PRAYA- Penguatan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi kesehatan dari PKBI di aula Dikes Loteng, kemarin.
PKBI dorong Aplikasi Layanan Kesehatan sebagai kontribusi menekan AKI/AKB dan pencegahan Stunting
PRAYA—Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah NTB bersama Oxfam di Indonesia melalui program Power Up menggagas aplikasi layanan kesehatan untuk mendekatkan akses inforormasi dan mendorong partisipasi dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak. Pemanfaatan aplikasi ini sudah diuji coba dan mendapat respon sangat positif bagi ibu hamil hingga tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesadaran tentang risiko kehamilan dam persalinan. Untuk pencapaian yang maksimal, PKBI mengokohkan kolaborasi bersama Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah. Sebagai tindaklanjutnya, tahun lalu PKBI melakukan uji coba kepada tiga UPTD Puskesmas. UPTD Puskesmas Pringgarata, Bagu dan UPTD Pengadang. “Sebagai tindaklanjut kemitraan ini, kita undang rekan-rekan Kepala UPTD Puskesmas se-Loteng mengikuti workshop penguatan pengembangan TIK kesehatan ini,” aku Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dikes Loteng, Kusriandi kepada Radar Mandalika, kemarin.
Diakui Kusriandi, kerjasama PKBI melalui project Power Up ini menginisiasi terbentuknya sebuah aplikasi layanan kesehatan dalam rangka membantu penurunan angka kematian ibu dan anak. Dimana, aplikasi ini berupa pesan suara. Aplikasi tersebut katanya, digunakan untuk membantu mendekatkan dan percepat akses informasi kesehatan kepada masyarakat. Terutama terkait 26 tanda bahaya kehamilan dan persalinan itu. Melalui workshop ini juga, diinformasikan kepada Puskesmas agar mensosialisasikannya kepada masyarakat di wilayah masing-masing. Terutama bagi Kader-kader Posyandu yang ada di masing-masing desa binaan. “penggunaan aplikasi ini mudah, tinggal menekan tombol 0078033212166 (Miscall) di handphone, setelah itu terputus otomatis, dan akan ada telpon balik dari sistem yang berisikan informasi pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Dengan adanya layanan berbasis TIK ini lanjutnya, penyampaian informasi kepada perempuan dan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan dan persalinan bisa lebih mudah disampaikan. Sehingga mereka terdorong untuk datang memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan (Faskes). Begitu juga, pihaknya dengan mudah bisa mendeteksi dini resiko bahaya bagi ibu hamil diusia kehamilannya. Sehingga proses persalinannya berjalan dengan lancar. Program seperti ini diakuinya untuk menekan angka kematian ibu dan anak. “Program ini bagus, ke depan mungkin bisa menyasar semua Puskesmas,” sebutnya.
Ia juga menjelaskan, kemungkinan ke depan Dikes melanjutkan program ini. Namun sebelum itu, mengenai program strategis lainnya yang berkaitan dengan penurunan angka kematian ibu dan anak, ia berharap agar Puskesmas menjalin koordinasi dan komunikasi intens dengan desa. “Ada banyak program di bidang kesehatan dari desa sekarang. Tinggal intens komunikasi aja,” ujarnya.
Sementara Project Manager Power Up PKBI NTB, Stefani Rahardini menjelaskan program layanan informasi kesehatan berbasis TIK ini hadir untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang selama ini adanya keterbatasan akses, penyebaran SDM, meningkatnya kebutuhan pelayanan dan lainnya. Terlebih, pemahaman masyarakat masih sempit mengenai pelayanan kesehatan di lingkungannya. Apalagi akses untuk layanan statis belum ada. Termasuk juga belum terbukanya layanan kesehatan berbasis edukasi dan informasi. Hal ini mengindikasikan lemahnya pemahaman dan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kebutuhan kesehatan. Sehingga tantangan pelayanan kesehatan menyangkut kualitas internal pelayanan seperti tenaga kesehatan, fasilitasnya, akses dan lainnya terjadi. “Oleh karena itu dalam hal ini kami dari PKBI NTB melalui project Power Up telah mengembangan model integrasi untuk mendekatkan akses layanan kesehatan berupa edukasi” tuturnya.
Selain itu tambahnya, melalui project Power Up ini pihaknya juga memberikan informasi mengenai kebutuhan pelayanan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi. Pesan suara yang berisikan 26 tanda bahaya kehamilan dan persalinan itu katanya, sebagai media edukasi masyarakat guna mendorong kesadaran akan kebutuhan layanan kesehatan. Sehingga melalui pendekatan keterbukaan informasi akan meningkatkan rasa kepercayaan antara penyedia layananan kesehatan dan masyarakat. Upaya ini telah dilaksanakan dengan melibatkan banyak pihak antara lain, tenaga kesehatan hingga kader kesehatan di desa. “Dalam uji coba pemanfaatan aplikasi teknologi kesehatan ini kita dapat menyimpulkan bahwa masyarakat memberikan respons baik, terlepas ada kendala dan tantangan yang dihadapi dari sisi jaringan,” ungkapnya. (tar)


