Verification: 27a3a887773ff714
banner 120x600
banner 120x600

Self diagnosis, cikal-bakal depresi!!

Self diagnosis, cikal-bakal depresi!!
Sabolah

Lombok Fokus – Akhir-akhir ini mental health menjadi topik hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Viralnya topik ini menuai banyak sekali tanggapan mulai dari positif hingga negatif, di satu sisi masyarakat mulai peduli dengan mental health, namun di sisi lain topik ini menjadi boomerang bagi diri sendiri karena banyak sekali masyarakat yang  menjadikan mentah health sebagai bahan candaan dan parahnya mereka mulai “Melabeli” diri sendiri memiliki gangguan mental. Fenomena melabeli diri sendiri ini biasa disebut dengan “self diagnosis”. Self- diagnose merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mendiagnosis diri sendiri, dengan pengetahuan yang dimiliki atau dari informasi yang didapatkan secara mandiri melalui internet tanpa adanya arahan dari ahli.

Self diagnosis biasanya dipicu oleh rasa keingintahuan yang tinggi, serta gampangnya mengakses internet menyebabkan banyak sekali orang bertanya kepada google dibandingkan kepada ahli. Harusnya ketika merasakan keluhan  segera menghubungi ahli seperti dokter untuk kesehatan fisik maupun psikis jika merasa mental mulai terganggu. Memang sebagian orang merasa akan lebih mudah jika bertanya kepada google yang dianggap tahu segala hal dibandingkan bertanya langsung kepada ahlinya. Artikel yang beredar di google belum tentu 100 persen benar, dan pada dasarnya semua orang dapat dengan mudah mengupload tulisannya di internet walau mereka bukan ahli dalam bidang tersebut. Dengan melakukan self diagnosis sama saja seperti kita meragukan dan meremehkan kemampuan profesional.

BANK NTB Syariah

Ketika mendiagnosis diri sendiri, kita tidak tahu cara penanganan yang tepat, dan juga sulit melihat diri sendiri secara objektif. Terkadang ketika kita mendiagnosis diri sendiri, kita akan merasa apa yang  dibaca sudah sangat tepat dengan gejala yang kita rasakan, namun pada kenyataannya kita hanya melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi agar apa yang kita rasakan sama seperti yang dibaca. Self diagnosis juga sangat berpotensi salah dalam penanganan yang diberikan, contohnya ketika kita mendiagnosis diri  mengidap penyakit A yang kebenarannya masih abu-abu, lalu berinisiatif mengonsumsi obat dengan dosis yang salah, dan yang pada akhirnya mengakibatkan overdosis obat atau hal-hal lain yang tidak diinginkan.

READ  Ketua Forum Nakes Lombok Tengah Bantah Ada Pungli

Tidak dapat membedakan apakah gejala yang dialami adalah gejala penyakit medis atau psikologis sehingga menimbulkan misdiagnosis atau kesalahan dalam diagnosis sering sekali terjadi jika melakukan self diagnosis, hal ini akan menimbulkan kecemasan berlebihan yang menyebabkan stress atau bahkan depresi. Memicu gangguan kesehatan yang lebih parah, contohnya saja anda menderita insomnia yang mengakibatkan anda tidak dapat tidur selama berhari-hari, namun karena informasi yang anda dapatkan di google, menyatakan bahwa gejala yang anda alami adalah gejala depresi, lalu anda terus memikirkan anda terkena depresi yang menyebabkan anda merasa khawatir berlebih, tertekan atau parahnya anda berpotensi terkena depresi sungguhan.

Jika merasakan gejala-gejala sakit atau tidak enak badan segera konsultasikan kepada ahli yang dapat menanganinya, jangan mengandalkan internet karena berita yang ada di internet tidak semua benar. Informasi yang anda dapatkan di google, seperti quiz, artikel tentang informasi gejala kesehatan mental, hanya dapat dijadikan sebagai rujukan bukan patokan yang valid. Jangan menunda-nunda konsultasi kepada ahli karena jika terlambat dalam penanganan akan berakibat fatal. Yuk sama-sama kita berhenti melakukan self diagnosis dan mengingatkan akan bahaya self diagnosis kepada lingkungan sekitar, masih banyak professional yang 24 jam bersedia menangani keluhan kita bahkan sekarang pemerintah telah menyediakan psikolog di rumah sakit setiap Kota untuk menangani masalah psikis, jadi hindarilah melakukan self-diagnosis karena akan memperparah kondisi.

Oleh : Euis Sadida Rahmah Muizzah

***Penulis merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Facebook

Sabolah
banner 120x600
Sabolah

Tinggalkan Balasan

Sabolah
Subscribe for notification