Mataram, Lombok Fokus – Besarnya potensi Desa Wisata di NTB sudah tak diragukan. Apalagi, minat berwisata yang berubah dari waktu ke waktu melengkapi keindahan alam dan budaya dari ujung Dompu sampai Lombok.
Asisten II Setprov NTB, Drs Ridwansyah menjelaskan, bahkan membajak sawah atau memelihara ternak dapat menjadi produk pariwisata desa. Tinggal mengemas dan mempromosikannya sebagai atraksi wisata.
Desa Wisata yang dilihat dari dimensi ekonomi, lingkungan dan sumber daya manusia membutuhkan konsep pengelolaan destinasi wisata yang harus mengikuti pola amenity (fasilitas penunjang), accesibility (infrastruktur) dan attraction (menu wisata).
Seperti dikatakan Sekretaris Dinas Pariwisata, Lalu Hasbul Wadi, konsep 3A tersebut sebagai panduan tata kelola destinasi wisata dalam rangka memberikan pelayanan terbaik.
Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah, Ari Garmono, menguraikan strategi promosi agar Desa Wisata dapat menjangkau pasar dengan teknologi digital. Terlebih di era pandemi yang membatasi akses antar negara. Dikatakannya, promosi sebagai brand awareness akan mengingatkan orang akan tujuan kemana akan berwisata setelah destinasi disiapkan dengan penerapan CHSE yang menjamin keamanan, keselamatan dan kesehatan wisatawan.
“Hal penting adalah menemukan keunikan dan diferensiasi selain era pariwisata yang sekarang lebih bersifat lokal, personal dan dalam komunitas kecil”, jelas Ari.
Ditambahkannya, konsep pariwisata tersebut sangat tepat untuk branding Desa Wisata.


