LOMBOK TENGAH | LOMBOK FOKUS — Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah bersama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) tengah menyiapkan rencana pembangunan pusat sarana ibadah bagi enam agama di kawasan The Mandalika. Pemkab mengusulkan lahan sekitar 4 hektare kepada ITDC untuk mewujudkan kompleks ibadah lintas agama tersebut.
Rencana itu mencuat sebagai respons atas kebutuhan sarana ibadah bagi wisatawan dan masyarakat nonmuslim yang beraktivitas di kawasan pariwisata superprioritas tersebut.
Untuk mematangkan konsep pengelolaan dan pembangunan kawasan, Pemkab Lombok Tengah bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melakukan studi tiru ke kawasan ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (7/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan mempelajari konsep Puja Mandala, kawasan yang menyediakan sarana ibadah bagi umat berbagai agama dalam satu kompleks.
Rombongan diikuti Sekretaris Daerah Lombok Tengah H. L. Firman Wijaya, Kepala Bakesbangpoldagri, anggota FKUB, serta sejumlah tokoh agama. Turut mendampingi GM ITDC Mandalika Pari Wijaya, TGH L. Habiburokhman Faisal, TGH L. Tamin dan sejumlah tokoh agama lainnya.
GM ITDC Nusa Dua, I Made Wijatmika, mengapresiasi kunjungan Pemkab Lombok Tengah dan FKUB. Menurutnya, ITDC Nusa Dua akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan ITDC Mandalika.
“Kami berharap program ini berjalan lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpoldagri Kabupaten Badung, I Putu Mas Arimbawa, menilai rencana Pemkab Lombok Tengah tersebut merupakan langkah positif dalam memperkuat toleransi dan kerukunan umat beragama.
Menurutnya, keberadaan sarana ibadah menjadi bagian penting dalam mendukung kawasan pariwisata internasional yang dikunjungi wisatawan dari berbagai negara dan latar belakang agama.
“Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerah kita bukan dari satu agama, melainkan berbagai umat beragama. Maka harus kita siapkan untuk mereka beribadah sesuai kepercayaannya masing-masing,” jelasnya.
GM ITDC Mandalika Pari Wijaya kemudian memaparkan konsep pengembangan kawasan Nusa Dua kepada rombongan. Ia cukup memahami karakter Nusa Dua karena pernah bertugas selama puluhan tahun di kawasan tersebut.
Ia mengatakan, Puja Mandala telah menjadi salah satu ikon internasional Nusa Dua karena menghadirkan sarana ibadah berbagai agama dalam satu kawasan.
“Puja Mandala artinya sebuah area pusat ibadah. Konsep ini menjadi salah satu bagian penting dari kawasan Nusa Dua,” jelas Pari.
Menurutnya, karakter pengembangan Nusa Dua dan Mandalika memiliki perbedaan. Nusa Dua lebih banyak ditopang oleh seni, budaya dan kegiatan MICE, sementara Mandalika dikembangkan dengan kekuatan alam, olahraga dan pariwisata.
“Kalau di Mandalika event yang ditampilkan adalah balap motor, sedangkan Nusa Dua adalah MICE,” katanya.
Saat ini Mandalika diarahkan menjadi kawasan sport entertainment tourism, salah satunya melalui penyelenggaraan MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit.
Pari menjelaskan, ITDC saat ini menaungi tiga kawasan pariwisata, yakni Nusa Dua, Mandalika dan kawasan di Labuan Bajo. Pengembangan Mandalika juga terus dilakukan untuk menarik investor dan menghadirkan berbagai fasilitas bertaraf internasional.
Sementara itu, Sekda Lombok Tengah H. L. Firman Wijaya mengatakan rencana pembangunan pusat ibadah tersebut memang telah menjadi perhatian pemerintah daerah.
Ia menyebut Bupati Lombok Tengah berharap kawasan pusat ibadah tersebut dapat segera diwujudkan di kawasan ITDC Mandalika.
“Bupati Lombok Tengah sendiri berharap segera dibangun areal pusat ibadah umat beragama. Kami berdiskusi tentang kawasan ibadah ini dan kami punya lokasi, yakni kawasan ITDC. Mudah-mudahan ITDC memberikan kita lahan,” kata Firman.
Pemkab Lombok Tengah mengusulkan lahan sekitar 4 hektare untuk pembangunan sarana ibadah enam agama, yakni Islam, Hindu, Buddha, Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Konghucu.
Luas tersebut lebih besar dibandingkan kawasan Puja Mandala di Nusa Dua yang memiliki luas sekitar 1,8 hektare.
“Kami usulkan 4 hektare untuk enam agama. Desain kawasan sarana ibadah akan kita bahas nanti,” ungkap Firman.
Menurutnya, keberadaan pusat ibadah tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan beribadah, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan kerukunan umat beragama di Lombok Tengah.
Firman mengaku salah satu hal yang menjadi perhatian selama studi tiru di Bali adalah kuatnya semangat saling menghormati antarumat beragama.
“Yang luar biasa di Bali adalah tenggang rasa, saling hormat-menghormati dan menghargai antarumat beragama. Siapa yang membangun? Yang membangun adalah umat beragama masing-masing,” jelasnya.
Terkait lokasi, Pemkab Lombok Tengah masih menunggu keputusan dari ITDC. Namun, pemerintah daerah berharap lokasi tersebut berada di kawasan strategis dan dekat dengan kawasan sirkuit MotoGP.
“Itu nanti sarana ibadah tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi memberikan kebanggaan bagi kita semua,” katanya.
Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting karena kawasan Mandalika terus menjadi magnet wisatawan, khususnya saat gelaran MotoGP. Firman menyebut jumlah penonton MotoGP setiap tahun mencapai lebih dari 150 ribu orang.
Selama ini, Pemkab Lombok Tengah baru menyediakan fasilitas masjid di kawasan tersebut. Sementara sarana ibadah bagi umat agama lainnya belum tersedia secara memadai.
“Penonton MotoGP setiap tahun mencapai 150 ribu lebih, namun Pemda baru bisa menyediakan masjid. Sarana ibadah umat beragama lainnya belum kami siapkan,” ujarnya.
Karena itu, Pemkab Lombok Tengah berharap pembangunan kompleks ibadah lintas agama tersebut dapat segera direalisasikan. Selain menjawab kebutuhan wisatawan, fasilitas itu diharapkan menjadi simbol bahwa Mandalika tidak hanya menawarkan olahraga dan pariwisata, tetapi juga membawa semangat toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat.
“Mudah-mudahan segera terealisasi sehingga umat beragama lainnya bisa beribadah,” pungkas Firman.















