Scroll untuk baca artikel
BeritaPolitik

Senator Evi Apita Maya Ajak Santri Lombok Tengah Perkuat Jiwa Kebangsaan dan Cegah Bullying di Era Digital

×

Senator Evi Apita Maya Ajak Santri Lombok Tengah Perkuat Jiwa Kebangsaan dan Cegah Bullying di Era Digital

Share this article

LOMBOK FOKUS –  Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Evi Apita Maya, kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan di berbagai lapisan masyarakat. Melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, ia mengajak para santri Pondok Pesantren Nurul Muhsinin, Lombok Tengah, untuk memahami dan mengamalkan Pancasila, Pembukaan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, serta negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kegiatan ini digelar pada Sabtu (22/11).

Namun, sosialisasi tersebut tidak berhenti pada penjelasan teoritis empat pilar. Senator perempuan dapil NTB ini mengajak para santri memperkuat jiwa tenggang rasa sebagai kunci mencegah kekerasan dan praktik perundungan (bullying) yang kian marak, terutama di lingkungan pendidikan.

IKLAN
Example 120x600

“Pengaruh digital ini ada positif negatifnya. Kalau kita tidak bijak dan tidak punya tenggang rasa, maka dampaknya bisa negatif. Bullying bisa terjadi karena meniru apa yang ditonton di media sosial,” jelas Evi.

Tenggang Rasa sebagai Implementasi Nilai Pancasila

Evi menekankan bahwa tenggang rasa bukan sekadar ajaran moral, melainkan implementasi langsung dari sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai tersebut mewajibkan setiap warga negara untuk memperlakukan orang lain dengan sopan, santun, berbudi pekerti, dan berperikemanusiaan.

“Kalau kita sadar punya budi pekerti yang baik, maka bullying dan kekerasan tidak akan terjadi. Lima sila dalam Pancasila ini saling menguatkan—dilengkapi nilai ketuhanan, tolong-menolong, dan musyawarah,” tuturnya.

Bhinneka Tunggal Ika: Menghargai Keberagaman di Tanah Air

Senator Evi juga menyinggung pentingnya memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas bangsa yang majemuk. Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam suku, adat, dan agama, yang dipersatukan dalam bingkai NKRI.

“Setiap pulau dihuni suku dan adat berbeda, tetapi kita disatukan dalam kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.

Pembukaan UUD 1945 sebagai Benteng Moral

Evi menjelaskan bahwa Pembukaan UUD 1945 memuat prinsip-prinsip moral dan ideologi yang menjadi benteng bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh pengaruh asing yang merusak jati diri bangsa.

“Kita bangsa yang merdeka dan berdaulat. Tidak boleh ada yang merusak moral kita melalui tipu daya asing, termasuk melalui konten-konten digital,” tegasnya.

Dialog Terbuka dengan Santri

Kegiatan sosialisasi ini juga diisi dengan dialog terbuka, memberi ruang kepada santri untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi baik di sekolah maupun di lingkungan sosial. Evi berharap forum seperti ini dapat membentuk generasi yang berani jujur, terbuka, dan berani menyuarakan keadilan.

Melalui kegiatan ini, Evi Apita Maya berharap nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dipahami, tetapi benar-benar hidup dan diterapkan oleh generasi muda sebagai fondasi menghadapi tantangan era digital.

Example 120x600
Example 120x600