LOMBOK TENGAH | LOMBOK FOKUS — Kebakaran hebat yang melanda kawasan permukiman adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi perhatian serius terhadap perlindungan kawasan dan bangunan tradisional Sasak di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Kedaton Lombok Adi, Lalu Satria Wangsa, mengatakan kebakaran di Sade harus menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi bencana, khususnya di kawasan-kawasan adat yang memiliki bangunan tradisional dengan material yang rentan terhadap api.
“Tahun ini dua kompleks bangunan tradisional Sasak terbakar, yaitu Bayan Timuq dan Sade. Selain dua ini, di Lombok masih banyak kompleks bangunan tradisional lainnya seperti Kampung Adat Ende, Senaru, Gumantar, Limbungan/Perigi di Lombok Timur, Gedeng Sebute, Keraton Pakulan-PeJanggik, Masjid Kuno Gg Pujut, Masjid Kuno Rembitan, Masjid Kuno Bayan dan lainnya,” ujar Lalu Satria Wangsa.
Menurutnya, perhatian terhadap keselamatan kawasan tradisional tidak boleh hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Sistem mitigasi dan perlindungan harus dipersiapkan sejak dini, mengingat sejumlah kawasan adat menggunakan material alami seperti kayu, bambu dan alang-alang.
“Kita berharap tidak ada lagi kebakaran. Saatnya perkuat mitigasi kebencanaan,” tegasnya.
Lalu Satria menilai, persoalan yang ditimbulkan dari kebakaran kawasan tradisional jauh lebih besar daripada sekadar kerugian material.
Ia mengatakan, bangunan tradisional merupakan bagian dari rekam jejak peradaban masyarakat Sasak yang menyimpan pengetahuan arsitektur, sejarah, nilai sosial, serta berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Sepertinya begitu. Padahal sebuah bangunan tradisional bukan semata-mata tentang fisik bangunan, tetapi di sana tersimpan jejak ilmu arsitektur, sejarah, nilai-nilai dan sebagainya,” katanya.
Karena itu, ia berharap peristiwa kebakaran Sade dapat menjadi penggugah bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar perlindungan terhadap bangunan tradisional mendapat perhatian lebih serius.
“Dengan kejadian tersebut kita berharap menjadi penggugah agar perlindungan bangunan tradisional saatnya diperhatikan betul-betul,” ujarnya.
129 Rumah di Sade Ludes Terbakar
Kebakaran melanda kawasan permukiman adat Sade pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 22.00 WITA.
Api yang diduga bermula dari salah satu rumah warga dengan cepat merambat ke bangunan lainnya. Kondisi tersebut diperparah oleh material bangunan tradisional yang sebagian besar menggunakan kayu, bambu dan atap ilalang serta jarak antarrumah yang relatif berdekatan.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 129 rumah dilaporkan ludes terbakar. Sebanyak 320 jiwa atau 120 kepala keluarga terdampak akibat musibah tersebut.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas di kawasan adat dan wisata juga ikut terdampak, termasuk masjid, museum, lapak UMKM dan fasilitas umum lainnya.
Warga berusaha menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang yang masih memungkinkan untuk dibawa. Namun, cepatnya rambatan api membuat sebagian besar warga tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka.
Pemkab Lombok Tengah Fokus Tangani Warga
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah langsung melakukan langkah penanganan terhadap warga terdampak.
Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri memimpin rapat koordinasi penanganan dampak kebakaran di Desa Rambitan pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Pemerintah daerah memprioritaskan keselamatan warga serta pemenuhan kebutuhan dasar, tempat tinggal sementara dan bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
“Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga,” kata Pathul Bahri.
Sementara itu, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Kepala Desa Rambitan Lalu Winakse menyebut api menjalar sangat cepat sehingga penyebab awal kebakaran belum dapat dipastikan.
Dugaan sementara dari sejumlah warga mengarah pada kemungkinan korsleting listrik. Namun, dugaan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.
Proses pemadaman melibatkan petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, bantuan dari sejumlah wilayah di NTB, personel TNI-Polri serta masyarakat.
Mitigasi Harus Menjadi Bagian dari Pelestarian
Kebakaran Sade sekaligus memperlihatkan tantangan besar dalam menjaga kawasan tradisional yang masih mempertahankan konstruksi dan material warisan leluhur.
Di satu sisi, penggunaan bambu, kayu dan alang-alang menjadi bagian penting dari karakter arsitektur tradisional Sasak. Namun di sisi lain, material tersebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap api apabila tidak diikuti sistem pencegahan dan penanganan kebakaran yang memadai.
Karena itu, upaya pelestarian kawasan tradisional ke depan dinilai tidak cukup hanya menjaga bentuk dan keaslian bangunan.
Aspek keselamatan, jalur evakuasi, akses kendaraan pemadam, ketersediaan sumber air, sistem deteksi dini, edukasi masyarakat hingga pengaturan instalasi listrik juga perlu menjadi bagian dari strategi pelestarian.
Kebakaran Bayan Timuq dan Sade pada tahun yang sama menjadi peringatan bahwa kawasan tradisional Sasak membutuhkan sistem perlindungan yang lebih terencana.
Sade bukan hanya destinasi wisata. Di dalam rumah-rumah tradisionalnya terdapat pengetahuan tentang cara membangun, tata ruang, hubungan sosial, tradisi dan sejarah panjang masyarakat Sasak.
Ketika sebuah rumah tradisional terbakar, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga sebagian dari pengetahuan dan jejak kebudayaan yang belum tentu dapat dikembalikan seperti semula.
Karena itu, seruan Kedaton Lombok Adi agar mitigasi kebencanaan diperkuat menjadi penting, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat dan warisan budaya itu sendiri.















