Lombok Timur Lombokfokus.com – Bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan di ikuti seluruh Pejabat daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota se-Indonesia, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lombok Timur kembali mengikuti rapat kordinasi (Rakor) mingguan pengendalian inflasi daerah pekan ketiga di bulan September yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Lombok Timur, pada Selasa, 17 September 2024.
Pj. Bupati Lombok Timur HM Juaini Taofik didampingi sejumlah pejabat lingkup Pemerintah Daerah Lombok Timur mengikuti jalannya Rokor tersebut melalu via Zoom Meeting.
Pada Rakor tersebut, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Pudji Ismartini terkait perkembangan inflasi tahun 2024 menyampaikan tingkat inflasi nasional saat ini sebesar 2,21%, dengan tingkat inflasi tahun kalender (y-to-d) bulan Agustus 2024 sebesar 87% masih berada dibawah target inflasi 2024.
“Inflasi tahun ini masih di bawah target inflasi Nasional yaitu 2, 21%,” jelas Pudji Ismartini.
Meski demikian tingkat inflasi bulan Agustus 2024 ini lebih rendah jika dibandingkan inflasi tahun kalender bulan Agustus di tahun-tahun sebelumnya kecuali tahun 2021.
“Yang menjadi komoditi inflasi setiap tahun dari bukan Januari-Agustus 2024 adalah sigaret kretek mesin, emas perhiasan, beras, dan cabai rawit,” Lanjutnya.
Sementara pada Indeks Perkembangan Harga (IPH), secara nasional jumlah kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH pada M2 September 2024 lebih banyak dibandingkan kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH.
“Di bulan September ini, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH turun dari minggu sebelumnya,” ujar Pudji.
Dalam rilis BPS, 10 kab/kota dengan kenaikan IPH tertinggi berada diwilayah bagian timur yakni, Kab. Paniai, kab. Bolaang Mongondow Selatan, Kab. Tanah Bumbu, Kab. Jayapura, Kab. Bolaang Mangondow Timur, Kab. Sekadau, Kab. Barito Kuala, Kab. Pegunungan Arfak, Kab. Aceh Besar, dan Kab. Boven Digoel.
Sementara Pemerintah Daerah Lombok Timur menempati posisi ke empat dari 10 kab/kota se Indonesia dengan penurunan IPH tertinggi sebesar -4,55% yang menjadikan IPH Provinsi NTB sebesar 2,01%. Adapun komoditas penyumbang perkembangan IPH Lombok Timur adalah cabai merah, cabai rawit, dan tahu mentah.


