Scroll untuk baca artikel

Refleksi atas Pendahuluan dan Prawacana di Buku Pendidikan Kaum Tertindas

×

Refleksi atas Pendahuluan dan Prawacana di Buku Pendidikan Kaum Tertindas

Share this article
ilustrasi guru. Foto : kimberlybrown22.wordpress.com

Lombok Fokus – Saat ini , masyarakat Indonesia sedang menentukan apakah mereka akan berhasil. Pengaruh ide-ide Paulo Freire pada pendidikan dan seterusnya sangat besar. Merangsang pikiran mereka yang ingin benar-benar terlibat dalam mewujudkan cita-cita memajukan kesejahteraan bersama, mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun tatanan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial. Dalam pendidikan modern, guru bertindak seperti pengganggu. Mahasiswa juga secara sadar menempatkan diri sebagai tertindas. Semua ini tidak terlepas dari siklus penyimpangan yang dimulai sejak awal, dan yang tampaknya tak terelakkan, yang dulu tertindas akan menjadi penindas, bukan untuk mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi untuk mempertahankannya.

 

IKLAN
Example 120x600

Di angkat dari pengalaman peribadi , seorang penindas yang merasa dirinya benar walau belum memeriksa kebenarannya , hingga menyalahkan seorang yang merasa dirinya sedang tertindas, seorang yang tertindas tidak akan langsung membuka suara , di karenakan kedudukannya yang lebih rendah dari penindasnya . Dalam proses pembelajaran, siswa hanyalah objek , menuntut siswa untuk mengikuti cara berpikir guru, daripada memberi siswa kesempatan untuk berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang ada .

Kesadaran akan penindasan yang dialami seseorang yang tertindas sebenarnya sangatlah di rasakan , namun kedudukan seorang penindas sering kali di sebut lebih tinggi dari yang tertindas . hal itu membuat pertanyaan kembali akan kesadaran yang di rasakan oleh seorang yang tertindas. Namun akankas kesadaran itu penting , jika kesadaran dari penindas sendiri tidak lah ada . pada masa kini seorang guru sering kali menjadi penindas kepada muritnya , namun seorang murit tidaklah mungkin melawan , karna kedudukan seorang guru yang seharusnya di hormati , tak jarang seorang guru terkadang menguasain pemikiran muritnya agar kesadaran murit itu sendiri semakin berkurang.

Istilah “kesadaran” didefinisikan sebagai pembelajaran untuk memahami kondisi sosial, politik dan ekonomi dan untuk bertindak melawan faktor-faktor yang menindas yang mengekspresikan ketakutan seseorang akan kebebasan dalam kenyataan. Kesadaran kaum tertindas akan ketertindasan sebenarnya sangat masuk akal, namun sering dikatakan bahwa status penindas lebih tinggi daripada kaum tertindas, yang berujung pada masalah kesadaran yang dirasakan kaum tertindas.

Dalam pendidikan, guru merupakan badan utama dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa, dan siswa adalah wadah atau sekedar tempat penyimpanan. Kesempatan untuk berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang ada. Untuk menghindari tekanan pendekatan “sistem perbankan” terhadap pendidikan, Paul Friar menawarkan pilihan baru, yang ia sebut “pendidikan berorientasi masalah”. Hindari menindas pendekatan pendidikan “sistem perbankan”

Dalam salah satu diskusi , sekelompok peserta mem perdebatkan apakah penyadaran manusia terhadap suatu kasus ketidakadilan tertentu tidak akan membawa manusia kepada “fanatisme merusak atau kepada suatu sensasi keruntuhan total dunia mereka. Di tengah perdebatan cukup hangat itu, seorang peserta yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik selama beberapa tahun mengutarakan pendapat Barangkali hanya saya satu-satunya orang yang hadir di sini yang benar-benar berasal dari kelas pekerja.

Pada beberapa kasus yang di beritakan sering terjadi penindasan guru kepada muritnya , sebagai cohtohnya kasus yang terjadi disuatu SMP di pinggir kota, seorang kepala sekolah yang juga berprofesi sebagai guru di sekolah tersebut , melapkukan penindasan dengan cara melecehkan anak muritnya dan mengancamnya untuk agar tidak mengadu kepada pihak yang berwajip , dari sisi penindas menujukkan bahwa teori pendidikan dari Freire yaitu Tindakan dialogic yang selalu bersifat kooperatif. Itu berarti adanya kesatuan antara pemimpin dan masyarakat dalam usaha memacu proses pembebasan .melalui perombakan struktur yang menindas. Kaum tertindas selama ini tenggelam dalam mitos yang ditiupkan oleh kaum Penindas . karna kaum penindas tergolong selalu menutup nutupi fakta yang terjadi , membuat kaum tertindas tidak bisa angkat suara.
Kesadaran itu penting, dan kesadaran tidak ada jika datang dari penindas itu sendiri.

Pada saat ini guru sering menjadi penindas murid-muridnya, tetapi tidak mungkin seorang murit melawan, karena status guru harus dihormati, bukan karena guru kadang-kadang menangkap pikiran siswa, sehingga menyebabkan kesadaran siswa menurun, yang tidak umum
menyajikan pemikiran Paulo Freirei mengenai kebutuhan suatau pendidikan bagi kaum tertindas, membahas bagaimana proses pendidikan kaum tertindas, Paulo Freire menyebutkan pendidikan lama sebagai pendidikan dengan “Sistem Bank” dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para murid hanya terbatas pada menerima, mencacat, dan menyimpan yang sangat menjajah pemikiran .

Dalam pendidikan, guru adalah tubuh utama dengan pengetahuan yang diberikan kepada siswa. Mahasiswa merupakan wadah atau hanya tempat penyimpanan. Dalam proses pembelajaran, siswa hanyalah objek, menuntut siswa untuk mengikuti cara berpikir guru, daripada memberi siswa kesempatan untuk berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang ada. Untuk melepaskan diri dari tekanan pendekatan “sistem perbankan” terhadap pendidikan, Paul Friar menawarkan pilihan baru, yang disebutnya “pendidikan berorientasi masalah”. Untuk menghindari penindasan pendekatan “sistem perbankan” terhadap pendidikan, Paul Fryer menawarkan opsi baru, yang disebutnya “pendekatan berorientasi masalah pada pendidikan”.tersebut tidak terjadi komunikasi yang sebenarnya antara guru dan murid.Praktek pendidikan seperti itu mencerminkan penindasan yang terjadi dimasyarakat sekaligus memperkuat struktur-struktur yang menindas. Pendidikan menjadi alat dominasi yang jinak.
Freire menujukkan bahwa teori pendidikan dialogic pertentangan dengan teori tindakan antidialogik. Tindakan dialogik selalu bersifat kooperatif. Artinya, ada solidaritas antara pemimpin dan masyarakat untuk mendorong proses pembebasan. Pelepasan paksa dari atas tidak mungkin. Pada saat yang sama, perilaku anti-dialog dicirikan dengan mencoba mengendalikan orang, membuat orang tunduk, pasif, menyesuaikan diri dengan situasi, dan menjaga orang-orang dalam keadaan tertindas.Perilaku dialog membangun persatuan yang membebaskan dengan merekonstruksi struktur penindasan. Kaum tertindas tenggelam dalam mitos yang dibanggakan para penindas. Jadi, bagi Freire, pendidikan harus menjadi inti dari pembebasan atau dialog, untuk mencapainya, untuk menginspirasi mereka untuk berbicara, untuk membuat mereka berbicara, mendorong mereka untuk memberi nama, dan untuk mengubah dunia .

 

Dapat disimpulkan bahwa pemikiran Freire mengenai pendidikan yang terjadi menurut pengamatannya adalah pendidikan yang menindas, dimana pendidik dalam hal ini guru bertindak layaknya seorang penindas. Murid pun secara sadar menjadikan dirinya sebagai orang yang tertindas. Semua itu tidak lepas dari lingkaran sesat yang awalnya telah dimulai dan agaknya sulit untuk diputus, dimana orang-orang yang dulunya tertindas akan berbalik menjadi penindas, bukannya mengubah kontradiksi yang terjadi, tetapi malah melestarikannya.

Freire, P. (2008). Pendidikan kaum tertindas. Jakarta: Pustaka LP3ES.

 

Penulis : Dinda Akila Galuh Pramesty Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang 202110230311058 

 

 

Dinda Akila Galuh Pramesty. Foto: Istimewa
Example 120x600
Example 120x600