Lombok Timur, Lombokfokus.com – Kisah pilu dialami Ibu Wati, warga Desa Otak Desa, Kecamatan Sikut, Kabupaten Lombok Timur. Dulu dikenal sebagai siswi berprestasi dan penerima beasiswa, kini ia hidup sebatang kara dalam kondisi memprihatinkan di rumah hampir roboh.
Sejak kedua orang tuanya meninggal, Ibu Wati hanya bertahan di rumah peninggalan keluarga yang nyaris runtuh, tidur beralaskan tikar, dan mengandalkan belas kasih tetangga. Kondisi fisiknya yang terbatas membuatnya sulit bekerja, sehingga bantuan sosial menjadi harapan utama.
Namun, alih-alih mendapatkan perhatian serius, bantuan yang diterimanya justru tidak rutin. Ia pernah mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari desa, tetapi pencairannya sering terlambat hingga 2–5 bulan. Situasi ini menegaskan bahwa sistem distribusi bantuan sosial di Lombok Timur masih jauh dari maksimal.
Warga Bergerak, Pemerintah Terlambat
Seorang warga bernama Senja Sutriadi mengaku prihatin dan berupaya menggalang dana untuk membantu kebutuhan dasar Ibu Wati, mulai dari kasur, bantal, sembako, hingga biaya pengobatan.
“Mbak Wati hidup sebatang kara dengan kondisi psikologis yang kurang stabil. Padahal dulu dia dikenal pintar, sampai dapat beasiswa sekolah. Tapi sekarang kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Senja, Selasa (24/8/2025).
Menurut Senja, bantuan BLT yang seharusnya menjadi penopang hidup Ibu Wati justru tidak menentu. “Kadang bantuannya keluar, tapi telat sampai berbulan-bulan. Sekarang kami sedang berusaha menggalang dana, tapi baru ada satu orang yang membantu, hanya Rp100 ribu,” ungkapnya.
Ia juga sudah mengajukan permohonan ke sejumlah yayasan agar Ibu Wati bisa mendapatkan rumah layak huni.
Respons Dinas Sosial
Menanggapi kasus ini, Kepala Dinas Sosial Lombok Timur, Suroto, menyatakan pihaknya langsung menurunkan petugas untuk melakukan asesmen ke lokasi.
“Begitu kami mendapat informasi, saya langsung kirim petugas untuk melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan serta desa,” jelas Suroto.
Ia menegaskan, koordinasi itu diharapkan bisa menghasilkan solusi terbaik. “Saya sudah minta desa dan kecamatan mengajukan permohonan bantuan ke Baznas dengan tembusan ke Dinsos dan Bupati. Kami akan kawal agar Ibu Wati segera mendapat bantuan,” tegasnya.
Evaluasi Kinerja Dinsos
Kasus Ibu Wati menjadi cermin bahwa tata kelola bantuan sosial di Lombok Timur perlu evaluasi menyeluruh. Masalah keterlambatan pencairan BLT hingga lemahnya pengawasan lapangan menunjukkan bahwa sistem perlindungan sosial belum sepenuhnya berpihak pada warga miskin.
Jika tidak ada langkah konkret, bukan tidak mungkin masih banyak warga seperti Ibu Wati yang luput dari perhatian negara.






