Scroll untuk baca artikel

Pembentukkan Sikap dan Perilaku Al’Quran Untuk Menjaga Kesehatan Mental

×

Pembentukkan Sikap dan Perilaku Al’Quran Untuk Menjaga Kesehatan Mental

Share this article

Penulis: Ratu Kusumawati, Mahasiswa Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies Psikologi Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Opini – Kesehatan mental menjadi trending topic belakangan ini. Banyak yang mulai menyadari pentingnya memiliki kesehatan mental yang baik untuk kualitas hidup yang lebih baik. Kesehatan mental yang kurang baik tampak pada gejala kecemasan yang berlebihan bahkan lebih jauh mengarah kepada gejala depresi.

IKLAN
Example 120x600

Bahkan Pada beberapa tahun terakhir, masalah gangguan mental menjadi salah satu kekhawatiran world health organization (WHO, 2018). Sejak sebelum adanya pandemi COVID-19, secara global maupun gangguan mental menunjukan peningkatan yang mencakup kecemasan, eating disorder, depresi, hingga skizofrenia.

WHO (2018) menemukan bahwa prevalensi tertinggi gangguan jiwa adalah kecemasan dan depresi. Persentase temuan WHO (2018), 3,6% atau sekitar 200 juta orang di dunia ditemukan menderita kecemasan dan 4,4% atau sekitar 322 juta orang mengalami depresi dimana sebagian besar penderita berasal dari wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Setiap orang pernah mengalami cemas pada saat-saat tertentu dalam hidupnya, namun ada yang mampu menanganinya dan ada yang kesulitan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Atkinson (2004) bahwa kecemasan dianggap abnormal jika kecemasan terjadi dalam situasi yang sebagian besar orang dapat menanganinya tanpa kesulitan yang berarti. Senada juga dengan pendapat Hawari (2001), kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan takut atau khawatir yang mendalam dan berkelanjutan, tetapi kemampuan dalam menilai realitas tidak terganggu, begitupun kepribadiannya juga masih utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of personality), sedangkan perilaku dapat terganggu walaupun masih dalam batas- batas normal.

Ciri-ciri kecemasan seperti merasa tegang, was-was atau khawatir, mudah lelah, kesulitan berkonsentrasi atau menemukan pikirannya menjadi kosong, dan gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, untuk terus tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak memuaskan. Dan pada umumnya mulai dialami pada masa remaja dan terjadi dua kali lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki.

Banyak faktor yang memicu kecemasan. Diantara Faktor-faktor penyebab kecemasan adalah: (a) Faktor biologis yaitu kontribusi-kontribusi kecil dari banyak gen yang membentuk individu cenderung untuk menjadi seorang pencemas. (b) Faktor psikologis, faktor ini disebabkan oleh banyak kompleksitas antara faktor kognitif, afektif, dan psikomotor, dan (c) faktor sosial yaitu peristiwa yang menimbulkan stres yang memicu kerentanan terhadap kecemasan.

Untuk banyak faktor yang memicu kecemasan tersebut, banyak penelitian berbasis Al Quran dan praktek ‘ibadah dari Al Quran yang dilakukan, sebagai bagian dari upaya memperbaiki keadaan.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh oleh Badri (1995) yang menunjukkan hasil positif bahwa mendengarkan ayat suci Al Quran memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan ketegangan urat saraf reflektif. Juga penelitian yang dilakukan Sholeh (2005) menunjukkan bahwa sholat tahajjud yang dilakukan secara kontinu, ikhlas, dan khusuk selain dapat memperbaiki emosional positif dan efektivitas coping sehingga dapat menimbulkan ketenangan, sementara ketenangan dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik sehingga dapat mengurangi resiko datangnya penyakit dan meningkatkan usia harapan hidup.

Diperkuat juga dengan hasil penelitian Abdurrochman (2008) bahwa stimulan Al Quran dapat dijadikan sebagai terapi relaksasi bahkan lebih baik dibandingkan dengan stimulan terapi musik, karena stimulan Al Quran dapat memunculkan gelombang delta sebesar 63,11% dari terapi musik.

Kenaikan gelombang delta juga mencapai persentasi tertinggi sebesar 1.057%. Stimulan Al Quran ini sering memunculkan gelombang delta di daerah frontal dan sentral baik di sebelah kanan maupun di sebelah kiri otak. Hal ini terjadi dikarenakan frekuensi gelombang bacaan Al Quran memiliki kemampuan untuk memprogram ulang sel-sel otak, meningkatkan kemampuan serta menyeimbangkannya.

Hal ini menunjukkan Al Quran lebih relevan sebagai media terapi karena bisa menfasilitasi teori transpersonal, kognitif, dan humanistik-eksistensial dibanding media lain seperti puasa. Al Quran mengandung banyak hikmah dan nasehat, baik dengan konsep pahala, hukuman maupun kisah yang semuanya dapat menjadi pelajaran guna perbaikan hati. Dimana kecemasan adalah bagian dari penyakit hati sehingga sangat tepat jika Al Quran digunakan penawar bagi kecemasan.

Al Quran juga memiliki banyak aspek keistimewaan dan kemukjizatan psikologis. Hal ini karena setiap ayat dalam Al Quran mengandung penyembuhan (syifa’), bersifat kuratif, dan menekankan munculnya emosi positif. Selain itu susunan ayat dan gelombang suara Al Quran sesuai dengan gelombang getaran sel dan otak manusia. Sehingga diyakini Al Quran sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki energi daya gugah dan gubah yang luar biasa, serta semacam pengaruh yang dapat melemahkan dan menguatkan jiwa dan fisik seseorang (al-Kaheel, 2012; Kuhsari, 2011; Sholeh & Musbikin, 2005).

Senada dengan pendapat al-Shabuni (2000) seseorang akan mendapatkan manfaat teraputik dari Al Quran jika Al Quran tersebut: (a) dipelajari dan diajarkan, (b) dibaca, (c) dihafal dan menjaga hafalan, (d) menyelami kandungannya, (e) menegakkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana Sholeh (2005) juga menyatakan bahwa teraputik Al Quran diperoleh dari memahami makna ayat-ayatnya melalui tafsir dan takwil (hikmah).

Hal ini terjadi karena selain mendapatkan ketenangan dalam menghafal Al Quran yang dilakukan berulang-ulang namun juga mengalami rekonstruksi kognitif dari ayat Al Quran yang dibaca, dihafalkan, dan dimengerti arti dan tafsirnya sehingga memiliki pemahaman yang tepat dalam menilai permasalahan dan mendapatkan insight dari makna kandungan Al Quran.

Bahkan ditinjau dari ilmu kedokteran, terapi dengan menggunakan unsur doa, dzikir setingkat lebih tinggi dari psikoterapi biasa, hal ini dikarenakan ada unsur spiritual (kerohanian/keagamaan/keTuhanan) yang dapat membangkitkan harapan, rasa percaya diri (Hawari 1997). Dimana membaca ayat-ayat Al Quran atau berdoa menyebabkan atau merangsang penyebaran sembilan puluh sembilan nama Tuhan (Asmaul Husna) keseluruh tubuh, pikiran dan jiwa. Suara vokalnya akan merangsang jantung, kelenjar pineal, kelenjar bawah otak, kelenjar adrenal dan paru-paru serta akan membersihkan dan meringankan semua organ tersebut (Haryanto, 2000).

Sehingga membaca dan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Quran akan memiliki dampak positif, tidak hanya membebaskan manusia dari rasa kegelisahan dan kecemasan, bahkan hubungan rohaniah antara manusia dan Tuhannya selama proses membaca Al Quran, memberi harapan, menguatkan kemauan, dan membekali kekuatan yang luar biasa sehingga memungkinkan manusia untuk dapat menghadapi segala permasalahan dan melaksanakan tugas dengan baik (Bastaman, 1995).

Dengan segala keutamaan Al Quran tersebut, sikap dan perilaku Al Quran sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan mental. Sikap dalam terminologi psikologi adalah suatu pandangan seseorang yang relatif menetap yang berisi perasaan, keyakinan, dan kecenderungan-kecenderungan perilaku terhadap orang lain, kelompok, ide, isu, atau objek-objek tertentu. Pandangan yang berisi perasaan (afeksi), keyakinan (kognisi), dan kecendrungan (konasi) tersebut yang diisi dengan nilai-nilai dari Al Quran.

Sikap ini sangat penting karena mampu mewarnai hampir setiap aspek dari pengalaman hidup. Nilai yang dipegang membentuk sikap, yang kemudian mempengaruhi cara pandang/ pemahaman terhadap dunia sosial. Sikap juga mempengaruhi fikiran, bahkan saat sikap sedang tidak nampak dalam perilaku.

Adapun proses pembentukkan sikap secara teori dapat dilakukan dalam beberapa hal. Yang pertama, respon yang dikondisikan dapat membentuk sikap tertentu. Berkaitan dengan nilai-nilai Al Quran yang sedang ditanamkan, cara ini dapat dilakukan misal dengan mengkondisikan respon berinteraksi dengan Al Quran selama 3 jam/ hari sebagai suatu hal yang baik, dan tidak berinteraksi dengan Al Quran adalah suatu hal yang tidak baik.

Yang kedua, menerapkan prinsip pemberian hadiah dan hukuman terhadap munculnya respon tertentu. Makin konsisten pemberian hadiah, sikap makin positif. Misal jika mencapai akumulasi interaksi dengan Al Quran 21 jam/ pekan, mendapat hadiah coklat. Atau misal menghukum diri tidak boleh makan coklat jika tidak mencapai akumulasi interaksi dengan Al Quran 21 jam/ pekan.

Yang ketiga, umumnya orang belajar menanggapi sesuatu dengan melihat apa yang dilakukan orang lain. Misal dengan sering melihat orang yang konsisten berinteraksi dengan Al Quran 3 jam/ hari. Individu memiliki kecendrungan mengikuti sikap dari apa yang dilihat dan atau didengar dari orang lain, karena melibatkan mekanisme social comparison, yaitu kecendrungan individu membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menentukan apakah pandangan individu tersebut terhadap realitas sosial benar atau tidak (Festinger, 1954).

Perubahan sikap tidak terjadi dengan tiba-tiba. Proses perubahan sikap dimulai dari perhatian, kemudian pemahaman dan penerimaan. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kekuatan sikap. Yang pertama, ekstremitas sikap (seberapa kuatkah reaksi emosi). Yang kedua, derajat keyakinan terhadap sikap (mengetahui persis sikap dan bahwa perasaan itu adalah posisi yang benar untuk dipegang). Yang ketiga, sejauhmana sikap tersebut didasarkan pada pengalaman pribadi dengan objek sikap.

Berinteraksi dengan Al Quran dengan rutin membuat ketiga faktor ini menjadi terpenuhi, mempengaruhi aksesibilitas sikap yaitu seberapa mudah sikap dimunculkan dalam berbagai konteks. Sehingga terbentuklah konsistensi sikap dan perilaku yang berdasar pada nilai-nilai Al Quran.

Example 120x600
Example 120x600