Lombok Tengah | Lombok Fokus – Program bus sekolah gratis yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah ternyata berdampak besar terhadap penghasilan para sopir angkutan umum. Sejumlah sopir mengeluhkan penurunan pendapatan yang cukup drastis sejak layanan tersebut mulai beroperasi di beberapa wilayah.
Salah satu sopir angkutan umum, Arjanadi, warga Desa Kawo, Kecamatan Pujut, mengaku pendapatannya kini menurun hingga separuh dari biasanya.
“Dulu per bulan bisa dapat Rp 3 juta, sekarang paling mentok Rp 1,5 juta, itu pun fluktuatif,” ungkapnya, Rabu (12/11/2025).
Ia menjelaskan, sebelum ada layanan bus sekolah gratis, sebagian besar penumpangnya merupakan pelajar yang berangkat dan pulang sekolah. Kini, kursi angkutan nyaris kosong di jam-jam sekolah.
“Kalau siang biasanya ramai anak-anak dari MTsN 1 Loteng. Sekarang jarang sekali yang naik, paling cuma di bawah sepuluh orang,” ujarnya.
Meski mengaku mendukung program pemerintah, Arjanadi berharap agar para sopir lokal tidak hanya jadi penonton. Ia meminta pemerintah untuk menggandeng sopir angkutan umum dalam pelaksanaan program bus sekolah gratis.
“Kami tidak menolak program ini, tapi tolong kami juga diberdayakan. Bisa saja pemerintah kerja sama dengan sopir angkutan yang sudah ada untuk antar-jemput pelajar. Jadi kami tidak kehilangan penghasilan,” katanya.
Ia juga menyarankan agar trayek bus sekolah tidak masuk hingga ke pedesaan, karena jalur tersebut merupakan wilayah utama para sopir mencari nafkah.
“Cukup di kota saja, jangan sampai ke desa. Kalau semua diambil, kami benar-benar kehilangan rezeki,” pungkasnya.






