MATARAM — Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni panjang. Tidak pula dekorasi berlebihan.
Malam itu, meja-meja kayu yang biasanya dipenuhi pelanggan untuk menyeruput kopi, mengerjakan pekerjaan, atau sekadar berbincang, sedikit digeser ke pinggir. Ruang di tengah Kopityang berubah menjadi tempat berkumpul keluarga besar dan sejumlah pelanggan setia.
Mereka makan bersama, bercanda, berbagi cerita, lalu tertawa lepas.
Sederhana, tetapi terasa akrab.
Begitulah cara Kopityang merayakan perjalanan empat tahunnya.
Warung kopi yang berada di kawasan Cakranegara, Kota Mataram, itu genap berusia empat tahun pada September 2026. Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi para pendiri untuk mensyukuri perjalanan Kopityang sejak pertama kali dibuka pada pertengahan 2022.
Empat tahun mungkin bukan waktu yang panjang bagi sebuah usaha. Namun bagi Kopityang, ada cerita tentang persahabatan, kepercayaan, pelanggan, dan sebuah ruang yang perlahan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan banyak orang.
Berawal dari Tujuh Sekawan
Kopityang sejak awal bukanlah usaha yang dibangun seorang diri.
Ada tujuh orang yang sepakat berjalan bersama. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki satu gagasan sederhana: menghadirkan tempat nongkrong yang nyaman dan terbuka bagi siapa saja, terutama anak muda.
Tidak ada perencanaan bisnis yang terlalu rumit ketika Kopityang pertama kali dibangun.
Yang menjadi modal utama justru kepercayaan di antara tujuh orang tersebut.
“Kami saling percaya kemampuan masing-masing. Meski kami tidak memiliki target yang jelas terukur, intinya kami saling percaya satu sama lain,” ujar Bang Yos, salah satu pemilik Kopityang.
Kepercayaan itulah yang kemudian menjadi fondasi perjalanan Kopityang.
Dari tujuh orang yang memiliki gagasan sederhana, tempat itu perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Dari Senja hingga Malam, Cakranegara Punya Cerita
Kopityang berdiri di kawasan Cakranegara, salah satu kawasan yang lekat dengan denyut aktivitas Kota Mataram.
Lokasinya berada di tengah lingkungan yang mempertemukan keramaian pasar tradisional dengan bangunan-bangunan lama yang menjadi bagian dari wajah kawasan tersebut.
Pada siang hari, suasana Kopityang cenderung tenang.
Namun menjelang sore, suasananya berubah.
Satu per satu pelanggan mulai datang. Ada yang datang untuk bertemu teman, berdiskusi tentang bisnis, mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan pekerjaan kantor, hingga sekadar menikmati waktu luang sembari menyeruput kopi.
Pengunjungnya pun tidak datang dari satu kelompok saja.
Pegawai swasta, pelajar, pengusaha, profesional hingga kalangan birokrat bisa ditemukan duduk di tempat yang sama.
Tidak ada meja khusus berdasarkan latar belakang.
Semua menikmati ruang yang sama.
Dan di antara berbagai pilihan menu, kopi saring menjadi salah satu sajian yang paling sering dipesan.
Ketika Pelanggan Berubah Menjadi Keluarga
Empat tahun perjalanan membuat para pendiri Kopityang melihat keberhasilan usaha tidak semata-mata dari angka penjualan.
Ada sesuatu yang dianggap jauh lebih penting: hubungan dengan orang-orang yang datang.
Pelanggan yang awalnya hanya datang untuk membeli kopi, perlahan menjadi orang-orang yang dikenal. Dari sekadar tahu nama, kemudian saling menyapa, berbincang, hingga akhirnya menjadi bagian dari lingkaran pertemanan.
“Para pengunjung yang datang ke sini tidak datang sebagai pengunjung saja, tetapi menjadi keluarga,” kata Bang Yos.
Kalimat itu terasa nyata dalam perayaan Milad ke-4 Kopityang.
Malam itu, pelanggan lama duduk berdampingan dengan para pendiri. Tidak terlihat batas antara pemilik dan pengunjung.
Mereka berbincang seperti kawan yang sudah lama saling mengenal.
Bukan Sekadar Tempat Minum Kopi
Empat tahun setelah berdiri, Kopityang telah berkembang melampaui gagasan awal sebagai tempat nongkrong.
Ia menjadi ruang pertemuan.
Di sana, orang bisa bertemu kawan lama, menemukan relasi baru, membicarakan pekerjaan, berdiskusi tentang gagasan, atau sekadar menikmati sore tanpa harus terburu-buru.
Kekuatan Kopityang justru berada pada kesederhanaannya.
Tidak ada klaim menjadi tempat paling mewah. Tidak pula harus menjadi ruang eksklusif bagi kelompok tertentu.
Kopityang tumbuh dengan prinsip sederhana: siapa saja boleh datang.
Dari tujuh sekawan yang memulai perjalanan dengan modal saling percaya, Kopityang kini memiliki keluarga yang jauh lebih besar—orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang dan kemudian merasa memiliki kedekatan dengan tempat tersebut.
Empat Tahun dan Harapan untuk Terus Bertahan
Milad ke-4 Kopityang akhirnya bukan sekadar perayaan ulang tahun sebuah warung kopi.
Ia menjadi penanda perjalanan.
Empat tahun telah dilalui sejak pertengahan 2022. Banyak hal berubah, banyak orang datang dan pergi, tetapi satu hal tetap dipertahankan: Kopityang ingin menjadi tempat yang nyaman untuk semua.
Di tengah pertumbuhan berbagai kedai kopi dan ruang nongkrong di Kota Mataram, Kopityang memilih untuk menjaga identitasnya sendiri.
Tempat yang dibangun oleh tujuh sekawan itu ingin tetap menjadi ruang terbuka, tempat orang datang bukan hanya sebagai pelanggan, tetapi sebagai bagian dari keluarga.
Malam itu pun berakhir tanpa seremoni besar.
Hanya makan bersama, obrolan panjang, tawa dan kenangan empat tahun perjalanan.
Namun justru dari kesederhanaan itulah cerita Kopityang terasa.
Dari tujuh sekawan, untuk semua kalangan. Dari secangkir kopi, tumbuh banyak pertemuan.















