Lombok Timur – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang akan digelar di 61 desa di Kabupaten Lombok Timur, sejumlah pihak mulai menyampaikan pandangan terkait figur yang diharapkan dapat memimpin desa ke depan.
Salah satunya datang dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lombok Timur. Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Lombok Timur, M. Solihin, berharap kontestasi Pilkades 2027 mendatang dapat diisi lebih banyak figur dari kalangan muda atau generasi milenial.
Menurut Solihin, keterlibatan generasi muda dalam pemerintahan desa dinilai dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas antara kepala desa, perangkat desa, maupun masyarakat.
”Enaknya anak muda kalau jadi Kades, gampang diajak komunikasi,” ujar Solihin. Selasa (8/9/2026).
Ia menilai, persoalan komunikasi dan hubungan internal antara kepala desa dengan perangkatnya masih menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan pemerintahan di sejumlah desa.
Menurutnya, tidak sedikit desa yang mengalami konflik internal karena hubungan antara pimpinan dengan staf tidak berjalan dengan baik. Kondisi tersebut, kata dia, pada akhirnya dapat berdampak terhadap pelayanan dan pembangunan desa.
”Selain konflik antara pimpinan dengan staf, tidak sedikit juga masyarakat ngeluh desanya begitu-begitu saja karena Kadesnya kurang peka terhadap kebutuhan desanya,” lanjutnya.
Solihin menegaskan, seorang kepala desa tidak cukup hanya mengandalkan ketokohan maupun kemampuan ekonomi untuk memenangkan kontestasi. Lebih dari itu, seorang pemimpin desa harus memiliki kepedulian sosial, kemampuan berkomunikasi, serta kemauan untuk bekerja dan berbuat bagi masyarakat.
”Pimpinan itu tidak cukup dengan ketokohan dan mengandalkan kekayaan saja, melainkan harus berjiwa sosial dan mau berbuat untuk masyarakat,” tegasnya.
Ia menyoroti perlunya regenerasi kepemimpinan di tingkat desa. Menurut Solihin, generasi muda dinilai memiliki energi, kemampuan komunikasi, serta peluang lebih besar untuk membangun jejaring dan mencari program pembangunan dari berbagai pihak di luar desa.
”Rata-rata Kades di Lotim ini didominasi orang yang lanjut usia. Ketika diajak diskusi saja susahnya minta ampun. Bagaimana dia bisa mencari program ke luar kalau duduk ngopi saja mereka berat,” ujarnya.
Karena itu, GP Ansor Lombok Timur mendorong agar Pilkades serentak 2027 tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk menghadirkan kepala desa yang memiliki visi pembangunan, terbuka terhadap kritik dan diskusi, serta mampu membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
”Tahun ini sudah mulai terlihat anak-anak muda mengambil sikap untuk berani dalam kontestasi Pilkades 2027 mendatang,” tutupnya.















