LombokFokus|Mataram – Museum NTB mendadak penuh cerita dan tawa, Minggu (26/4/2026), saat ratusan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berkumpul dalam agenda Ngopi Alumni UMY. Suasana santai berubah makin hangat, ketika Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal hadir dan langsung membaur bersama peserta lintas angkatan.
Tak tampak sekat protokoler dalam pertemuan itu. Iqbal memilih duduk santai di tengah alumni, menyeruput kopi sambil berbincang ringan. Sesekali canda pecah layaknya reuni kampus biasa, membuat banyak peserta larut dalam nostalgia masa kuliah.
Salah seorang alumni, Rian, mengaku tersentuh melihat sosok gubernur tetap tampil sederhana di tengah keluarga besar kampusnya.
“Kami merasa tidak ada jarak. Beliau benar-benar hadir sebagai bagian dari keluarga besar UMY, bukan sebagai pejabat. Beliau sangat bersahaja, kami bangga,” ujarnya.
Nuansa akrab makin terasa ketika meja-meja kopi berubah jadi ruang silaturahmi. Obrolan ringan, diskusi masa depan, sampai cerita lama semasa mahasiswa mengalir begitu cair. Momen ini memberi kesan mendalam bagi para alumni lintas generasi.
Ketua KAUMY NTB Arief Rachman menilai, pertemuan semacam ini punya energi besar untuk mengikat kembali solidaritas alumni. Menurutnya, komunikasi yang cair membuat hubungan makin erat sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas.
“Ini bukan sekadar reuni, tapi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan. Ketika tidak ada sekat, komunikasi menjadi lebih terbuka dan ide-ide pun lebih mudah lahir,” jelasnya.
Arief menambahkan, agenda ngopi alumni juga menjadi ruang strategis memperkuat jejaring dalam mendukung pembangunan bangsa, termasuk pembangunan daerah. Semangat kebersamaan alumni, kata dia, diharapkan ikut mendorong terwujudnya visi NTB Makmur Mendunia.
“Tentu melalui momentum ini kita semua menguatakan komitmen untuk mendukung pembangunan bangsa dan negara serta daerah,” tegasnya.
Mengusung tema Kangen, Tidak Selesai di Wirobrajan, kegiatan ini berjalan lancar dengan nuansa penuh kekeluargaan. Kebersamaan antara alumni dan Gubernur NTB jadi potret kecil jika kesederhanaan, kedekatan, serta komunikasi tanpa jarak masih menjadi kunci lahirnya kolaborasi besar.(red)









