Scroll untuk baca artikel

Tugas dan Kriteria Guru Dalam Pendidikan Islam

×

Tugas dan Kriteria Guru Dalam Pendidikan Islam

Share this article

Oleh : Zulfa Husna

Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibdtidaiyah UIN Mataram 

IKLAN
Example 120x600

Abstrak : Dalam Islam, sosok guru (agama) sangat strategis, di samping mengemban misi keilmuan agar peserta didik menguasai ilmu-ilmu agama, guru juga mengemban tugas suci, misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT. Dengan peran strategis tersebut, tentu tidak mudah menjadi guru agama. Di samping itu, dalam melaksanakan tugasnya, guru agama akan dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, baik tantangan internal (terkait dengan materi agama dan pribadi guru) maupun tantangan eksternal (terkait dengan perhatian orang tua, lingkungan yang tidak kondusif, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan efek negatif, di samping dampak positif). Kata kunci : guru agama, Islam, kompetensi, profesi Pendahuluan
Tugas utama guru adalah “mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik … “. Demikian bunyi pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Batasan tugas guru tersebut menunjukkan bahwa sosok guru memiliki peran strategis dalam proses pendidikan, bahkan sumber daya pendidikan lain yang memadai seringkali kurang berarti jika tidak disertai dengan kualitas guru yang bermutu. Dengan kata lain, guru merupakan kunci sukses dan ujung tombak dalam upaya meningkatkan kualitas layanan dan hasil pendidikan.1 Dalam Islam, sosok guru lebih strategis lagi karena di samping mengemban misi keilmuan, guru juga mengemban tugas suci, yaitu misi dakwah dan misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik ke rah moralitas yang lebih baik menuju jalan Allah SWT.Tulisan berikut, dengan segala keterbatasannya, akan mengelaborasi seputar kedudukan dan sifat-sifat guru dalam perspektif Islam, khususnya guru pengajar agama, serta tantangan yang dihadapinya.

Pengertian Guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Definisi ini cakupan maknanya sangat luas, mengajar apa saja bisa disebut guru, sehingga ada sebutan guru ngaji, guru silat, guru olah raga, dan guru lainnya. Dalam dunia pendidikan, sebutan guru dikenal sebagai pendidik dalam jabatan. Pendidik jabatan yang dikenal banyak orang adalah guru, sehingga banyak pihak mengidentikkan pendidik dengan guru.

Kedudukan Guru

Kedudukan guru dalam Islam sangat istimewa Al-Ghazali menggambarkan kedudukan guru agama sebagaiberikut: ”Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama. Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa. Kedudukan guru yang istimewa, ternyata berimbang dengan tugas dan tanggungjawabnya yang tidak ringan. Seorang guru agama bukan hanya sekedar sebagai tenaga pengajar, tetapi sekaligus sebagai pendidik. Dengan kedudukan sebagai pendidik, guru berkewajiban untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam, yaitu mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar menjadi muslim sempurna.

Guru Profesional

Istilah profesional dalam definisi guru di atas, menunjuk pada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sedangkan menurut Noeng Muhadjir, istilah profesional mengarah pada tampilnya kemampuan untuk membuat keputusan keahlian atas beragam kasus serta mampu mempertanggung jawabkan berdasar teori dan wawasan keahliannya.

Tugas guru adalah mendidik, bukan mengajar. mendidik meliputi kegiatan mengajar, melatih, membimbing, memelihara serta membimbingin. jadi tugas guru bukan hanya membuat orang dari tidak mengetahui menjadi mengetahu, tetapi juga yang lebih penting adalah skill baik hard skill maupun soft skill serta transfer nilai.

Menurut Nurcholis majid, nilai – nilai tersebut adalah : iman,Islam, ihsan, taqwa, ikhlas, tawakkal, syukur dan sabar.

1. Iman, berarti gurunya harus mukmin. Namun karena non muslim juga menggunakan kata iman, minsalnya iman kristiani, maka mu’min yang di maksud di sini adalah mu’min yang muslim.

2. Islam, berarti gurunya harus muslim . islam adalah masdhar dari aslama yuslimu islaaman yang berarti tunduk. Dalam konteks pendidikan, tunduk pada siapa dan apa? tunduk pada amanah aturan ilahiyah bahwa aktivitas profesi yang di lakukannya dilakukan semata-mata karena allah.

3. Ihsan, berarti gurunya harus muslim. Dalam sebuah hadits di sebutkan bahwa salah satu indicator muhsin adalah : an ta’budallaha ka annaka taraahu, fa in lam takun taraahu ka annahu yaraaka. Ini berarti seorang guru harus disiplin tanpa di awasi ( unsupervised discipline).

4. Takwa , hal ini berarti guru harus bertakwa. Takwa secara bahasa berarti takut . Takut pada Allah bukan dengan di jauhi tetapi tetapi dengan di dekati ( taqarrub).

5. Ikhlas , Nilai ikhlas mengindkasikan bahwa guru harus mukhlis. Namun makna mukhlis disini bukan berarti guru dalam menjalankan profesinya tidak boleh mendapatkan gaji atau Honda ( honor dari Allah) semata.

6. Tawakkal , kata tawakkal adalah masdhar dari tawakkala yatawakkalu tawakkulan, jadi kata yang lebih tepat sebenarnya adalah tawakkul bukan tawakkal. Dalam aktivitas mendidik, tawakkal bukanlah aktivitas/sikap awal yang di lakukan guru (pasif), karena tawakkal dilakukan apabila guru telah berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya. jadi, usaha dulu baru tawakkal ( faiza ‘azamta fatawakkal ‘alallah).

7. Syukur . nilai sukur mengindikasikan seorang guru adalah orang yang rajin bersyukur . Syukur disini bisa di pahami sebagai syukur nikmat (lawannya kufur nikmat). mengapa harus bersyukur? awalnya, dia lahir dari perut ibunya tidak mengetahui sesuatu, lalu Allah memberikan potensi kepadanya yaitu indera akal dan hati. Dengan potensi itu dia dapat jadi orang alim ( guru).

8. Sabar, nilai yang di petik dari sini adalah guru harus sabar. Guru sebagian besar mendidik siswa yang bukan anaknya. Kepribadian siswa sangat beragam baik dari segi sifat , sikap intelektualitas dan sebagainya. keragaman background apa yang di sampaikan gurunya. Ada yang menyengangkan dan dan tidak sedikit yang kurang bahkan tidak menyenangkan. Di sinilah kesabaran seorang guru di tuntut untuk di uji. Namun, mencari guru yang senang “ sabar” sama sulitnya dengan guru yang “benci terima gaji”. Allahu a’lamu.

Penutup

Guru agama berbeda dengan guru lainnya. Ia mewarisi misi kenabian sebagai penuntun menuju jalan Allah SWT. Karena itu, tidak heran jika guru agama mendapat kedudukan terhormat di masyarakat dan di sisi Allah. Tapi, kedudukan mulia tersebut tidak bisa diraih dengan mudah. Guru agama harus mampu menunjukkan diri sebagai sosok yang menguasai materi agama; mampu menyampaikan materi agama secara ikhlas dengan cara yang baik; dan yang paling penting, guru agama harus mampu menjadi model (uswah hasanah) bagi peserta didik dan masyarakat dalam mengamalkan ajaran Islam yang baik dan benar. Suatu tanggungjawab yang berat, tapi masih bisa dijalankan asal ada kemauan keras. Wa Allâh a’lam bi al-shawâb.*
Refrensi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional-Balai Pustaka, 2005), hlm. 377
Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial; Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif (Yogyakarta : Rake Sarasin, 2000), hlm. 73.
Ibn Hajar al-‘Asqalânî, Fath al-Bârî bi Syarh Saḥîh Bukhârî, Jilid 3 (Beirut : Dar alFikr, t.th), Al-Kitâb al-Janâ iz, al-Bâb Mâ Qîla fî Awlâd al-Mushrikîn, Nomor Hadits 1385, hlm. 245 246.

 

Example 120x600
Example 120x600