Lombok Tengah | Lombok Fokus — Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menargetkan dampak ekonomi mencapai Rp5 triliun. Target tersebut mencakup berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari sektor pariwisata, perhotelan, restoran, transportasi udara, hingga transaksi pelaku usaha di sekitar kawasan Mandalika.
Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Troy Warokka, mengatakan optimisme tersebut didasarkan pada capaian penyelenggaraan tahun sebelumnya yang disebut menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp4,9 triliun.
“Kalau kami ditanya apakah target Rp5 triliun itu tercapai, bismillahirrahmanirrahim, rasanya akan tercapai. Tahun lalu kami sudah mencapai Rp4,9 triliun. Artinya, seharusnya tahun ini ada peningkatan,” ujar Troy saat Press Conference, sabtu (10/10).
Menurutnya, perhitungan dampak ekonomi MotoGP tidak hanya berfokus pada aktivitas transaksi di dalam sirkuit selama rangkaian balapan berlangsung. Berbagai kegiatan ekonomi di luar kawasan sirkuit juga menjadi komponen yang diperhitungkan, termasuk pengeluaran wisatawan sejak tiba di NTB.
Troy menjelaskan, transaksi di bandara, pembelian suvenir dan merchandise, aktivitas di hotel dan restoran, serta belanja wisatawan di berbagai destinasi turut masuk dalam cakupan penghitungan. Selain itu, sektor penerbangan, investasi, dan aktivitas ekonomi lainnya juga menjadi bagian dari penilaian dampak penyelenggaraan MotoGP terhadap perekonomian daerah.
“Jadi, Rp5 triliun itu komponennya banyak. Bukan hanya di dalam sirkuit, tetapi juga di luar. Perhitungannya mulai dari pesawat turun, wisatawan masuk ke bandara, berbelanja, kemudian melanjutkan aktivitasnya di Lombok dan sekitarnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pergerakan ekonomi diperkirakan masih berlangsung setelah balapan berakhir. Mobilitas wisatawan yang melanjutkan perjalanan maupun memperpanjang kunjungan di Lombok menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam proses penghitungan tersebut.
Tingginya kebutuhan perjalanan selama MotoGP juga mendorong penambahan penerbangan untuk mengakomodasi mobilitas penonton dan wisatawan. Troy menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan Garuda Indonesia terkait dukungan transportasi selama penyelenggaraan. Bahkan, pembicaraan mengenai kerja sama untuk pelaksanaan tahun berikutnya mulai dilakukan lebih awal.
Di sisi lain, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 juga melibatkan 600 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyediakan berbagai produk dan sajian di area festival. Kehadiran UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat ekonomi ajang balap internasional itu bagi masyarakat lokal.
Rangkaian hiburan, termasuk penampilan Judika dan Epi Asmara, turut menjadi daya tarik bagi pengunjung. Troy menilai antusiasme penonton, persaingan pembalap di lintasan, serta beragam kegiatan pendukung berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi selama penyelenggaraan.
Untuk menghitung dampak ekonomi secara lebih terperinci, Troy menyebut Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan survei sejak sebelum acara berlangsung. Selain itu, perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga hadir dalam rangkaian kegiatan dan pembahasan terkait dampak ekonomi MotoGP.
Penghitungan tersebut mencakup berbagai indikator, termasuk aktivitas sektor pariwisata dan transaksi ekonomi di sejumlah sektor pendukung. Karena itu, angka dampak ekonomi tidak dapat disamakan dengan pendapatan penyelenggara ataupun penerimaan pemerintah daerah semata.
Meski penyelenggara optimistis target Rp5 triliun dapat tercapai, angka akhir dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 masih menunggu hasil survei dan pengolahan data resmi dari pihak terkait.
Dengan cakupan aktivitas yang melibatkan sektor transportasi, akomodasi, kuliner, UMKM, dan pariwisata, MotoGP Mandalika diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga internasional, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap perputaran ekonomi dan pengembangan pariwisata di Nusa Tenggara Barat.















