Verification: 27a3a887773ff714
banner 120x600
banner 120x600

Kearifan Lokal dan Aksi Pawang Hujan di MotoGp Mandalika

Kearifan Lokal dan Aksi Pawang Hujan di MotoGp Mandalika
Sabolah

Penulis : Nurul Hikmayani, Indri ismiyanti, Data Bakti Negara dan Lalu Muh.Restu Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama UIN Mataram 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan suku, budaya, dan agama. Sejak zaman dahulu Indonesia sudah memiliki kearifan lokal dari setiap suku yang ada di masyarakat secara turun-temurun dari zaman nenek moyang. Bangsa Indonesia dengan beraneka ragam suku bangsa ini mengakibatkan kebudayaan Indonesia juga beragam. Dengan kata lain Indonesia kaya akan kebudayaan, dimana kebudayaan yang ada dapat menjadi suatu ciri khas tersendiri dalam suatu bangsa.

BANK NTB Syariah

Setiap budaya pasti memiliki nilai tradisi masing-masing yang merupakan warisan dari leluhur. Nilai dari tradisi diwariskan secara lisan terhadap kebiasaan, kepercayaan, pikiran, kesenian, tarian dari generasi yang satu ke generasi lain atau dari leluhur ke anak cucu. Tradisi mengandung nilai, norma, adat istiadat, dan keyakinan dari suatu kebudayaan masyarakat. Tradisi memegang peranan yang penting dalam perkembangan suatu bangsa sehingga tidak perlu untuk dijabarkan lagi karena tradisi merupakan suatu akar dari perkembangan budaya yang ada sekaligus sebagai kepribadian atau ciri khas suatu bangsa.

Fenomena Pawang Hujan

Akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan mengenai fenomena pawang hujan di Sirkuit Mandalika. Aksi Rara Isti Wulandari, sang pawang hujan mengundang banyak perhatian dari penonton MotoGP Mandalika 2022. Ritual pawang hujan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu. Seperti terdapat ritual menangkal hujan dengan membalikkan sapu lidi dan diberi bawang merah serta cabe merah berukuran besar. Ritual ini biasanya digunakan ketika ada acara besar seperti pernikahan, tradisi-tradisi daerah, konser, dan lain sebagainya. Hal tersebut dimaksudkan agar selama acara berlangsung tidak turun hujan. Sama seperti pawang hujan yang tugasnya adalah mencegah atau memindahkan hujan.

READ  NTB Berikhtiar Tingkatkan IPM Melalui Program Beasiswa 1.000 Cendekia

Pawang hujan dianggap mampu untuk memindahkan dan menahan hujan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Biasanya, hujan tersebut dipindahkan ke daerah lain atau ke hutan agar acara yang akan diselenggarakan tidak terkendala oleh hujan. Ritual pawang hujan menggunakan cara yang sifatnya metafisik dimana terbilang sulit bagi akal sehat kita untuk mencernanya. Meskipun begitu, jasa dari pawang hujan ini dianggap ampuh oleh sebagian orang yang sudah menggunakannya.

Pawang hujan merupakan seseorang yang dianggap dan dipercaya memiliki ilmu gaib serta dapat mengendalikan cuaca. Pengendalian cuaca dilakukan dengan cara memindahkan awan. Ritual panggil maupun tolak hujan sebenarnya tidak hanya terjadi di masyarakat Indonesia saja, akan tetapi juga di mancanegara. Ritual ini mengandung nilai mitologis bahkan dapat dikatakan magis. Hal tersebut dikarenakan untuk memanggil hujan biasanya diucapkan mantra-mantra yang mana dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mencegah terjadinya marabahaya dan melindungi masyarakat.

Menyikapi Fenomena Pawang Hujan

Setiap daerah memiliki ciri khas budayanya dan kebudayaan tersebut memiliki tujuan atau makna tersendiri. Fenomena dari pawang hujan merupakan bentuk kearifan dan akan memperkaya budaya yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, fenomena ini sering dikaitkan dengan salah satu agama saja dan dianggap sesuatu yang syirik. Padahal hal tersebut merupakan suatu bentuk tradisi yang sudah ada dan telah melekat dalam masyarakat sejak dahulu.

Pemerintah di sini memegang peranan yang sangat penting karena tradisi yang ada perlu untuk mendapat perhatian agar eksistensi dari kebudayaan tetap terjaga. Selain itu, kita harus bersikap bijak karena fenomena tersebut memang sudah menjadi sebuah ritual yang melekat dalam masyarakat. Kita perlu mempertahankan tradisi tersebut sebagai suatu ciri khas tersendiri agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Sehingga, generasi penerus masih dapat mengenal warisan budaya yang ada.

READ  SMPN 2 Kuripan Canangkan Sekolah Hijau Nol Dedoro

Pada zaman sekarang ini tidak perlu bersikap menghujat jika terdapat pandangan yang berbeda. Melihat dari fenomena pawang hujan di Sirkuit Mandalika yang terjadi perbedaan pandangan bukan menjadi suatu persoalan yang berarti. Antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan memang sulit untuk dipersatukan. Untuk itu, kita perlu menyikapinya dengan bijaksana karena suatu kearifan lokal sangat berbeda dengan apa yang disebut ilmu pengetahuan. Keduanya merupakan dua hal yang tidak dapat dipersatukan, namun dapat saling melengkapi dan memperkaya budaya dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Facebook

Sabolah
banner 120x600
Sabolah

Tinggalkan Balasan

Sabolah
Subscribe for notification