Verification: 27a3a887773ff714
banner 120x600
banner 120x600
Opini  

Modernitas, Refleksi Kritis Gaya Hidup Masyarakat Konsumsi

Sabolah
Ahmad Halimi, Kader PMII Rayon Ibnu Khaldun, Komisariat UIN Mataram, Cabang Kota Mataram)
Penulis : Ahmad Halimi (Kader PMII Rayon Ibnu Khaldun, Komisariat UIN Mataram, Cabang Kota Mataram)

MATARAM, LOMBOK FOKUS | Modernitas merupakan istilah yang sering digunakan untuk menunjuk tahap perkembangan sejarah peradaban manusia yang dimulai pada abad ke-18 yakni abad dimulainya revolusi industri di Eropa. Revolusi industri ini mengakibatkan perubahan drastis di berbagai aspek kehidupan manusia.

Revolusi industri mentransformasikan masyarakat agraris ke masyarakat Industrial dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. Pembagian kerja menjadi lebih terspesialisasi karena produksi barang menggunakan mesin yang mensyaratkan pembagian kerja yang rigid merupakan salah satu konsekuensi hal tersebut. Kemudian diikuti dengan revolusi pada bidang lain, seperti revolusi budaya di tandai dengan meningkatnya peran pengetahuan ilmiah dan media massa, revolusi perkotaan, ditandai dengan meningkatnya arus urbanisasi, dan revolusi ekonomi dengan meningkatnya motif ekonomi dalam setiap tindakan manusia.

BANK NTB Syariah

Modernitas secara umum merupakan perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang maju mengikuti perkembangan masyarakat lainnya yang telah dianggap lebih dahulu maju. Seperti yang dikatakan oleh Max Weber, bahwa masyarakat modern merupakan masyarakat yang sudah mengalami proses perubahan berpikir dari awalnya percaya terhadap hal-hal yang bersifat mistis atau takhayul kemudian beralih menjadi lebih berpengetahuan dan cenderung lebih rasional.

Hari ini kita dapat menyaksikan perkembangan manusia, baik dari pola hidup, pola psikisnya, bahkan pola batin. Modernitas mendesak manusia untuk mampu mengikuti zaman, dengan langkah babat tabrak tubruk beruntun dalam segala aspek aktivitas
Tidak dapat di pungkiri bahwa perkembangan pengetahuan dan teknologi telah memberi pengaruh besar terhadap peradaban manusia modern sekarang ini. Kemajuan dari berbagai perkembangan inilah yang kemudian direkayasa manusia secara demonstratif dalam segala aspek. Tetapi, di samping penemuan-penemuan baru itu telah memberi pengaruh besar yang sulit dikendalikan oleh manusia itu sendiri, juga lahir kenyataan bahwa penemuan tersebut menjadi prinsip yang mengatur manusia.

Teknologi memaksakan tuntutan-tuntutan ekonomis dan politiknya kepada manusia. Sehingga manusia seolah menjadi figuran dalam drama kolosal yang mereka ciptakan sendiri. Mereka inilah yang dalam bahasa psikologi disebut manusia massa, yakni manusia yang lahir tergesa-gesa, terasing dari sejarahnya sendiri, dan tidak memiliki masa lampau untuk berekspresi. Singkatnya, inilah gambaran manusia yang digerakkan oleh kekuatan peradaban yang anonim.

READ  Politik Lokal dan Persepsi Masyarakat Desa

Di sisi lain proses modernisasi merupakan prestasi gemilang yang diraih manusia dalam bidang teknologi juga menimbulkan pelbagai patologi sosial yang tidak memiliki ujung. Sehingga kemudian tampaklah wajah modernisasi terkesan sangat paradoks, bagai dua sisi mata uang yang sulit untuk memilih melainkan harus menerima keduanya. Ketika modernitas memamerkan kemajuan dam menjanjikan kemakmuran, tetapi juga menghadirkan kebangkrutan dan perasaan cemas akan kesengsaraan, yang pada awalnya dikibarkan penuh perdamaian dengan pesan cinta kasih, juga sesekali -bahkan sering- dibarengi dengan kebencian, kehancuran, kesengsaraan dan bentuk kebiadaban lainnya.

Contoh yang paling relevan adalah terkonstruksinya pola pikir masyarakat agar gemar mengkonsumsi barang-barang hasil industri kapitalis, melalui iklan, melalui peliputan gaya hidup para role model atau artis idola, Melalui budaya kuliner dan melalui penanaman rasa bangga mengeluarkan uang besar demi gengsi, tanpa sadar mereka telah terhegomi pelaku industri modern sekarang ini
Keserakahan akan konsumsi tersebut merupakan suatu bentuk ekstrem dari apa yang disebut Sigmund Freud sebagai “karakter oral” yang menjadi kekuatan psikis dominan dalam realitas masyarakat industri dewasa sekarang ini.

Semakin ia berkuasa menciptakan mesin-mesin, semakin tak berdaya dia sebagai manusia. Semakin banyak ia mengkonsumsi produk-produk kapitalisme semakin dalam ia tenggelam sebagai budak yang diciptakan dan dimanipulasi oleh sistem industri kapitalis.

la salah menafsirkan getaran jiwanya tentang apa itu kegembiraan dan kebahagiaan dalam kenikmatan materi, ia menganggap kehidupan-Nya berarti kalau ia sudah memuaskan nafsu kerakusannya. Sehingga itu seolah menjadi agama barunya. Kebebasan untuk mengkonsumsi dianggapnya menjadi esensi kebebasan manusia.

Dalam teori Jean Paul Baudrillard mengenai masyarakat konsumsi, ia menyatakan bahwa sesungguhnya masyarakat tidak lebih dari membeli simbol tertentu terhadap apa yang mereka beli. Meskipun setiap barang memiliki nilai guna dan nilai tukar, tapi dalam sudut pandang masyarakat konsumsi kedua nilai tersebut seolah terkikis dan tergeser prioritasnya dalam pelekatan di objek konsumsi.

Prioritas tergantikan oleh suatu simbol tertentu yang bersifat abstrak. Produk-produk yang diciptakan para kapitalis bernama kebanggaan tertanam dalam psikologis masyarakat yang mendewakan barang-barang mewah. Ia menjadi masyarakat yang termekanisasi secara lengkap, tunduk pada output materi dan konsumsi maksimal.

READ  Dr Zul Dan PKS NTB, Ada Apa...?

Dalam situasi ini manusia dialih bentuk menjadi sebuah bagian dari mesin total dengan cukup makan dan terhibur, namun pasif, tak hidup dan hanya punya sedikit perasaan, situasi ini disebut Dunia hipperealitas. Dalam dunia hipperealitas, objek-objek asli yang merupakan hasil produksi bergumul menjadi satu dengan objek-objek hiperreal yang merupakan hasil reproduksi.

Realitas-realitas hiper, seperti Online media, Facebook, Twitter, Disney Land, Shopping, mal dan televisi tampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya, dimana model, citra-citra dan kode hipperealitas bermetamoforsa sebagai pengontrol pikiran dan tindak-tanduk manusia.

Mentalitas ini pun semakin merasuki masyarakat, dan seolah-olah tidak dapat dihindarkan, bahkan telah menjadi suatu keutamaan dalam moralitas masyarakat modern.

Dalam kaitan dengan bidang teori konsumen, aspek-aspek kelas sosial, identitas, dan ideologi. Dikenal dengan teori Manipulasi tanda. Dan sangat relevan dengan analisis Jean Baudrillard, dimana para konsumen membeli barang tidak ditentukan oleh mutu suatu produk, harga, pelayanan dan selera tetapi lebih kepada rentetan motivasi yang lebih kompleks. Pada kompleksitas motivasi tersebut ada motivasi prestise dan integritas sosial, misalnya pembelian jam tangan merek Rolex, semua barang-barang mewah tersebut di dramatisasi sedemikian rupa dan kemudian direduksi menjadi identitas, dan tanda semiotik pada pemiliknya. Sehingga hubungan konsumen dengan dunianya dan menjadi bagian dari kelasnya.

Budaya konsumsi memberikan gambaran masyarakat yang penuh dengan aturan tanda-tanda, persaingan masalah social pendapatan jabatan, kepemilikan properti dan kekuasaan. Dengan demikian nilai konsumsi, tidak dapat hanya dipahami sebagai konsumsi nilai guna tetapi lebih kepada sebagai konsumsi tanda. Dalam masyarakat konsumen hubungan manusia yang terjadi ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh suatu kode, Objek adalah tanda.

Perbedaan status yang terjadi sebut sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan seseorang diukur oleh layaknya tanda yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan seseorang individu berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu, jadi suatu kode mengambil alih fungsi kontrol terhadap individu.
Di tengah situasi pandemik covid-19 yang memaksa seseorang untuk tidak beraktivitas serta berdiam diri rumah, tidak menghilangkan perilaku konsumtif masyarakat modern, pembelian melalui media Online pun dilakukan. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh pelaku industri untuk menarik minat para konsumen, seperti kemudahan berbelanja, promosi, diskon dan bonus pembelian.

READ  Kok Kerisis Air Pak Gubernur?

Kemudahan-kemudahan tersebut memang menguntungkan masyarakat karena tanpa harus keluar rumah, karena segala bentuk kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Namun tanpa disadari mereka kehilangan kontrol atas diri mereka dengan membeli produk secara berlebihan dan bahkan membeli produk yang tidak dibutuhkan.

Contoh, menimbun masker, dan memborong alkohol untuk membuat disinfektan menyebabkan terjadinya kelangkaan. Hal itu menyebabkan kepanikan di tengah-tengah masyarakat kelas bawah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan diri. Namun realitas yang pernah penulis lihat, sering kali orang-orang yang berperilaku konsumtif sampai harus terjebak utang demi menutupi gaya hidup dan harus berurusan dengan pihak penagih hutang, mereka terjebak dalam gaya hidup materialistis dan hedonisme sehingga mengupayakan segala cara untuk mendapatkan uang, walaupun kita tidak dapat memungkiri bahwa perilaku konsumtif dalam teori ekonomi juga membantu menggerakkan perekonomian negara, contohnya menambah pemasukan pajak, membuka dan mempertahankan lapangan pekerjaan, menciptakan kondisi pasar bagi para produsen barang, dan memperbesar peluang terjadinya usaha baru.

Budaya konsumtif ini bukan tidak mungkin akan mengakar pada generasi-generasi selanjutnya, yang kemudian akan memberikan lebih banyak dampak negatif. Sebagai bagian dari generasi penerus bangsa, sudah selayaknya kita lebih selektif dalam menerima budaya yang di dapat dari dunia luar. Dengan memiliki sikap optimis dan menjadi diri sendiri di mana pun kita berada, merupakan cara kita menangkal dampak negatif dari budaya konsumtif. Dan juga melatih kesabaran dengan tidak membeli semua hal yang kita inginkan bukan kita butuhkah.

Hal ini juga dapat dilakukan dengan menyibukkan diri dengan melaksanakan kegiatan yang bermanfaat. Dan juga sebagai seorang konsumen, tentunya kita harus lebih bijaksana agar tidak terjebak dalam perilaku konsumtif. Semoga ketika suatu saat virus Corona mereda, virus konsumtif juga ikut mereda.

www.lombokfokus.com

Facebook

Sabolah
banner 120x600
Sabolah

Tinggalkan Balasan

Sabolah
Subscribe for notification