Seri Fiqih: Talak lewat telepon dan Pesan Singkat
————————
Pertanyaan:
Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Ampure tuan guru
Bagaimana hukumnya talak via telepon, atau lewat pesan singkat
mengingat seringnya terjadi di tengah kalangan masyarakat
bagaimana menyikapinya
Jazakallah khairan tuan guru
Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
(Rifa’i Hamdi)
————————-
Jawaban:
Wa’alaikumussalam wr wb
Ini adalah dua masalah yang berbeda jawabannya:
Pertama: Talak via telepon atau video call
Maka talaknya jatuh, jika sudah dipastikan bahwa yang bicara di telepon atau video call tersebut adalah suaminya. Karena talak itu terhitung jatuh dengan lafaz talak, sekalipun tidak di hadapan istri, atau mewakilkan orang lain untuk menyampaikan lafaz talak ke istri.
Referensi:
– Al-Muhadzdzab, 1/380:
وَيَجُوزُ التَّوْكِيلُ فِي عَقْدِ النِّكَاحِ لِمَا رَوَي أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَكَّلَ عَمْرَو بْنَ أُمَيَّةَ الضَّمْرِيِّ فِي نِكَاحِ أُمِّ حَبِيبَةَ وَيَجُوزُ فِي الطَّلَاقِ وَالْخُلْعِ وَالْعِتَاقِ لِاَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إِلَى التَّوْكِيلِ فِيهِ كَمَا تَدْعُو إِلَى التَّوْكِيلِ فِي الْبَيْعِ وَالنِّكَاحِ
“Boleh untuk mewakilkan dalam akad nikah karena ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah mewakilkan kepada Amr Ibn Ummayah Adl-Dlamri dalam pernikahan beliau dengan Ummu Habibah. (Begitu juga) boleh mewakilkan dalam mentalak, khulu`, dan membebaskan budak karena adanya kebutuhan untuk mewakilkan sebagaimana kebutuhan mewakilkan dalam akad jual-beli dan nikah,”
Masalah kedua, Talak lewat pesan singkat, WA atau apapun yg berbentuk tulisan, maka ada beberapa kemungkinan:
1. Apabila si suami ketika menulis atau setelahnya melafazkannya kalimat talak yang ditulisnya maka talaknya jatuh
2. Apabila tidak pernah dilafazkan, maka tulisannya itu termasuk talak kinayah. Artinya, jika diniatkan talak maka jatuh, tapi jika tidak niat talak maka tidak jatuh.
Referensi:
– Asna alMathoolib III/277 :
فَصْلٌ كَتْبُ الطَّلَاقِ وَلَوْ صَرِيحًا كِنَايَةٌ وَلَوْ من الْأَخْرَسِ فَإِنْ نَوَى بِهِ الطَّلَاقَ وَقَعَ وَإِلَّا فَلَا
Fasal, tulisan talak sekalipun shorih adalah kinayah, maka jika diniatkan talak jatuh talak, jika tidak maka tidak jatuh.
– Hasyiyah Al-Jamal, 4/332-333:
( فَرْعٌ ) كَتَبَ أَنْتِ أَوْ زَوْجَتِيْ طَالِقٌ وَنَوَى الطَّلَاقَ طَلُقَتْ ، وَإِنْ لَمْ يَصِلْ كِتَابُهُ إلَيْهَا ؛ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ طَرِيْقٌ فِيْ إِفْهَامِ الْمُرَادِ كَالْعِبَارَةِ وَقَدْ قُرِنَتْ بِالنِّيَّةِ ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَمْ تَطْلُقْ ؛ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ تَحْتَمِلُ النَّسْخَ وَالْحِكَايَةَ وَتَجْرِبَةَ الْقَلَمِ وَالْمِدَادِ وَغَيْرِهَا
Tulisan “kamu…” atau “istriku tertalak” dan diniatkan talak maka jatuh talak, sekalipun tulisan itu tidak sampai kepada istrinya, karena tulisan adalah salah satu jalan untuk memberi pemahaman apa yang diinginkan dan itu sudah disertakan niat. Jika tidak diniatkan talak maka tidak jatuh talak, karena sekedar tulisan memiliki kemungkinan menyadur, cerita, coba pena atau tinta dsb.
Sumber :
TGH. Masriadi Faesal


