Di sebuah sudut sunyi di Kecamatan Janapria, ada seorang guru yang menjalani hidupnya dengan sederhana nyaris tanpa keluhan. Namanya Muhammad Yasin, seorang guru agama di SDN Durian.
Setiap pagi, Yasin tidak pernah berangkat sendiri. Ia tidak bisa mengendarai motor. Langkahnya menuju sekolah selalu bergantung pada kebaikan orang lain diantar oleh sang adik, dijemput dengan penuh kasih, atau kadang menunggu tumpangan dari rekan guru yang lewat.
Dalam bahasa sederhana orang kampung, orang-orang sering berkata, “Malik sak ndek tao bemontor pak Yasin. Bilang lemak te atong sik arik dtg ngakahan…” sebuah pengakuan jujur bahwa hidup Yasin memang tak mudah, tapi ia menjalaninya dengan keteguhan hati.
Di balik keterbatasannya, Yasin tetap berdiri di depan kelas. Mengajarkan nilai-nilai agama, kesabaran, dan akhlak kepada anak-anak desa. Ia bukan sekadar guru, ia adalah harapan kecil di tengah keterbatasan besar.
Namun, harapan itu seketika runtuh pada sebuah hari yang tak akan mudah ia lupakan.
Saat itu, di dalam kelas, Yasin tengah menjelaskan pelajaran seperti biasa. Seorang murid bernama Oscar anak dari kepala desa setempat terus mengganggu jalannya pembelajaran. Dengan niat mendidik, Yasin menegur. Dalam refleks seorang guru yang ingin menertibkan, tangannya tanpa sengaja menyentuh pipi anak itu.
Tidak ada amarah. Tidak ada kekerasan. Hanya reaksi spontan seorang pendidik yang ingin kelasnya kembali tenang.
“Saya tidak memukulnya keras. Kalau iya, pasti ada bekas,” ucap Yasin lirih.
Ia bahkan sudah meminta maaf.
Namun, maaf itu tak cukup meredam amarah yang datang kemudian.
Alih-alih menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, badai justru datang menghantam Yasin. Ia mengaku dipukul, dicekik, bahkan dihina dengan kata-kata yang merendahkan martabatnya sebagai manusia dan sebagai seorang guru.
“Dia memanggil saya dengan sebutan yang tidak pantas… anjing,” tutur Yasin, suaranya nyaris patah.
Di titik itu, bukan hanya tubuhnya yang terluka. Harga dirinya sebagai seorang pendidik ikut diinjak-injak.
Bayangkan seorang guru yang setiap hari bahkan harus menunggu tumpangan untuk mengajar… yang tetap datang meski dalam keterbatasan… yang memilih mengabdi di desa… justru harus pulang dengan luka bukan karena gagal mengajar, tapi karena mencoba mendidik.
Kisah Yasin bukan sekadar tentang sebuah insiden. Ini adalah potret pilu tentang rapuhnya penghormatan terhadap guru. Tentang bagaimana niat baik bisa berbalas kekerasan.
Di ruang kelas kecil itu, Yasin mungkin hanya ingin satu hal sederhana: anak-anak belajar dengan baik.
Namun yang ia dapatkan justru ketakutan.
Dan hari itu, mungkin untuk pertama kalinya, perjalanan pulang Yasin terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena ia harus menunggu jemputan…
Tapi karena hatinya terluka.







