![]() |
| Papuk Mune sedang terbaring sakit di pondok kecilnya yang berada di Dusun Logor, Desa Pemepak Kecamatan Pringgarata, kemarin. |
Lombok Tengah, LF | Cukup memprihatinkan keadaan Papuk Mune hidup sebatang kara di rumah Reot yang berukuran dua Meter di Dusun Logor, Desa Pemepak Kecamatan Pringgarata.
Di usia yang ke 50 tahun, ia ditinggal oleh sang suami menghadap ilahi. Papuk mune yang konon ceritanya memiliki dua anak perempuan, namun keduanya sudah berkeluarga semua.
Amak Marisah, kerabat Papuk Mune mengakui bahwa, kedua anak perempuannya sudah berkeluarga semua, yang paling besar merantau ke Kalimantan dan gak pernah pulang-pulang, yang paling bungsu menikah ke Desa Golong.
“Tapi keduanya jarang ada yang pulang nengok keadaan ibunya, lebih-lebih yang di Kalimantan jauh dan sulit dijangkau, kalau anaknya yang menikah ke Desa Golong itu memang karena keadaan ekonominya juga berasal dari orang yang gak berada, 11 12 dengan keadaan dirumah ibunya, sehingga untuk nengok ibunya kadang sekali sebulan,” bebernya saat diwawancara dirumahnya kemarin.
Namun, yang lebih memprihatikan disaat hujan malam dan disertai angin malam tiba, ia tidak pernah mau angkat kaki untuk mencari tempat berteduh, ia bersi kokoh tetap tinggal disana walau kadang rumahnya yang berukuran lima meter itu hampir kebawa angin.
“Untung sekarang atapnya sudah di ganti dengan asbes, karena kemarin pas angin kencang atapnya hanya memakai kotak dan karung platik dari semen itu sehingga pondok kecilnya sempat roboh terbawa angin, dan alhamdulilah sekarang sudah bisa di perbaiki dari swadaya masyarakat, walau memang ukuran rumahnya tidak bisa berubah dan tak segera, tapi setidaknya atapnya tidak bocor dan bisa sedikit lebih kokoh,” ungkapnya.
Sedangkan untuk kebutuhan makan dan kesehariannya selalu numpang di kerabat tetangganya, Bapak Marisah yang merupakan tetangga yang baik dan peduli akan sesama.
“Kalau keadaan ekonomi saya lagi tidak ada, kadang kepala dusun sering memantau dan memberikan beras, makanan lainnya. Kalau kepala dusun tidak kesini, kadang dia sendiri yang pergi kerumahnya untuk minta makan dan beras ketika masih sehat, tapi untuk dua hari ini keadaannya sedang sakit sehingga tidak pernah bisa bangun dan keluar rumah dari kemarin,” tambahnya.
Sementara itu, Lalu Naprihadi mewakili Pemdes setempat mengakui, kesulitan dalam proses pendataannya ketika ingin diberikan bantuan, karena tidak punya kartu identitas seperti KTP, KK dan lainnya.
“Bagaimana mau dikasih bantuan kalau datanya tidak bisa diferifikasi,” ujarnya.
Akan tetapi untuk saat ini, pemdes sudah berkoordinasi dengan Kepala Dusun setempat dan akan diusahakan mendapatkan bantuan PKH dan RTLH.
“Pemdes dan kepala dusun sedang berusaha mencari data identitas agar datanya segera bisa diferifikasi,” tutupnya. (cr-nur)
www.lombokfokus.com



