Verification: 27a3a887773ff714

Pondok Pesantren ‘Puluhan Berugak’ Bawah Gunung Sekotong.

  • Bagikan
Sabolah
Pondok Pesantren 'Puluhan Berugak' Bawah Gunung Sekotong.

LOMBOK BARAT | SAYA beruntung selesai mengisi pengajian di madrasah ngiring (menemani) ayahanda TGH.Abu Agus Arafaini, M.Pd Abu Lobar dan kanda Nasrullah, S.Ag Pe Lhung selaku Sekretaris PW LP Ma’arif NU NTB untuk menghadiri Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Lombok Barat di Ponpes Zainul Hafizd At-Taufiq, Dusun Sepi, Desa Buwun Mas, Sekotong, Minggu (8/3).

Butuh sekitar satu jam lamanya bila mengendarai mobil dari pusat pemerintahan Kabupaten Lombok Barat, Gerung, untuk sampai dipondok ini. Melewati kawasan pelabuhan very Lembar, jalan yang berkelok, menanjak membelah kawasan pergunungan Sekotong barat.

BANK NTB Syariah

Desa Buwun Mas ini tahun-tahun sebelumnya ramai dikunjungi ribuan orang penambang emas yang datang dari berbagai daerah untuk menggali butiran-butiran emas yang terkandung  dalam tanah kawasan pergunungan sekotong. Mereka yang berhasil banyak yang menjadi orang kaya baru (OKB) dari hasil gali emas.

Masuk dikomplek Ponpes ini, pertama yang nampak berdiri kiri kanan puluhan buah berugak yang dibangun dari pohon jati beratap ilalang. Di deretan berugak itulah para santri mutholaah kitab dan para tamu pesantren menyandarkan punggungnya bila berkunjung ke pondok ini.

Tiupan angin pedesaan, hembusan angin gunung dan lambaian angin daun kelapa membuat pengunjung mau betah berlama-lama duduk ngobrol diatas deretan bangunan berugak itu. Halaman pondok yang luas menghadap gunung menjadi ciri pelengkap kondisi lingkungan komplek pondok pesantren ini.

“Idenya setelah gempa. Saya ingin anak-anak santri ada tempat berlindung yang nyaman setiap kali gempa datang” kata Ust.Sahwan, pendiri dan pengasuh pesantren Zainul Hafizd At-Taufiq.

Setelah gempa ternyata bukan hanya santri yang menempati berugak itu tapi juga warga sekitar yang tinggal diluar pondok. Dari awalnya satu berugak, lalu terua bertambah hampir menjadi 50-an berugak. Dibangun dari pohon jati dan beratap daun ilalang. Kalau dihitung biaya mendirikan semua sampai puluhan juta rupiah.

READ  UU Pesantren Sah, Ketua FPKB NTB : UU pesantren menjadi kado terindah menuju hari santri

Wajar kalau banyak warga sekitar yang heran akan tujuannya membangun puluhan berugak. “Untuk apa membangun berugak banyak-banyak. Satu dua kan cukup” kata bendahara LP Ma’arif Lombok Barat yang juga akrab dipanggil Guru Wan oleh masyarakat Sekotong.

Selain punya lahan yang luas, – mencapai 14 hektar, pondok ini sengaja didesain untuk dekat dengan alam dan memaksimalkan potensi ekonomi yang ada untuk membiayai operasional dan pengembangan pondok kedepan. Diantaranya membudidayakan burung walet, kolam ikan, jamur dan pohon bernilai ekonomi.

“Saya niatkan hasil dari budidaya walet nant 50 persennya untuk keluarga dan 50 persennya untuk membiayai pengembangan pondok” cerita Ust.Sahwan kepada Ketua PCNU Lombok Barat, Dr.H.Nazar Naami, M.Si dan Sekretaris H.Ali Maksum, M.Si disela membuka acara Rakercab LP Ma’arif NU Lombok Barat.

Ciri lain dari program pondok pesantren ini menerapkan metode Amsilati – sebuah metode cepat dalam belajar ilmu Nahwu Syaraf. Bukankah ilmu Nahwu merupakan ilmu utama bagi kaum santri agar bisa membaca dan menerjemahkan kitab- kitab kuning (kitab gundul) termasuk membaca dan menafsirkan Al Qur’an secara mendalam.

Metode Amsilati ini ditemukan oleh KH.Taufiqul Hakim dari Jepara, Jawa Tengah. Untuk kepentingan itu pengasuh pondok pesantren Zainul Hafizd At Taufiqi sengaja mendatangkan beberapa orang guru atau ustazd dari Jepara untuk khusus mengajarkan motode amsilati kepada para santri yang menuntut ilmu dipondok ini. 

Bagi Ust.Sahwan tidak ada istilah persaingan dalam pengembangan pendidikan, pengembangan SDM termasuk dalam memajukan pesantren. “Tidak ada istilah persaingan dalam pendidikan yang ada kompetensi dan kompetisi” katanya.

Untuk itu jangan sampai pesantren kondisinya hidup segan mati tak mau. Kita jangan kalah dengan lembaga pendidikan agama lain. Meski dalam konteks bernegara kita harus menghormati agama diluar Islam.
“Kalau ada pondok usianya sudah sampai 20 tahun, belum ada alumni yang berhasil maka itu gagal total” tambahnya.  Sebuah kritik yang tajam.[]

www.lombokfokus.com

Facebook

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Subscribe for notification
Refleksi HANI, Wartiah dan Rumah Aspirasi Gelar Loma Video Kreatif Mantan Wakil Gubernur NTB Wafat Aksi Joget Tiktok di Lombok Viral