Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
ArtikelBeritaNasionalPendidikan

Ketika Seorang Guru Berpulang, Apa yang Tetap Hidup? Refleksi pendidikan nilai dari kepergian TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin (Datok Bagu)

×

Ketika Seorang Guru Berpulang, Apa yang Tetap Hidup? Refleksi pendidikan nilai dari kepergian TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin (Datok Bagu)

Sebarkan artikel ini

Kepergian Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, yang dikenal sebagai Datok Bagu, pada 15 Oktober 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Lombok, khususnya dunia pesantren. Sehari kemudian, ribuan pelayat mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya di Bagu, Lombok Tengah.

Pemandangan itu mengundang sebuah pertanyaan: “Apa yang membuat seorang guru begitu berarti sehingga kepergiannya menggerakkan begitu banyak orang untuk datang dan memberikan penghormatan terakhir?”

IKLAN
Example 300x600

Tentu, jumlah pelayat bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pendidik. Namun, peristiwa tersebut mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih mendasar: pendidikan tidak hanya meninggalkan pengetahuan di dalam pikiran, tetapi juga nilai yang menetap dalam kehidupan orang lain.

Dalam perjalanan Datok Bagu, kita menemukan pelajaran tentang bagaimana ilmu, keteladanan, pengabdian, dan kesungguhan mendidik dapat membentuk warisan yang melampaui usia seseorang.

Menjadi Pendidik Dimulai dengan Kesediaan Menjadi Murid

Datok Bagu lahir di Bagu pada 1 April 1936. Perjalanan pendidikannya ditempuh melalui proses panjang, sejak belajar membaca Al-Qur’an pada usia lima tahun hingga menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel pada 1948. Di sana, beliau berguru kepada TGH Muhammad Shaleh Hambali selama bertahun-tahun.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidik yang kuat tidak lahir secara tiba-tiba. Ada waktu yang panjang untuk belajar, ada guru yang membimbing, ada disiplin yang dijalani, dan ada kerendahan hati untuk terus memperbaiki diri.

Di tengah dunia pendidikan yang sering menilai keberhasilan melalui gelar, jabatan, dan capaian administratif, perjalanan beliau menghadirkan perspektif lain. Gelar akademik memang penting, tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang bijaksana. Pengetahuan perlu disertai karakter, sedangkan kecakapan perlu berjalan bersama tanggung jawab.

Menjadi pendidik, dengan demikian, bukan sekadar menguasai apa yang hendak diajarkan. Ia juga berarti bersedia terus belajar dari orang lain dan dari kehidupan.

Ketika Mengisi Air Menjadi Pelajaran tentang Karakter

Salah satu kisah yang menarik dari perjalanan Datok Bagu adalah pengabdiannya kepada sang guru. Dalam penuturan biografinya, beliau pernah diminta mengisi bak air di kamar mandi gurunya dan memberi tahu ketika air sudah penuh. Meski permintaan itu disampaikan sekali, beliau tetap melakukannya secara konsisten.

Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dalam pekerjaan sederhana, karakter sering kali terlihat paling jelas.

Kisah tersebut memperlihatkan makna khidmah, yakni pengabdian yang dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan. Bukan karena ingin mendapat pujian, bukan pula semata-mata karena sedang diawasi, melainkan karena memahami tanggung jawab dari apa yang dikerjakan.

Dalam pendidikan nilai, kita kerap menjelaskan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian melalui definisi. Murid dapat menghafal semuanya dengan baik. Akan tetapi, menghafal nilai tidak selalu berarti menghidupinya.

Karakter tumbuh ketika nilai bertemu dengan kebiasaan. Tanggung jawab menjadi nyata ketika seseorang menyelesaikan tugas tanpa harus terus diingatkan. Kepedulian terlihat ketika seseorang bersedia membantu. Kejujuran teruji ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Tentu, kisah pengabdian ini tidak berarti pendidikan harus membiasakan kepatuhan tanpa pertimbangan. Pengabdian yang bernilai lahir dari kesadaran, penghormatan, dan ketulusan, bukan dari paksaan atau relasi yang merendahkan martabat manusia.

Di sinilah pelajaran penting bagi pendidik: nilai tidak cukup disampaikan sebagai nasihat. Nilai perlu dihidupkan dalam tindakan yang dapat dilihat, dialami, dan diteladani.

Ikhlas dan Khidmah: Nilai yang Menjadi Jalan Hidup

Dalam biografi Datok Bagu, dua prinsip disebut sebagai kunci perjalanan hidup beliau: ikhlas dan khidmah.

Ikhlas berkaitan dengan ketulusan niat, sedangkan khidmah berkaitan dengan kesediaan mengabdikan diri. Keduanya saling melengkapi. Ketulusan memberi makna pada pengabdian, sementara pengabdian membuat ketulusan hadir dalam tindakan nyata.

Salah satu nasihat gurunya yang dikenang beliau adalah agar memilih jalan sebagai pegawai Allah. Nasihat tersebut menjadi bagian penting dari keputusan hidupnya untuk mengabdikan diri dalam pendidikan dan pelayanan keagamaan, alih-alih menempuh sejumlah peluang jabatan yang pernah ditawarkan kepadanya.

Pilihan itu merupakan jalan hidup yang beliau yakini. Kita tidak harus menyimpulkan bahwa semua orang mesti menempuh jalan yang sama. Mengabdi melalui pemerintahan, profesi, dunia usaha, maupun pendidikan dapat sama-sama bernilai ketika dijalankan dengan tanggung jawab dan orientasi pada kemaslahatan.

Hal yang layak kita pelajari adalah kesadaran bahwa pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan atau besarnya penghasilan. Ada makna yang lahir dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Bagi dunia pendidikan, pertanyaan ini penting: apakah kita mendidik hanya untuk memenuhi kewajiban pekerjaan, atau juga menyadari bahwa setiap interaksi dengan murid membawa tanggung jawab moral?

Seorang guru mungkin lupa pada materi yang pernah disampaikan. Namun, murid dapat mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka, bagaimana ia bersikap ketika menghadapi kesulitan, dan bagaimana ia menjalankan tanggung jawabnya. Keteladanan sering kali bekerja lebih lama daripada penjelasan.

Tidak Berhenti Belajar Setelah Menjadi Guru

Pengabdian Datok Bagu tidak membuat perjalanan keilmuannya berhenti. Pada 1978, beliau berangkat ke Makkah dan menetap di sana selama sekitar enam tahun untuk melanjutkan pengembaraan ilmu kepada para ulama.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa menjadi guru bukan alasan untuk berhenti menjadi murid. Pengetahuan yang telah dimiliki bukan akhir dari pencarian, melainkan bekal untuk terus memperdalam pemahaman.

Prinsip ini relevan bagi pendidikan masa kini. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persoalan yang semakin kompleks menuntut pendidik untuk terus belajar. Pengalaman mengajar selama bertahun-tahun memang berharga, tetapi pengalaman juga perlu diperiksa kembali agar tidak berubah menjadi kebiasaan yang dijalankan tanpa refleksi.

Guru yang terus belajar akan lebih terbuka terhadap pertanyaan murid, lebih siap mengevaluasi pendekatan pembelajaran, dan lebih rendah hati dalam menghadapi keterbatasan dirinya.

Pada titik ini, keteladanan seorang pendidik tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ilmu yang ia kuasai, tetapi juga dari kesediaannya mengakui bahwa masih ada hal yang perlu dipelajari.

Dari Madrasah Kecil Menjadi Warisan Pendidikan

Pada 1962, Datok Bagu mulai merintis pendidikan di Bagu. Perjalanan itu kemudian berkembang melalui pendirian berbagai jenjang pendidikan, mulai dari madrasah hingga perguruan tinggi. Lembaga yang tumbuh dari perjuangan tersebut kini dikenal melalui jaringan pendidikan Qamarul Huda, termasuk Universitas Qamarul Huda Badaruddin.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pengabdian tidak berhenti pada hubungan antara guru dan murid di ruang belajar. Ia dapat berkembang menjadi ikhtiar membangun lingkungan yang memungkinkan lebih banyak orang memperoleh pendidikan.

Satu generasi dididik, lalu sebagian dari mereka meneruskan ilmu dan nilai kepada generasi berikutnya. Sebuah madrasah tumbuh, kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan dengan jangkauan yang lebih luas. Dengan cara itu, pengabdian seseorang dapat menjangkau kehidupan orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya secara langsung.

Namun, warisan pendidikan tidak semata-mata diukur dari jumlah bangunan, banyaknya peserta didik, atau luasnya lembaga yang didirikan. Semua itu penting, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar tetap perlu diajukan: nilai apa yang hidup di dalamnya?

Lembaga pendidikan dapat terus berdiri, tetapi tujuan pendidikannya perlu terus dirawat. Ilmu harus tetap berjalan bersama akhlak. Prestasi perlu disertai tanggung jawab. Kemajuan institusi semestinya sejalan dengan kematangan manusia yang tumbuh di dalamnya.

Sebab, pendidikan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya berhasil menghasilkan orang-orang yang cakap, tetapi abai terhadap sesama.

Apa yang Sebenarnya Diwariskan oleh Pendidikan?

Kepergian Datok Bagu mengajak kita melihat kembali makna keberhasilan seorang pendidik. Selama ini, keberhasilan pendidikan sering dinilai melalui angka, kelulusan, prestasi, jabatan, dan capaian institusi. Semua itu memiliki tempatnya. Namun, ada dimensi yang tidak selalu mudah diukur: bagaimana pendidikan membentuk cara seseorang memperlakukan orang lain dan menjalani kehidupannya.

Apakah ilmu membuat seseorang lebih rendah hati? Apakah pengetahuan menumbuhkan kepedulian? Apakah keberhasilan membuat seseorang semakin bertanggung jawab? Apakah nilai yang diajarkan di ruang kelas benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena pendidikan nilai tidak selesai ketika murid mampu menjawab soal tentang karakter. Pendidikan nilai menemukan maknanya ketika murid mulai menjadikan nilai sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Di sinilah peran pendidik menjadi sangat penting. Guru bukan satu-satunya pihak yang membentuk karakter, tetapi ia memiliki kesempatan besar untuk menghadirkan lingkungan belajar yang membuat nilai dapat dipahami, dialami, dan dipraktikkan.

Keteladanan, kebiasaan, dialog, dan ruang refleksi perlu berjalan bersama. Murid tidak cukup hanya diberi tahu tentang kebaikan; mereka perlu melihat bagaimana kebaikan diwujudkan, memperoleh kesempatan untuk melakukannya, dan belajar memahami alasan di balik tindakan tersebut.

Kita mungkin tidak dapat meniru seluruh jalan hidup seorang tokoh. Namun, kita dapat mengambil nilai yang relevan dari perjalanan hidupnya dan menerjemahkannya ke dalam tanggung jawab masing-masing.

Bagi guru, itu berarti mendidik dengan kesungguhan dan terus belajar. Bagi lembaga pendidikan, itu berarti menjaga agar ilmu dan karakter tumbuh bersama. Bagi masyarakat, itu berarti memberi ruang bagi nilai-nilai kebaikan untuk hidup dalam tindakan sehari-hari.

Ribuan orang yang mengantar Datok Bagu ke peristirahatan terakhirnya bukanlah ukuran tunggal keberhasilan pendidikan. Namun, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pengabdian yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan banyak orang.

Pada akhirnya, seorang guru tidak hanya dikenang karena apa yang pernah ia katakan, tetapi juga karena nilai yang ia hidupi dan pengaruh yang diteruskan oleh orang-orang yang pernah belajar darinya.

Seseorang boleh berpulang, tetapi nilai yang ditanamkannya dapat terus hidup dalam diri mereka yang meneruskan kebaikan.

Mungkin itulah salah satu makna terdalam dari warisan pendidikan: bukan sekadar meninggalkan orang-orang yang pernah belajar, melainkan menumbuhkan manusia yang bersedia meneruskan ilmu, ketulusan, dan pengabdian kepada sesama.

— Nalar Didik | Merawat Nalar, Menumbuhkan Nilai.

Example 300250
Example 120x600
Example 120x600