Verification: 27a3a887773ff714
banner 120x600
banner 120x600

Zakat Sebagai Ibadah Sosial Untuk Mengentaskan Kemiskinan

Zakat Sebagai Ibadah Sosial Untuk Mengentaskan Kemiskinan
Sabolah

 

Lombok fokus – Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya berbagai nilai-nilai kebaikan universal. Nilai-nilai kebaikan itu dapat kita jumpai dalam 5 (lima) ajaran pokok Islam yang disebut dengan rukun Islam, yaitu bersyahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah Mekah. Di antara rukun Islam tersebut adalah menunaikan zakat. Ada dimensi yang menegaskan hubungan keimanan kita kepada Allah (hablum minallah), dan juga ada kaitan sangat erat sekali dengan dimensi sosial yang menegaskan hubungan baik kita kepada sesama manusia (hablumminannas) di dalam ibadah zakat tersebut. Bahkan zakat itu merupakan momentum kesadaran umat Islam untuk bangkit dari tradisi individualistik di tengah-tengah ketimpangan sosial masyarakat Arab pada saat itu. Di mana masyarakat Arab pra-Islam adalah masyarakat yang memiliki tatanan sosial ekonomi yang sangat kapitalis, mereka yang masuk ke dalam golongan orang-orang kaya yang menjalankan bisnisnya dengan sistem monopolistik dan enggan untuk memberdayakan masyarakat bawah. Bahkan mereka cenderung menggunakan status sosialnya sebagai kelompok borjuis untuk melakukan hegemoninya terhadap golongan miskin/proletar.
Kehadiran Rasulullah saw. menjadi angin segar bagi masyarkat untuk melakukan reformasi dalam segala bidang, termasuk melakukan reformasi terhadap sistem perekonomian yang berasaskan pada sistem perekonomian kerakyatan yang tidak hanya berpihak kepada kelompok pengusaha saja, tetapi juga sangat memperhatikan terhadap kesejahteraan rakyat miskin. Hal itu di antaranya terkandung dalam ajaran Islam tentang zakat.
Sebagai salah satu ritual dalam Islam, zakat menyimpan dimensi ibadah yang sangat kompleks. Jika ibadah puasa merupakan upaya penyucian diri, maka zakat lebih berorientasi untuk mensucikan harta dan rasa solidaritas kemanusiaan. Sebab, pada hakikatnya sebagian harta yang dimiliki merupakan hak bagi orang lain yang masuk dalam kategori mustahiq zakat.
Menurut Hasbi Ash-Shiddiqi, zakat dinamakan ibadah sosial dilihat dari beberapa sisi. Dari sisi muzakki, zakat itu mensucikan diri dari kotoran kikir dan dosa selain itu zakat merupakan bukti kebenaran iman yang tunduk dan patuh serta bukti ketaatan terhadap perintah Allah swt. Dari sisi sosial, zakat akan mensucikan masyarakat dan menyuburkannya, melindungi masyarakat dari bencana kemiskinan, kelemahan fisik, maupun mental dan menghindarkan dari bencana-bencana kemasyarakatan lainnya. Sejalan dengan hal tersebut Dr. Yusuf Qardhawi, ulama fiqih kontemporer dari Mesir menyatakan bahwa zakat adalah sistem keuangan dan ekonomi umat Islam, yang sekaligus sebagai sistem sosial karena berusaha menyelamatkan masyarakat dari berbagai kelemahan, terutama kelemahan ekonomi.
Dalam sebuah ayat-Nya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43). Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan “satu paket” ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia. Zakat juga dapat diartikan sebagai terapi dalam menghilangkan sifat-sifat tercela yaitu iri, dengki/ hasud yang mungkin muncul terutama kepada mereka orang-orang miskin yang melihat kehidupan orang-orang kaya yang tidak memperdulikan mereka. Dengan zakat maka sesungguhnya kita telah mensucikan diri kita dari dosa, memurnikan jiwa (tazkiyah an-nafs), menumbuhkan akhlak mulia, murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan, mengikis sifat bakhil/kikir serta serakah, sehingga dapat menghadirkan ketenangan hati dan jiwa.
Jika dicermati, sesungguhnya dengan berzakat, kita dididik untuk mengembangkan sense of aware terhadap derita rakyat miskin, yang kemudian melahirkan sikap empati dan simpati kepada mereka. Jika diilustrasikan lebih lanjut, zakat ibarat the have, sementara rakyat miskin laksana the needy. Filsafat sosialnya menjadi afirmatif : the have harus memiliki ethical obligation kepada the needy. Dengan kata lain, ada kewajiban intrinsik yang bersifat moral-etis bagi si-kaya kepada si-miskin. Zakat, dengan demikian dapat menyentuh, menyadarkan, sekaligus menumbuhkan semangat dan kewajiban moral-etik-kemanusiaan kita pada rakyat miskin. Lebih dari itu, pesan moral-kemanusiaan dari ibadah zakat, sebenarnya hendak melatih diri kita untuk to be sensitive to the reality. Yaitu, menjadi lebih peka (sense of aware) dan sensitif terhadap realitas sosial di sekitar kita. Kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan, yang selama ini dialami kaum tertindas baik secara ekonomis maupun politis, dengan demikian mendapatkan referensi, justifikasi, dan legitimasi dari ibadah zakat.
Sebenarnya zakat memiliki pesan-pesan sosial yang sangat jelas, namun selama ini umat Islam belum memanifestasikan zakat sebagai sarana untuk mengentaskan kemiskinan dan menjadikannya sebagai solusi untuk kebutuhan sarana umum yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Artinya masyarakat masih terjebak dalam paradigma lama yang tertumpu kepada pandangan dogmatis ritualis, sehingga zakat justru menjadi a-sosial dan teraliensi dari fungsi dasar yang dibawanya. Masyarakat Islam masih sekedar menganggap bahwa zakat adalah perintah Tuhan yang harus di jalankan, tanpa tahu makna dan pesan yang mendalam dari perintah zakat itu sendiri. Dalam praktiknya secara umum zakat hanya merupakan santunan karitatif yang bersentuhan dengan kebutuhan perseorangan dalam skala yang masih sangat terbatas, terlebih dalam konteks kehidupan sosial saat ini yang serba tersistem. Walaupun dalam satu komunitas tertentu kewajiban zakat ditunaikan dengan intensitas yang tinggi, akan tetapi realitas sosial yang timpang dalam komunitas tersebut tetap saja menjadi kendala perubahan sosial ekonomi, artinya yang miskin tetap miskin dan terus dalam posisi tertindas.
Zakat sebagai salah ibadah yang memiliki dimensi sosial dapat digunakan sebagai upaya mensejahterakan masyarakat, dalam pelaksanaannya perlu mendapatkan dukungan dari segala pihak. Baik pemerintah, badan amil zakat, dan masyarakat. Dan perlunya manajemen pengelolaan yang baik. Demi terciptanya baldatun toyyibatun wa rabbun gafur.

BANK NTB Syariah

Penulis: Miatun Hasanah Universitas Islam Negeri Mataram Jurusan Manajemen Dakwah Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Penerima Awarde Beasiswa Cendekia Baznas 2021.

READ  Peran Penting Orangtua Dalam Membentuk Akhlak Anak

Referensi:
Ahmad Mifdlol Muthohar, Keberkahan Dalam Berzakat (Jakarta: Mirbanda Publishing), 2011.
A . Hidayat, dan Hikmat Kurnia, Panduan Pintar Zakat: : Harta Berkah, Pahala Bertambah, (Jakarta: Qultum Media), 2008.
Mas’udi, Masdar Farid, Pajak itu Zakat: Uang Allah Untuk Kemashlahatan Rakyat, (Bandung: Mizan Pustaka), 2010.
Maskun, Zakat, pemberantasan korupsi, dan pengentasan kemiskinan, http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=6846&coid=1&caid=34&gid=3).

Facebook

Sabolah
banner 120x600
Sabolah

Tinggalkan Balasan

Sabolah
Subscribe for notification