LOMBOK TENGAH – Sebanyak delapan siswa dilaporkan mengalami keluhan sakit perut setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) didistribusikan di sejumlah sekolah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Janapria, Bakan, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (22/09/2026).
Berdasarkan laporan kejadian yang diterima, keluhan mulai muncul setelah makanan MBG dikonsumsi sekitar pukul 09.00 WITA. Pihak SPPG kemudian menerima informasi dari sejumlah sekolah bahwa makanan yang didistribusikan pada hari tersebut diduga memiliki bau yang tidak seperti biasanya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihak SPPG langsung mengimbau sekolah agar tidak membagikan makanan dan melakukan penarikan seluruh ompreng MBG yang telah didistribusikan.
Namun, setelah proses penarikan dilakukan, pihak SPPG mendapat informasi bahwa sejumlah siswa mengalami keluhan dan dibawa ke fasilitas kesehatan.
Dalam laporan pembaruan hingga pukul 15.00 WITA, tercatat sebanyak delapan siswa yang terdampak akibat mengkonsumsi MBG tersebut, Dimana enam siswa telah diperbolehkan pulang, sementara dua siswa masih menjalani penanganan atau observasi di Puskesmas Langko.
“Awalnya ada enam anak yang dibawa ke Puskesmas, kemudian bertambah menjadi delapan. Alhamdulillah, enam sudah pulang dan dua masih di Puskesmas. Kami dari pihak SPPG tetap standby di Puskesmas,” ujar Pihak Dapur SPPG Bakan.
Adapun menu MBG yang didistribusikan pada hari tersebut terdiri dari dimsum ayam, acar timun dan wortel, kacang kedelai, buah kelengkeng, serta nasi putih.
Dalam analisis awal, saus pada menu dimsum ayam disebut sebagai salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum dapat disebut sebagai penyebab pasti.
Dari sisi administrasi dan pelaksanaan, SPPG Lombok Tengah Janapria Bakan tercatat memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kepala SPPG dan ahli gizi juga dilaporkan hadir dalam apel pagi.
Selain itu, seluruh ompreng MBG disebut telah memiliki label, sementara chef yang bertugas tercatat memiliki sertifikasi BNSP.
SPPG tersebut diketahui mulai beroperasi pada 14 September 2025 dengan jumlah penerima manfaat (PM) sebanyak 2.134 orang. Dalam catatan riwayat, SPPG juga pernah mengalami dua kali suspend, yakni terkait kasus roti berulat dan persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Untuk memastikan penyebab kejadian, pihak terkait melakukan sejumlah langkah tindak lanjut, antara lain pemeriksaan terhadap Kepala SPPG dan sumber daya manusia yang terlibat, evaluasi standar operasional prosedur (SOP), infrastruktur dan proses produksi, serta pengamanan dan penelusuran sampel makanan atau batch yang berkaitan dengan kejadian.
Pihak SPPG juga disebut masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kondisi para siswa dan menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga laporan ini dibuat, jumlah siswa terdampak tercatat sebanyak delapan orang. Data tersebut masih dapat diperbarui sesuai hasil pemeriksaan medis dan koordinasi lanjutan.















