Lombok Barat – Inovasi pengelolaan limbah pertanian membawa angin segar bagi warga Dusun Pesantek, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berkat program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram, limbah kulit pisang yang sebelumnya dibuang sembarangan kini berhasil diolah menjadi kompos padat dan pupuk organik cair (POC).
Kegiatan ini berlangsung dalam rangka mengatasi penumpukan limbah organik rumah tangga dan pertanian, yang selama ini kerap menjadi sumber pencemaran dan gangguan kesehatan lingkungan.
Dengan mayoritas penduduk Desa Pakuan bekerja sebagai petani dan pelaku UMKM pengolah keripik pisang, produksi limbah organik di desa ini cukup besar, khususnya dari komoditas pisang. Sayangnya, pengelolaan limbah belum optimal sehingga memerlukan pendekatan berbasis edukasi dan teknologi tepat guna.
Sebagai ketua program, Dr. Guyup Mahardhian Dwi Putra, M.Si, memimpin langsung kegiatan yang menyasar peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah limbah pertanian menjadi produk ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami ingin mendorong masyarakat, terutama ibu rumah tangga, petani, dan UMKM, agar tidak lagi melihat limbah sebagai sampah, tetapi sebagai sumber daya baru yang bermanfaat dan menguntungkan,” jelas Dr. Guyup.
Praktik Langsung dan Antusiasme Warga
Dengan pendekatan partisipatif dan metode “learning by doing”, sebanyak 20 peserta aktif mengikuti serangkaian kegiatan mulai dari penyuluhan hingga praktik langsung pembuatan kompos dan pupuk cair berbahan dasar kulit pisang, EM4, dan molase.
Gagassage Nanaluih De Side, ST., MT, salah satu tim pengabdian, menjelaskan bahwa fokus pada limbah kulit pisang dipilih karena limbah ini menjadi salah satu penyumbang sampah terbanyak di Desa Pakuan, khususnya dari aktivitas UMKM keripik pisang.
“Pengolahan limbah kulit pisang secara mandiri bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga langkah awal menuju kemandirian pupuk dan pengurangan limbah rumah tangga,” ujarnya.
Dampak Positif dan Inisiatif Kolektif
Hasil pelatihan menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan evaluasi, 90% peserta telah mampu memproduksi pupuk organik sendiri di rumah. Lebih dari itu, program ini juga berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif warga untuk mengumpulkan dan memanfaatkan limbah organik secara berkelompok.
UMKM keripik pisang, yang sebelumnya membuang sisa kulit begitu saja, kini memanfaatkannya untuk membuat kompos yang digunakan dalam budidaya tanaman pekarangan.
Program ini juga mengurangi ketergantungan warga terhadap pupuk kimia serta membuka peluang usaha baru berbasis lingkungan. Ke depannya, kompos dan pupuk organik ini berpotensi dipasarkan sebagai produk lokal ramah lingkungan.
Mendukung SDGs dan Replikasi di Wilayah Lain
Selain memberikan manfaat langsung bagi warga, program ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada:
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim
- SDG 15: Ekosistem Daratan
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Program ini juga didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram, sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan wujud nyata kolaborasi akademisi dengan masyarakat desa.
Penulis: Dr. Guyup Mahardhian Dwi Putra
Dosen Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram


