Scroll untuk baca artikel
Berita

Kantor Gubernur NTB Diselimuti Kain Kapan, Pemuda-Mahasiswa Tolak Sewa Mobil Listrik Rp 14 Miliar

×

Kantor Gubernur NTB Diselimuti Kain Kapan, Pemuda-Mahasiswa Tolak Sewa Mobil Listrik Rp 14 Miliar

Share this article

LOMBOK FOKUS — Kantor Gubernur NTB siang tadi diselimuti kain kapan raksasa. Bukan untuk prosesi adat, melainkan simbol “kematian nurani anggaran” oleh Pemuda Mahasiswa Sasak Samawa Mbojo yang menggelar aksi bentang spanduk menolak proyek sewa mobil listrik senilai Rp 14 Miliar dalam APBD NTB 2025.

Aksi yang berlangsung pada Rabu, 3 Desember 2025, itu mencuri perhatian publik. Ratusan meter kain putih dibentangkan tepat di depan kantor gubernur sebagai penegasan bahwa kebijakan sewa kendaraan listrik tersebut dianggap sebagai pemborosan yang “mengubur kepentingan rakyat”.

IKLAN
Example 120x600

Koordinator aksi, Saidin, menilai narasi efisiensi yang digaungkan Pemprov NTB tidak masuk akal dan justru menyesatkan.

“14 M beli jadi aset, sewa jadi abu,”
demikian tulisan mencolok di spanduk utama yang dibentangkan massa.

Dalam orasinya, Saidin menyebut bahwa skema sewa membuat uang rakyat Rp 14 Miliar “hangus tanpa jejak”.

“Jika membeli, daerah punya aset. Kalau sewa, uang Rp 14 Miliar itu terbakar begitu saja memperkaya vendor, sementara Pemprov tidak punya apa-apa setelah kontrak habis. Ini logika anggaran yang cacat,” tegasnya.

Ia menyebut langkah Pemprov sebagai bentuk kemalasan birokrasi dalam mengelola aset, alih-alih memperbaiki manajemen kendaraan dinas yang sudah semrawut.

Aksi tersebut juga menyoroti moralitas kebijakan, terutama di tengah kondisi masyarakat NTB yang masih bergelut dengan berbagai persoalan dasar.

Fidar Khairul Diaz, selaku koordinator umum aksi, menegaskan bahwa kebijakan ini menunjukkan kurangnya empati pemerintah daerah.

“Di saat rakyat di Bima, Dompu, Sumbawa, dan Lombok masih teriak soal irigasi, jalan rusak, sekolah reyot, pejabatnya malah sibuk ingin wara-wiri pakai mobil listrik sewaan. Ini melukai hati rakyat,” ujarnya.

Ia menilai alasan lingkungan yang dijadikan pembenar hanya sebatas gimik, sebab pasokan listrik NTB masih bertumpu pada PLTU batubara.

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Pemuda Mahasiswa Sasak Samawa Mbojo mengajukan tiga tuntutan utama:

  1. Membatalkan rencana sewa mobil listrik Rp 14 Miliar dan mencoret anggarannya dari APBD.
  2. Mengalihkan anggaran ke sektor produktif yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur pertanian.
  3. Menggelar audit total terhadap tata kelola aset kendaraan dinas dan biaya pemeliharaannya.

Massa juga memperingatkan bahwa aksi ini bukan yang terakhir.

“Kami akan kembali dengan jumlah yang lebih besar bila anggaran ini tetap dipaksakan. Jangan main-main dengan uang rakyat. Kami akan kawal APBD sampai rupiah terakhir,” tutup Saidin.

Aksi kain kapan di depan Kantor Gubernur NTB hari ini menjadi sinyal kuat bahwa publik sedang mengawasi kebijakan anggaran secara ketat. Pemerintah pun dituntut memberi penjelasan terbuka: apakah proyek ini benar-benar untuk efisiensi atau justru menjadi catatan baru pemborosan uang rakyat.

Example 120x600
Example 120x600
Ahmad Amrullah Desak Polisi dan BGN Bongkar Tuntas Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG di Lombok Timur LOMBOK TIMUR – Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lombok Timur yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Timur, Ahmad Amrullah, mendesak aparat penegak hukum bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengusut tuntas kasus dugaan penipuan dan praktik jual beli titik lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Lombok Timur. Menurut Ahmad Amrullah, penanganan perkara tersebut tidak boleh berhenti pada satu atau dua orang yang diduga terlibat. Ia meminta penyidik membongkar seluruh jaringan yang diduga berperan dalam praktik tersebut, mulai dari pihak yang merekrut korban, penghubung, penerima aliran dana hingga aktor intelektual yang berada di balik dugaan penipuan tersebut. “Kami mendesak Polres Lombok Timur, Polda NTB, dan Badan Gizi Nasional untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Jangan berhenti pada pelaku lapangan. Siapa pun yang terlibat harus diungkap. Jika memang ada jaringan yang bekerja secara terorganisir, maka seluruh rantainya harus dibongkar dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Ahmad Amrullah, Selasa (2/6/2026). Ia menilai munculnya praktik jual beli titik dapur MBG dengan nilai transaksi yang fantastis menunjukkan adanya celah yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk meraup keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan program pemerintah. “Yang menjadi perhatian serius adalah adanya masyarakat yang dirugikan hingga ratusan juta rupiah. Ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Ketika ada pihak yang menjual pengaruh, menjanjikan akses, atau mengklaim memiliki kedekatan dengan pejabat tertentu untuk memperoleh keuntungan, maka itu merupakan bentuk penyesatan yang harus ditindak tegas,” ujarnya. Ahmad juga menyoroti pernyataan BGN yang mengindikasikan adanya dugaan keterlibatan kelompok atau jaringan terstruktur dalam praktik penjualan titik SPPG yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk Lombok Timur. “Kalau memang ada indikasi keterlibatan kelompok yang terorganisir, maka aparat harus bergerak lebih jauh. Telusuri aliran dananya, telusuri komunikasinya, telusuri siapa yang merekrut korban dan siapa yang menikmati hasil dari praktik tersebut. Publik berhak mengetahui siapa saja yang bermain di belakang kasus ini,” katanya. Menurutnya, perkara tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materiil bagi para korban, tetapi juga mencoreng citra Kabupaten Lombok Timur di tingkat nasional. “Kasus ini telah menjadi perhatian publik nasional dan tentu mencoreng nama Kabupaten Lombok Timur. Kita tidak ingin daerah ini dikenal karena praktik-praktik penipuan yang memanfaatkan program pemerintah. Oleh karena itu, pengungkapan kasus ini harus dilakukan secara transparan dan menyeluruh agar tidak menimbulkan spekulasi maupun kecurigaan yang berkepanjangan di tengah masyarakat,” ujarnya. Sebagai pimpinan Komisi IV DPRD Lombok Timur, Ahmad menegaskan pentingnya evaluasi terhadap sistem pengawasan dan mekanisme pelaksanaan program pemerintah yang melibatkan masyarakat luas. “Kasus ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh. Jangan sampai ada ruang yang memungkinkan oknum tertentu menjual harapan kepada masyarakat dengan iming-iming akses terhadap program pemerintah. Semua proses harus transparan, memiliki mekanisme yang jelas, dan dapat diawasi oleh publik,” katanya. Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mengaku memiliki kedekatan dengan pejabat atau institusi tertentu dan menawarkan kemudahan memperoleh proyek, bantuan, maupun akses program pemerintah dengan imbalan sejumlah uang. “Masyarakat harus berhati-hati. Jangan mudah percaya kepada siapa pun yang menjanjikan sesuatu di luar prosedur resmi. Tidak boleh ada pihak yang menjadikan proses pengajuan, verifikasi, maupun pelaksanaan program pemerintah sebagai komoditas yang diperjualbelikan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu,” tegasnya. Ahmad menegaskan bahwa yang paling penting saat ini adalah memastikan seluruh pihak yang terlibat dapat diungkap secara transparan sehingga masyarakat memperoleh keadilan dan kepastian hukum. “Kami mendukung langkah penegakan hukum yang sedang berjalan. Namun yang dibutuhkan publik adalah keberanian untuk membongkar kasus ini sampai ke akar-akarnya. Ungkap seluruh jaringan yang terlibat, buka seterang-terangnya kepada masyarakat, dan pastikan praktik serupa tidak kembali terjadi di Lombok Timur maupun daerah lain,” pungkasnya. Dugaan Penipuan Rp950 Juta per Titik Sebelumnya, Badan Gizi Nasional bersama Polres Lombok Timur tengah menangani dugaan penipuan terkait jual beli titik lokasi SPPG di Kabupaten Lombok Timur. Dalam kasus tersebut, satu titik lokasi dapur MBG diduga diperjualbelikan dengan nilai mencapai Rp950 juta. Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menyebut kasus itu bermula dari laporan masyarakat yang menjadi korban penyalahgunaan proses verifikasi program MBG. Modus yang digunakan yakni mengaku memiliki relasi dengan pejabat atau orang dalam BGN serta menunjukkan bukti kedekatan untuk meyakinkan korban. Polres Lombok Timur menerima laporan masyarakat sejak 16 Februari 2026 dan meningkatkan status perkara ke tahap penyelidikan pada 21 Mei 2026. Terlapor berinisial S diduga menjanjikan titik lokasi dapur MBG beserta fasilitas yang diklaim akan segera beroperasi. Kasus serupa sebelumnya juga terungkap di Batam dan Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelusuran, BGN mengindikasikan adanya praktik yang dilakukan secara terorganisir. Dugaan keterlibatan kelompok atau jaringan tertentu saat ini masih didalami bersama aparat penegak hukum guna mengungkap seluruh pihak yang terlibat.
Berita

LOMBOK TIMUR – Sekretaris…