LombokFokus|Mataram – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bukan hanya sebatas seremoni tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari keseharian. Hal ini ditekankan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, I Gede Putu Aryadi, S.Sos., MH, saat menutup rangkaian kegiatan Bulan K3 Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTB di Akbar Ali Sport Center, Jumat (28/02/2025).
Aryadi menegaskan bahwa budaya K3 harus terus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, bahkan setelah peringatan Bulan K3 berakhir.
“Meskipun kegiatan Bulan K3 ini selesai hari ini, bukan berarti semangatnya ikut berhenti. Keselamatan kerja harus menjadi kebiasaan yang kita tanamkan dalam setiap aspek kehidupan dan pekerjaan,” ujarnya.
Tantangan K3 di Bulan Ramadhan
Selain menyoroti pentingnya budaya K3, Aryadi juga mengingatkan bahwa PLN akan menghadapi tantangan besar menjelang bulan suci Ramadhan. Menurutnya, permintaan listrik biasanya meningkat drastis selama bulan puasa hingga Hari Raya Idul Fitri, sehingga risiko gangguan kelistrikan juga lebih tinggi.
“Pemakaian listrik melonjak saat Ramadhan, yang bisa menyebabkan pemadaman, konsleting akibat pohon tumbang, atau bahkan penyambungan ilegal yang berbahaya. PLN harus meningkatkan kesiapan, baik dari sisi manajemen risiko maupun kehandalan sistem kelistrikan,” jelasnya.
Karena itu, Aryadi menekankan agar PLN semakin memperkuat sistem manajemen K3 dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam mitigasi risiko.
Komitmen PLN dalam Membangun Budaya K3
Sementara itu, General Manager PLN UIW NTB, Sudjarwo, menegaskan bahwa keselamatan kerja harus menjadi budaya yang melekat di setiap lini, bukan hanya dalam rangkaian peringatan Bulan K3.
“Kami ingin memastikan bahwa budaya K3 bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi bagian dari keseharian pegawai dan mitra kerja,” katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, PLN UIW NTB telah menjalankan berbagai program, seperti:
- Sertifikasi Ahli K3 Umum bagi pengawas pekerjaan dan pengawas K3,
- Edukasi K3 bagi pegawai dan mitra kerja,
- Upskilling di Kampus Yantek untuk meningkatkan kompetensi teknis,
- Sosialisasi Keselamatan Ketenagalistrikan bagi masyarakat,
- Beragam lomba K3 untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi, hingga
- Safety Town Hall Meeting, sebagai forum diskusi terkait penerapan K3.
Menurut Sudjarwo, keberhasilan dalam membangun budaya keselamatan kerja dimulai dari manajemen sebagai role model yang memberikan edukasi dan teladan bagi seluruh pegawai dan pemangku kepentingan.
“Saya yakin, dengan komitmen bersama, kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, produktif, dan bebas dari kecelakaan. Mari kita terus menjaga budaya K3 dalam setiap langkah yang kita ambil,” pungkasnya.
Dengan semangat ini, diharapkan budaya K3 semakin tertanam dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar peringatan tahunan, tetapi menjadi bagian dari karakter dan kebiasaan kerja setiap individu.(fit)


