan, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana sistem pengelolaan olahraga kita telah berjalan dengan baik,” katanya.
KONI NTB Diminta Tidak Lepas Tangan
Kusnadi menegaskan dirinya tidak bermaksud menyebut seluruh persoalan Porprov sebagai kesalahan satu pihak.
Namun, organisasi yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengelolaan olahraga prestasi, kata dia, harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, mencegah, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dalam pertandingan.
Menurutnya, konflik dalam kompetisi olahraga merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Akan tetapi, ukuran profesionalisme organisasi bukan terletak pada ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana konflik tersebut diselesaikan secara adil, transparan, dan bertanggung jawab.
“Di sinilah evaluasi terhadap KONI NTB menjadi penting,” tegas Kusnadi.
Ia mengingatkan agar NTB tidak hanya sibuk membicarakan target prestasi pada PON 2028, sementara persoalan mendasar dalam tata kelola olahraga di daerah belum terselesaikan.
PON 2028 Dinilai Lebih Kompleks
Kusnadi menilai tantangan NTB pada PON 2028 akan jauh lebih besar dibandingkan Porprov.
Jumlah kontingen yang lebih banyak, tekanan publik yang lebih tinggi, sorotan nasional, hingga reputasi NTB sebagai tuan rumah menjadi sejumlah faktor yang harus dipersiapkan sejak dini.
“PON 2028 akan jauh lebih kompleks dibandingkan Porprov. Jumlah kontingen lebih besar, tekanan publik lebih tinggi, sorotan nasional lebih kuat, dan reputasi NTB sebagai tuan rumah akan dipertaruhkan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta persoalan yang muncul dalam Porprov XII NTB 2026 tidak berhenti sebagai polemik, tetapi dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem olahraga NTB.
KONI NTB, lanjut Kusnadi, harus mampu membangun konsolidasi seluruh cabang olahraga, memperbaiki tata kelola kompetisi, memperkuat pembinaan atlet, meningkatkan profesionalisme perangkat pertandingan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan olahraga.
Nilai Lalu Muhammad Iqbal Punya Modal Kepemimpinan
Dalam pandangan Kusnadi, Lalu Muhammad Iqbal memiliki modal kepemimpinan yang relevan untuk melakukan pembenahan tersebut.
Selain sebagai Gubernur NTB, Iqbal memiliki pengalaman di pemerintahan dan Kementerian Luar Negeri. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal dalam membangun koordinasi lintas sektor dan mengambil keputusan di tengah berbagai kepentingan.
Namun, Kusnadi menegaskan pengalaman tersebut harus diterjemahkan menjadi visi dan program konkret apabila Iqbal nantinya dipercaya memimpin KONI NTB.
“Saya mendukung Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal bukan semata-mata karena posisinya sebagai kepala daerah, tetapi karena momentum olahraga NTB membutuhkan figur yang mampu menghadirkan perubahan,” katanya.
Kusnadi berharap KONI NTB ke depan benar-benar menjadi rumah bersama bagi seluruh insan olahraga.
Ia menilai tidak boleh ada cabang olahraga yang merasa dianaktirikan, atlet yang merasa perjuangannya tidak dihargai, maupun persoalan pertandingan yang tidak memiliki mekanisme penyelesaian yang jelas.
Pemilihan Ketua KONI NTB Harus Tentukan Arah Olahraga
Kusnadi juga mengingatkan agar pemilihan Ketua KONI NTB periode 2026–2031 tidak hanya dipandang sebagai persoalan perebutan dukungan dalam forum organisasi.
Menurut dia, para pemilik suara harus mempertimbangkan kapasitas, gagasan, integritas, dan keberanian calon dalam membawa perubahan.
“Pemilihan tersebut harus menjadi momentum untuk menentukan arah masa depan olahraga NTB,” katanya.
Ia menilai regenerasi kepemimpinan merupakan bagian dari organisasi yang sehat. Pergantian kepemimpinan, kata dia, tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk permusuhan.
“Regenerasi merupakan bagian dari kehidupan organisasi yang sehat. Ketika sebuah organisasi menghadapi banyak persoalan, maka evaluasi dan penyegaran kepemimpinan adalah sesuatu yang wajar,” ujarnya.
Sebaliknya, Kusnadi mengingatkan agar kritik dan evaluasi tidak dianggap sebagai ancaman terhadap organisasi.
Dorong Olahraga NTB Lebih Profesional
Sebagai Presiden Sahabat Muda NTB, Kusnadi mengatakan generasi muda memiliki kepentingan besar terhadap masa depan olahraga NTB.
Ia ingin atlet NTB dapat meraih prestasi berdasarkan kemampuan dan kerja keras, pertandingan berlangsung sportif, pengurus bekerja profesional, dan PON 2028 benar-benar menjadi momentum kebangkitan olahraga NTB.
“Kita ingin melihat atlet-atlet NTB berprestasi karena kemampuan dan kerja kerasnya. Kita ingin melihat pertandingan berjalan sportif. Kita ingin melihat pengurus bekerja profesional,” katanya.
Kusnadi kembali menegaskan dukungannya kepada Lalu Muhammad Iqbal untuk maju sebagai Ketua KONI NTB periode 2026–2031.
Menurutnya, dukungan tersebut bukan sekadar dukungan terhadap figur, tetapi merupakan dorongan terhadap agenda perubahan dan perbaikan tata kelola olahraga di NTB.
“PON 2028 sudah di depan mata. Kita tidak punya banyak waktu untuk terus berkutat dengan kegaduhan yang sama. NTB membutuhkan kepemimpinan olahraga yang mampu bekerja, menyatukan, dan menyelesaikan persoalan,” tegasnya.
Kusnadi pun menyebut momentum tersebut sebagai saatnya KONI NTB melakukan perubahan dan menghadirkan kepemimpinan baru.
“Sudah waktunya olahraga NTB dipimpin dengan semangat profesionalisme, sportivitas, serta kepentingan atlet dan prestasi daerah,” pungkasnya.















