MATARAM – Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Empat Guru Besar, Rabu (7/1/2026), bertempat di Auditorium UIN Mataram. Agenda akademik ini menandai pengukuhan Guru Besar UIN Mataram ke-66, 67, 68, dan 69.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas pengukuhan empat profesor yang disebutnya sebagai “kado awal tahun” bagi UIN Mataram. Ia menegaskan, pengukuhan guru besar menjadi penopang utama dalam penguatan tradisi akademik dan upaya mewujudkan kampus unggul.
“Pengukuhan ini bukan hanya capaian personal, tetapi perayaan kolektif bersama keluarga dan seluruh civitas akademika UIN Mataram dalam membangun kemajuan kampus tercinta,” ujar Prof. Masnun.
Rektor juga mendorong agar pengukuhan guru besar terus berlanjut ke depan sebagai bagian dari konsistensi pengembangan keilmuan, riset, dan kontribusi nyata UIN Mataram bagi masyarakat.
Adapun empat guru besar yang dikukuhkan yakni:
- Prof. Dr. H. Sainun, M.Ag, Guru Besar Kepakaran Antropologi Hukum Islam;
- Prof. Dr. H. Fathurrahman Muhtar, S.S., M.Ag, Guru Besar Kepakaran Pendidikan Agama Islam Kontemporer;
- Prof. Dr. H. Muhammad Taufiq, Lc., M.H.I, Guru Besar Kepakaran Ilmu Tafsir;
- Prof. Dr. H. Subki, M.Pd.I, Guru Besar Kepakaran Manajemen Pendidikan Islam.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Hukum Islam dalam Gerak Sosial: Dari Norma Kitab ke Tradisi Masyarakat”, Prof. Sainun mengajak para akademisi membaca hukum Islam sebagai living law yang hidup dan diwarisi umat. Menurutnya, pendekatan antropologi hukum Islam menjadi perangkat penting untuk melihat hukum Islam sebagai praktik sosial agar tetap relevan dengan realitas kontemporer.
Ia menilai Indonesia sebagai laboratorium sosial yang sangat menarik untuk dikaji karena kekayaan praktik hukum Islam yang hidup dalam keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat.
Orasi ilmiah kedua disampaikan oleh Prof. Dr. H. Fathurrahman Muhtar, S.S., M.Ag, yang menyoroti Pendidikan Agama Islam (PAI) Kontemporer sebagai ruang koneksi antara keilmuan keislaman dengan sains dan teknologi. Melalui pendekatan tersebut, PAI dinilai mampu menjangkau berbagai lini penalaran dan tantangan zaman.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Muhammad Taufiq, Lc., M.H.I, dalam orasi berjudul “Menimbang Ulang Tauhid Wahabi: Telaah Kritis atas Tafsir Tauhid Muhammad bin Sholeh Al-Husaimi”, menyampaikan kajian kritis terhadap pemahaman tauhid melalui perspektif tafsir yang kontekstual dan akademis.
Kesempatan berikutnya, Prof. Dr. H. Subki, M.Pd.I, memberikan sorotan terhadap isu perubahan iklim global yang berdampak langsung pada kehidupan manusia. Mengutip Surah Ar-Rum ayat 41, Prof. Subki menegaskan bahwa kerusakan lingkungan merupakan akibat dari ulah manusia dan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk perguruan tinggi.
Hal tersebut tertuang dalam pidato ilmiahnya berjudul “Analisis Keberlanjutan Manajemen Kampus Hijau dengan Pendekatan Bibliometrik”, yang menekankan pentingnya peran kampus dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sidang senat terbuka ini berlangsung khidmat dan penuh haru. Para hadirin tampak larut dalam kisah perjuangan akademik keempat guru besar. Isak tangis, doa, dan senyum kebanggaan menyertai rangkaian orasi ilmiah, menandai tonggak penting perjalanan akademik UIN Mataram menuju kampus unggul dan berdaya saing global.












