IKA PMII itu ibarat mantan aktivis yang sudah mapan—ada yang jadi pejabat, dosen, pengusaha, ustaz, pengacara, sampai petani sukses. Tapi ya begitu, kadang kalau ketemu cuma nostalgia zaman demo, bakar ban, dan debat di sekretariat sampai subuh. Padahal, dunia sudah berubah. Negara ini butuh lebih dari sekadar kenangan. Dia butuh aksi nyata.
Makanya, tulisan ini saya buat bukan buat nyindir (eh, iya juga sih dikit), tapi buat ngajak kita semua mikir: apa kabar IKA PMII NTB hari ini? Apa masih jadi tempat numpang foto saat mau nyalon? Atau sudah jadi wadah yang betul-betul menampung, menggerakkan, dan mengkolaborasikan kekuatan alumni?
Pertama: Penampung Alumni Bukan Cuma di Grup WhatsApp
Banyak alumni PMII NTB yang sukses. Tapi anehnya, kalau ditanya siapa saja alumni di Lombok Timur atau Bima yang sekarang jadi kepala dinas atau pengusaha sukses, jawabannya suka ngambang: “Kayaknya banyak deh, cuma nggak tahu persis.”
Nah lho.
Kalau cuma andalan grup WA, ya susah. Grup alumni isinya kadang cuma ucapan “Innalillahi” dan “Selamat Ulang Tahun” doang. Belum lagi hoaks dan debat siapa NU yang paling asli.
Kita butuh database, bukan basa-basi. Butuh peta kekuatan alumni, bukan cuma peta lokasi reunian. Siapa tahu ada alumni yang bisa bantu adik-adik kita dapat beasiswa, ada yang bisa buka peluang kerja, atau sekadar berbagi pengalaman hidup—nggak semua alumni lahir dari kemapanan, sahabat.
Kedua: Jadi Penggerak, Bukan Pemantau dari Balkon Kafe
Kalau PMII selama ini dikenal kritis dan vokal, ya mestinya IKA PMII juga punya napas yang sama. Bukan berarti harus demo terus, tapi minimal hadir dalam isu-isu rakyat. Jangan sampai alumni sibuk ngetik status “selamat hari tani”, tapi lupa kalau petani butuh akses pupuk murah, bukan puisi di Instagram.
IKA PMII bisa jadi penggerak literasi di desa, advokat hukum untuk masyarakat kecil, mentor bisnis buat UMKM, atau bikin pelatihan buat mahasiswa yang baru lulus biar nggak kaget sama dunia kerja yang kerasnya kayak sikut senior waktu rebutan mic di forum komisariat.
Ingat, alumni bukan cuma punya kewajiban menasihati. Tapi juga ngasih solusi. Jangan cuma bilang “Kalian harus jadi kader visioner,” tapi pas ditanya lowongan kerja, jawabnya: “Sabar, ini juga saya lagi cari kerja.”
Ketiga: Kolaborator Pembangunan, Jangan Cuma Kolaborasi di Panggung Seminar
Kolaborasi itu bukan cuma foto bareng setelah tanda tangan MoU. Kolaborasi itu turun ke lapangan, ngopi sama UMKM, bantu branding produk mereka, kasih pelatihan, atau ngasih modal (kalau punya).
IKA PMII bisa kerja sama dengan banyak pihak: kampus, BUMDes, bank syariah, sampai startup anak muda NTB. Jangan cuma sibuk ngatur seminar tentang “peran strategis alumni dalam pembangunan bangsa” tapi output-nya cuma spanduk dan sertifikat digital.
Yang lebih keren lagi, kolaborasi lintas generasi. Senior jangan sok paling tahu, junior jangan sok paling update. Dunia ini cukup besar buat dihuni semua alumni, asal bisa saling belajar, bukan saling menggurui.
Empat Program Gagasan: Jalan Baru atau Jalan-Jalan Lagi?
Akhdiansyah, tokoh yang cukup dikenal di NTB, datang dengan empat program yang (semoga) bukan sekadar janji manis seperti waktu kampanye pemira zaman dulu.
- Graha Mahbub Junaidi: Sebuah gedung, tempat nongkrong yang sah, bukan lagi numpang di cafe. Tempat diskusi, pelatihan, dan ya, mungkin ngopi sambil debat receh. Nama Mahbub itu simbol intelektualitas dan adab. Bukan cuma nama buat cari anggaran hibah.
- Database Alumni: Sudah dibahas tadi. Ayo, ayo segera bikin. Jangan sampai alumni PMII NTB lebih gampang dicari di TikTok ketimbang di database resmi.
- Capacity Building: Kalau alumni punya skill tapi nggak dikembangkan, ya sayang. IKA bisa jadi tempat untuk sharing skill—dari digital marketing sampai manajemen organisasi. Jangan sampai IKA kalah sama komunitas freelance yang lebih solid.
- Pemberdayaan UMKM: Ini keren. UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita. Tapi jangan cuma difoto pas launching. Bantu mereka naik kelas. Bikin platform, bantu promosi, edukasi keuangan, dan pendampingan real.
IKA PMII NTB harus berani move on dari model organisasi nostalgia. Dunia hari ini butuh kerja kolaboratif, bukan kompetisi siapa paling senior. Butuh inovasi, bukan hanya pidato. Butuh aksi, bukan hanya reaksi.
Membangun arah baru IKA PMII bukan soal membuang masa lalu. Tapi meng-upgrade cara bergerak. Tetap dengan semangat ahlussunnah, tetap dengan roh kebangsaan, tapi lebih adaptif terhadap zaman.
Karena, jujur saja, yang dibutuhkan bangsa hari ini bukan alumni yang sibuk selfie pas Muswil, tapi alumni yang mau terjun dan gotong royong menyelesaikan persoalan rakyat.
Maka, mari kita rawat mimpi lama dengan cara yang baru. Karena IKA PMII bukan hanya untuk kita, tapi untuk mereka yang dulu kita bela, dan untuk mereka yang belum sempat bersuara.
Oleh: Rizki Handika Putra
(Otw Alumni karena belum 2 tahun selesai jadi pengurus menurut aturan organisasi)


