Seorang pelajar SMP di Kota Mataram harus kehilangan nyawa setelah menjadi korban pembacokan. Ia sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal dunia pada Selasa, 27 Oktober 2026. Di usia ketika seharusnya ia masih belajar, bermain, dan menata masa depan, hidupnya justru berakhir akibat kekerasan.
Peristiwa yang terjadi setelah rangkaian penyerangan di sekitar Jalan Udayana dan Jalan Sriwijaya pada Minggu dini hari, 25 Oktober 2026, bukan sekadar perkara kriminal. Ada keluarga yang kehilangan anaknya, ada masa depan yang terputus, dan ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apa yang sedang terjadi dengan kehidupan sosial anak-anak kita, dan sejauh mana pendidikan karakter hadir dalam kehidupan mereka?
Data yang Tidak Boleh Diabaikan
Polresta Mataram mencatat penurunan jumlah kasus yang ditangani, dari 984 kasus pada 2024 menjadi 827 kasus pada 2025. Namun, data UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Mataram menunjukkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat dari 98 kasus pada 2024 menjadi 119 kasus pada 2025. Sebanyak 81 kasus pada 2025 melibatkan anak sebagai korban.
Kedua data tersebut memiliki cakupan berbeda dan tidak bisa dibandingkan secara langsung. Namun, data kekerasan terhadap perempuan dan anak tetap menjadi peringatan bahwa perlindungan anak membutuhkan perhatian serius.
Pendidikan Karakter Tidak Cukup dengan Nasihat
Kekerasan remaja tidak bisa serta-merta disebut sebagai kegagalan pendidikan karakter. Namun, tragedi ini patut mendorong kita mengevaluasi bagaimana nilai kemanusiaan, tanggung jawab, pengendalian diri, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan benar-benar ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter bukan hanya urusan sekolah atau mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Ia juga dibentuk oleh keluarga, pergaulan, lingkungan masyarakat, dan keteladanan orang dewasa. Anak tidak cukup diberi tahu bahwa kekerasan itu salah; mereka perlu dibimbing untuk menghadapi konflik tanpa melukai orang lain.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hadir melalui imbauan setelah korban berjatuhan. Pemerintah Kota Mataram bersama kepolisian, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu mengevaluasi titik rawan, memperkuat pencegahan, membuka jalur pelaporan, serta memastikan pendampingan bagi remaja berjalan nyata.
Sekolah tidak boleh dibiarkan menanggung persoalan ini sendirian. Penanganan juga tidak boleh berhenti pada penangkapan pelaku. Penegakan hukum harus berjalan, hak korban harus diperhatikan, dan hak anak yang berhadapan dengan hukum tetap dihormati.
Jangan Menunggu Korban Berikutnya
Keberhasilan pemerintah bukan hanya diukur dari seberapa cepat aparat menangkap terduga pelaku, tetapi juga dari keseriusan mencegah kekerasan serupa terulang. Langkah pencegahan harus memiliki program yang jelas, pelaksanaan konsisten, dan evaluasi yang dapat diketahui masyarakat.
Kematian seorang pelajar tidak seharusnya berlalu sebagai berita sesaat. Ini adalah peringatan bahwa pendidikan karakter perlu hadir dalam tindakan, kebijakan, dan lingkungan sosial yang melindungi anak.
Jangan sampai kita baru sibuk membicarakan pendidikan karakter setelah seorang anak kehilangan nyawanya. Keselamatan anak harus dijaga sebelum tragedi terjadi, bukan sekadar disesali setelah semuanya terlambat.
Oleh: Fahrurrizal Umam | Inisiator Nalar Didik















