Oleh: Mohammad Isfironi*
Pengantar
Lebaran atau Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang dirayakan secara meriah. Didahului dengan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadan, bulan kesepuluh dalam kalender Islam. Umat Islam yang telah berusaha menjalankan puasa sebulan penuh serta berbagai amalan seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya, lalu menunaikan zakat fitrah di malam Idul Fitri, merasa seperti terlahir kembali karena meyakini dosa-dosanya telah diampuni Allah.
Rangkaian Ramadan dan Idul Fitri melahirkan beragam tradisi di berbagai daerah. Mulai dari mudik, silaturahmi, hingga penyediaan kue dan pakaian Lebaran, semuanya mendorong perputaran uang yang sangat besar. Dari laman CNN Indonesia, ekonomi menjelang Lebaran 2026 diproyeksikan tetap kuat dengan perputaran uang menembus Rp190 triliun dan 143,9 juta pemudik. Pertumbuhan didorong konsumsi rumah tangga, THR, serta bantuan sosial Rp17,5 triliun. Meski pergerakan orang sedikit menurun, sektor ritel tumbuh 6,9 persen, meski diwarnai kenaikan harga pangan.
Hal ini menunjukkan Ramadan dan Idul Fitri tidak semata peristiwa keagamaan yang didominasi ritual ibadah. Ada dinamika sosial yang luas, melibatkan relasi antarindividu, praktik budaya, dan pola interaksi yang menguat dalam kebersamaan. Tradisi mudik, silaturahmi, hingga konsumsi menjadi bagian dari ekspresi nilai sosial dan kultural dalam masyarakat.
Kemeriahan Idul Fitri juga dapat dibaca sebagai indikator kesejahteraan masyarakat, khususnya daya beli dan stabilitas ekonomi domestik. Intensitas konsumsi, perputaran uang, dan aktivitas ekonomi menjelang hari raya memberi gambaran kondisi ekonomi secara umum. Dalam konteks ini, praktik belanja menjelang Lebaran menjadi ruang penting untuk melihat dinamika ekonomi sekaligus makna sosial budaya yang berjalan bersamaan.
Lebaran: Arena Transformasi Makna Uang
Perayaan Idul Fitri tidak hanya menghadirkan dimensi religius, tetapi juga membuka ruang transformasi makna uang dalam kehidupan sosial. Belanja dalam konteks Lebaran tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan material, tetapi juga praktik sosial yang sarat makna kultural.
Dalam perspektif Georg Simmel, uang memiliki peran sentral dalam mentransformasikan relasi manusia dengan benda, nilai, dan sesama manusia. Dalam The Philosophy of Money (2004), Simmel menjelaskan uang bukan hanya alat tukar, tetapi juga medium simbolik yang mengubah cara manusia memaknai nilai dalam kehidupan sosial. Dalam konteks Lebaran, belanja tidak sekadar transaksi, tetapi juga proses membangun makna tentang kebahagiaan, kepantasan sosial, dan identitas diri.
Belanja menjelang Lebaran dapat dilihat sebagai proses mengubah uang dari sesuatu yang abstrak menjadi pengalaman sosial yang konkret. Uang yang bersifat impersonal berubah menjadi bermakna melalui konsumsi, seperti membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan istimewa, atau berbelanja kebutuhan hari raya. Pilihan barang, merek, hingga tempat belanja membawa pesan sosial yang melampaui fungsi ekonominya.
Dalam masyarakat modern, relasi antara individu dan barang konsumsi semakin kompleks. Barang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga nilai simbolik terkait citra diri dan pengakuan sosial. Pakaian baru, hidangan Lebaran, hingga parcel menjadi simbol identitas sekaligus sarana membangun relasi sosial.
Belanja Lebaran pun menjadi arena negosiasi identitas. Misalnya, seseorang memilih baju bermerek agar terlihat lebih mapan saat silaturahmi. Atau pekerja yang mengirim parcel premium kepada atasan sebagai strategi menjaga relasi profesional. Di tingkat keluarga, hidangan Lebaran yang beragam sering dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus penegasan kemampuan ekonomi.
Dengan demikian, Lebaran menjadi momen penting transformasi makna uang. Uang tidak lagi sekadar alat tukar, tetapi menjadi medium ekspresi sosial. Melalui belanja, nilai kuantitatif berubah menjadi makna simbolik dan kultural. Pada titik ini, aktivitas belanja mulai menunjukkan dimensi ritualistik yang menyerupai praktik simbolik seperti doa.
Belanja = Berdoa
Dalam masyarakat modern, terutama menjelang Idul Fitri, belanja tidak lagi sekadar tindakan ekonomi. Ia berkembang menjadi praktik sosial yang sarat makna simbolik, bahkan menyerupai ritual keagamaan dalam bentuk sekuler.
Ramainya pusat perbelanjaan, pasar, hingga transaksi daring menunjukkan belanja menjadi bagian penting dari pengalaman kolektif menyambut Lebaran.
Belanja dapat dipahami sebagai cara mengekspresikan harapan. Sebagaimana doa menjadi medium menyampaikan keinginan kepada Tuhan, belanja menjadi medium menyampaikan harapan dalam ranah sosial. Membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan terbaik, atau memberi hadiah bukan sekadar transaksi, tetapi juga cara “mengucapkan” harapan akan kebahagiaan, keberkahan, dan penerimaan sosial.
Setiap konsumsi juga membawa pesan simbolik tentang identitas. Dalam pemikiran Hugh Dalziel Duncan (1997), konsumsi merupakan symbolic action, di mana barang menjadi bahasa sosial. Melalui pilihan konsumsi, individu menegosiasikan citra dan posisi dirinya.
Belanja juga memiliki pola ritualistik: memilih waktu, berburu diskon, menyiapkan kebutuhan, hingga merasakan kepuasan setelah terpenuhi. Pola ini menyerupai struktur ritual dalam agama.
Ungkapan “belanja = berdoa” tidak dimaksudkan menyamakan secara literal, melainkan menunjukkan kesamaan fungsi simbolik. Belanja menjadi cara manusia modern menggantungkan harapan dan membangun makna melalui praktik sosial.
Doa yang Berbeda di Hari yang Sama
Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam “ritual” belanja Lebaran. Di tengah meningkatnya konsumsi, masih ada kelompok yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Bagi sebagian keluarga, Lebaran bukan momen belanja berlimpah, tetapi waktu mengelola kebutuhan dengan hati-hati. Bahkan, ada yang hanya mampu membeli pakaian baru setahun sekali saat Lebaran. Pakaian tersebut menjadi simbol sederhana kebahagiaan dan kesempatan merasakan hal baru.
Hal ini menunjukkan makna “belanja sebagai doa” berbeda-beda sesuai kondisi sosial ekonomi. Bagi sebagian orang, belanja menjadi ekspresi gaya hidup. Bagi yang lain, ia adalah harapan paling sederhana untuk merasakan kebahagiaan yang sama.
Lebaran pun menjadi cermin ketimpangan sosial. Di balik hiruk-pikuk konsumsi, ada kisah kesederhanaan yang sering tak terlihat. Justru di ruang inilah makna Lebaran sebagai momen solidaritas, empati, dan berbagi menemukan relevansinya.
Wallahu a’lam bi shawab.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.
*) Penulis adalah Dosen Antropologi Ekologi UINSA Surabaya
Kontak Penulis:
moh.isfironi@gmail.com
mohammad.isfironi@uinsa.ac.id







