Lombok Fokus|Lotara – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara terus berbenah dalam rangka memberikan pelayanan kepada wisatawan. Pada tahun ini, tercatat sejumlah destinasi wisata direvitalisasi oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Utara. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Destinasi Wisata Alfian Zubair, Rabu (18/09/2024). Penataan destinasi ini sangat penting sebab merupakan misi dinas untuk menambah masa tinggal wisatawan supaya jauh lebih lama.
Menurut Alfian, di wilayah Dusun Gili Air Desa Gili Indah Dispar membangun sebuah talud untuk mengantisipasi ombak yang naik ketika cuaca ekstrim. Di lokasi tersebut merupakan kawasan yang rentan di hantam gelombang sehingga menyebabkan sejumlah jalan rusak. Talud tersebut nantinya akan di manfaatkan untuk menahan gelombang itu. Sementara di Kampung Agrowisata Genggelang, Dispar coba untuk mensinergikan sejumlah potensi di sana. Di domonisasi kawasan perkebunan yang subur, dispar mencoba mengabungkan antara agro dengan wisata.
“Talud di Gili Air, kemudian di Genggelang juga ada. Karena di sana banyak potensi seperti Kampung Coklat Senara, Air Terjun Kertaharja, Mata Air Kakong maka kami ingin mensinergikan untuk dijadikan satu paket wisata,” ujarnya.
Dijelaskan, di Agrowisata Genggelang tercatat ada enam lokasi pembangunan yang dikerjakan Dinas Pariwisata di antaranya, penataan parkir, pembangunan Home Stay di Duaun Penjor, pembangunan gerai outlet wisata, revitalisasi sarana dan prasarana Air Terjun Kertaraharja, pembangunan Musala dan Toilet. Dari keseluruhan pekerjaan tersebut dinas menggelontorkan anggaran senilai kurang lebih Rp 1 miliar.
“Gerai outlet ini dibangun di depan kantor desa nantinya itu akan menjadi pusat informasi wisata, sementara perbaikan lainnya meliputi berugak serta gapura menuju ke destinasi wisata tersebut,” jelasnya.
Pekerjaan itu diperkirakan akan tuntas pada akhir tahun ini, setelahnya maka dinas akan membangun sinergi dengan Desa dan Pokdarwis setempat untuk kemudian nantinya bisa dikelola bersama. Menjual paket wisata Agrowisata ke tiga gili bukan hal yang tidak mungkin, kampun cokelat serta durian yang melimpah di kawasan tersebut merupakan modal utama. Selain itu mata air dan air terjun yang ada sudah cukup bagus untuk menunjang aktivitas agrowisata.
“Kita harap nantinya juga bisa dijadikan satu paket untuk kemudian di promosikan. Karena wisatawan khususnya mancanegara suka dengan itu, kita rencananya akan bawa ke hotel hotel khususnya yang ada di Tiga Gili,” katanya.
Untuk Revitalisasi Ekowisata Kerujuk, Alfian menegaskan pada tahun ini dikerjakan gapura masuk dan jembatan. Ekowisata Kerujuk merupakan destinasi yang sempat boming, sebab permainan tradisional ditambah alamnya yang masih alami, dijadikan oleh wisatawan tujuan untuk berkunjung. Hanya saja, lantaran ditetpa Gempa tahun 2018 dan Covid-19 tahun 2020 praktis wisata yang dikelola oleh masyarakat itu down.
“Kerujuk bisa dikembangkan lagi karena sudah ada potensi namun sempat turun karena gempa dan covid, kita revitalisasi gerbang menuju kerujuk dan jembatan tempat selfie yang nilainya Rp 100 juta,” pungkasnya.(iko)


