LombokFokus|Lingsar – Suasana pagi di Dusun Embungpas Barat, Desa Sigerongan, terasa berbeda, Kamis (27/11/2025). Bukan cuma angin yang semilir, tapi deretan tongkol jagung hasil panen menumpuk rapi di lahan kelola warga, persis di belakang SMPN 4 Lingsar.
Kapolsek Lingsar Iptu Herwin Jonathan Nababan, S.Tr.K., tampak turun langsung bersama personel, ikut memanen jagung di lahan milik Pemdes Desa Sigerongan yang dikelola H. Idrus, tokoh masyarakat setempat. Total hasilnya? 2,5 ton jagung berkualitas, dengan kadar air 18 persen. Jagung varietas Bisi 2 itu bahkan laris terjual mandiri ke Sdr. Irfan. Lahan seluas 27 are (2.700 m²) tersebut terbukti produktif dan jadi contoh kolaborasi apik antara desa dan warganya.
“Panen ini bukan cuma soal jagung. Tapi tentang gotong royong, ketahanan pangan, dan kebersamaan. Polisi hadir bukan cuma jaga keamanan, tapi juga jadi bagian dari ekosistem yang menumbuhkan desa,” ujar Iptu Herwin dengan nada hangat.
Namun pagi Polsek Lingsar belum selesai di ladang. Di Kantor Desa Giri Madia, meja kayu panjang jadi saksi mediasi sengketa tanah, antara Muhammad Zaenudin dan Jalime. Polemik yang bermula dari kesepakatan tanpa surat pada 2015 itu akhirnya menemui titik terang.
Meski pihak pertama mengaku membeli tanah kebun seluas 60 are, seharga Rp 13 juta dengan sistem cicilan sejak 2015, ia tak mampu menunjukkan bukti jual beli. Pihak kedua menegaskan tanah itu hanya digadaikan, bukan dijual.
Solusi damai pun disodorkan oleh Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Kepala Desa Samiudin. Dengan inisiatif pihak kedua mengembalikan Rp 20 juta, keduanya resmi sepakat berdamai, hak kelola tanah dikembalikan ke pemilik sah, dan sengketa 10 tahun itu tuntas tanpa babak baru.
“Kami mengedepankan musyawarah, logika hukum, dan rasa kekeluargaan. Yang penting hari ini dua belah pihak tidak pulang dengan luka hati,” tegas Herwin.
Masih di hari yang sama, Polsek Lingsar juga mengawal penyaluran BLTS KESRA 2025 di Aula Kantor Desa Batu Mekar. Ribuan warga dari 3 desa – Batu Mekar, Batu Kumbung, dan Karang Bayan terlihat antre rapi, dengan ekspresi yang jauh dari tegang.
Ada 1.514 orang penerima BLTS, masing-masing mendapatkan Rp 900 ribu untuk 3 bulan (Oktober, November, Desember 2025). Rinciannya, Desa Batu Mekar 818 orang, Desa Batu Kumbung 353 orang, dan Desa Karang Bayan 343 orang.
Bantuan itu dibagikan oleh 3 petugas dari Kantor Pos Mataram, dengan pengamanan Aipda Ida Bagus Sugandi dan Babinsa Serma Deni Suherman, diback-up personel Polsek Lingsar.
“Keramaian boleh, tapi keamanan harus nomor satu. Alhamdulillah, hari ini semua berjalan tertib dan nyaman. Uang sampai ke tangan yang berhak tanpa gangguan,” kata Herwin.
Sore harinya, Bripka Muhammad Sapwan, Bhabinkamtibmas Desa Gegelang, juga melaksanakan Door to Door System (DDS), memantau perbaikan talud oleh Pemdes Gegelang, menyambangi warga yang mengangkat batu untuk perbaikan turap sungai, sampai mengecek debit air Sungai Gegelang–Nunjet imbas hujan lebat 2 hari terakhir.
Pesan kewaspadaan terhadap 3C (Curas, Curat, Curanmor) pun tak lupa diselipkan di setiap dialog.
“Banjir bisa merusak talud, tapi jangan sampai merusak rasa aman. Warga kami imbau untuk selalu waspada, polisi insyaAllah siap respons cepat,” tutup Herwin.
Panen jagung, mediasi tanah, hingga pengamanan BLTS yang melibatkan ribuan penerima – semua dirangkum dalam satu hari maraton Polsek Lingsar. Tapi justru dari ritme cepat itu, terselip pesan jelas hadirnya polisi di sawah, di kantor desa, dan di sungai, untuk menjaga sekaligus menumbuhkan Lingsar yang damai dan produktif.(djr)












