Ketika bertemu dengan teman kuliah itu, kami banyak berdiskusi, termasuk apa yang menjadi penyebab kualitas pendidikan di NTB tidak mampu bersaing. Beberapa penyebab yang saya identifikasi, antara lain:
Pertama, birokrasi yang feodal yang mengakar menghambat kreativitas dan inovasi. Apa contohnya? Seorang guru memberanikan diri untuk membuat tulisan untuk mengkritik sekolahnya. Kepala sekolahnya tahu. Ia pun dipanggil ke ruang kepala sekolah. Si kepala sekolah menegurnya meminta ia menarik tulisan itu. Si kepala sekolah sebenarnya takut. Takut dengan siapa? Ya, dengan atasannya. Siapa atasannya? Ya, kepala dinas. Kepala dinas pun takut pada atasannya. Akibatnya, tidak ada perbaikan. Anggapannya seolah-olah tidak ada yang kurang dan kelemahan. Begitulah birokrasi yang feodal di NTB.
Kedua, literasi yang rendah. Indeks Aktivitas Literasi Baca NTB berada di posisi 23 dari 34 provinsi. Anda bisa baca itu di e-book Indeks Aktivitas Literasi Provinsi se-Indonesia pada halaman 58. Jangan minta bahan bacaan di saya. Anda bisa cari sendiri. Jangan malas.
Fakta tersebut perlu diperhatikan oleh Dinas Pendidikan Provinsi NTB maupun dinas pendidikan kabupaten dan kota. Fakta ini jangan disanggah. Artinya, bahwa siswa maupun guru di NTB memiliki literasi yang rendah. Mereka malas. Mereka hanya mau disuap dan mempelajari apa yang ada dalam buku-buku yang disusun oleh orang-orang di Pulau Jawa. Mereka malas membaca dan mencari secara mandiri. Hal inilah yang membuat kondisi ketidakmampuan untuk bersaing itu mendarah daging pada sekolah-sekolah di NTB. Akhirnya, indeks literasi yang rendah ini menjadi alibi sekaligus penyebab rendahnya nilai UTBK itu. Dinas Pendidikan harus serius. Ini perlu diperhatikan.


