MATARAM, LOMBOK FOKUS – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., memberikan apresiasi mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto atas penegasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, mengenai pentingnya pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren). Ia menilai langkah pemerintah tersebut merupakan bentuk nyata hadirnya negara dalam memperkuat ekosistem pesantren dan memberdayakan jutaan santri di seluruh Indonesia. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu, 15 November 2025.
Penguatan Fondasi Moral dan Kebudayaan Bangsa
Prof. Masnun menilai bahwa pernyataan Menko PMK bukan hanya pengakuan atas kontribusi historis pesantren, tetapi juga momentum strategis untuk mempercepat transformasi pendidikan Islam nasional. Menurutnya, negara tengah mengokohkan kembali struktur pendidikan berbasis komunitas yang selama ratusan tahun menjadi jantung pembentukan karakter bangsa.
“Kami melihat keseriusan negara untuk kembali menengok sumber kekuatan bangsa: pesantren dan santri. Ketika negara memberikan dukungan struktural pada pesantren, maka yang diperkuat adalah sendi-sendi moral, keilmuan, dan kebudayaan,” jelasnya.
Ia menegaskan pesantren adalah institusi tertua yang terus melestarikan ilmu keislaman, budaya Nusantara, dan nilai kebangsaan. Karena itu, penguatan kelembagaan melalui Ditjen Pesantren dinilai sebagai langkah monumental.
Pesantren sebagai “Detak Jantung Bangsa”
Menko PMK Pratikno sebelumnya menegaskan bahwa pesantren adalah “detak jantung bangsa” yang melahirkan generasi pejuang serta penjaga nilai luhur Islam dan kebangsaan. Rektor UIN Mataram menilai pernyataan tersebut sangat relevan dengan kenyataan sosial Indonesia.
“Para kiai dan nyai adalah penjaga bara peradaban. Mereka mendidik tanpa mengenal waktu, menjadikan ilmu sebagai jalan hidup. Semangat hubbul wathan minal iman cinta tanah air bagian dari iman lahir dan tumbuh kuat dari kultur pesantren,” ungkap Prof. Masnun.
Menurutnya, kontribusi pesantren tidak hanya tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga terus hidup dalam praktik pendidikan yang mengedepankan kedisiplinan, akhlaq, dan kemanusiaan.
Potensi Besar: 42 Ribu Pesantren dan 12,5 Juta Santri
Merujuk data resmi Kementerian Agama, terdapat lebih dari 42 ribu pesantren dan sekitar 12,5 juta santri aktif di Indonesia. Prof. Masnun menilai angka tersebut mencerminkan potensi raksasa yang harus dikelola dengan baik sebagai modal sosial bangsa.
“Santri dan pesantren bukan entitas pinggiran. Mereka adalah pilar peradaban Nusantara. Negara hadir melalui Ditjen Pesantren memberikan ruang lebih luas bagi pesantren untuk tumbuh, berinovasi, dan menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya.
Ia menyebut bahwa selama ini banyak pesantren belum mendapatkan akses memadai terhadap fasilitas dasar, teknologi informasi, maupun sistem pendataan yang terpadu. Pembentukan Ditjen Pesantren diharapkan dapat menjadi solusi strategis untuk memperbaiki tata kelola pesantren di seluruh wilayah.
Keselamatan Santri Harus Jadi Prioritas
Terkait kondisi fisik pesantren yang masih beragam, Prof. Masnun sepakat dengan penekanan Menko PMK bahwa keselamatan santri adalah prioritas paling mendasar. Ia menyebut banyak pesantren masih berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, sanitasi, air bersih, dan fasilitas kesehatan.
“Menjaga nyawa adalah prinsip dasar maqashid syariah. Negara perlu memastikan standar keamanan, sanitasi, dan kesehatan bagi para santri di seluruh Indonesia,” terangnya.
Menurutnya, perhatian pada keselamatan santri tidak boleh bersifat insidental, tetapi harus menjadi program nasional yang terukur dan berkelanjutan.
Pembaruan Kurikulum untuk Menjawab Tantangan Zaman
Rektor UIN Mataram juga menyambut sinyal kuat dari Menko PMK terkait pentingnya modernisasi kurikulum pesantren. Transformasi pendidikan, menurutnya, adalah keniscayaan di era digital dan disrupsi teknologi.
“Santri harus kuat di kitab kuning, tetapi juga harus siap di dunia modern. Mereka tidak hanya membutuhkan ilmu agama, tetapi juga kemampuan adaptif agar mampu berdiri tegak di tengah perubahan. Istilah ‘santri punya kail, bukan hanya ikan’ sangat tepat menggambarkan arah transformasi ini,” jelasnya.
Ia mendorong integrasi keterampilan vokasional, literasi digital, sains dasar, teknologi, serta kewirausahaan ke dalam program pembelajaran pesantren tanpa menghilangkan karakter khas pesantren.
UIN Mataram Siap Berkolaborasi
Mengakhiri pernyataannya, Prof. Masnun menegaskan komitmen UIN Mataram untuk terlibat aktif dalam penguatan ekosistem pesantren, terutama di wilayah Indonesia Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Kami siap berkontribusi, mengintegrasikan kekuatan akademik kampus dengan kearifan pesantren. Kebangkitan pesantren adalah kebangkitan peradaban bangsa,” tutupnya.












