MATARAM — Tak ada kue tart mewah. Tak ada dekorasi gemerlap. Tak ada pula sosok yang sedang berulang tahun. Tapi Sabtu malam (18/5), Tuwa Kawa Coffee and Roastery justru hangat oleh tawa, testimoni, dan rasa rindu.
Ya, ulang tahun ke-53 Dr. H. Zulkieflimansyah—Gubernur NTB periode 2018–2023—dirayakan dengan cara berbeda. Tanpa kehadiran beliau secara fisik, tapi penuh dengan kehadiran hati. Acara ini diinisiasi oleh Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, dan disambut antusias oleh lebih dari 70 tokoh NTB dari beragam latar belakang.
“Hari ini kami dedikasikan untuk sosok yang selalu ada di hati kita semua,” ucap Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, membuka acara bertema Rindu Bang Zul yang dibuka dengan doa hangat oleh Fihiruddin, admin Pojok NTB.
Acara yang dipandu santai oleh Abdul Majid dan Ridha Andi Patiroi ini menghadirkan atmosfer kekeluargaan. Meski ringan, testimoni-testimoni yang mengalir sepanjang malam terasa dalam dan sarat makna.
Mutiara yang Tetap Berkilau
Karman BM, Ketua Himalo Jakarta, menyebut Bang Zul sebagai mutiara yang tak akan redup meski tidak lagi menjabat. “Di mana pun beliau berada, akan tetap bersinar,” katanya mantap.
Sementara Hasan Masat, pentolan aktivis NTB, mengenang Bang Zul sebagai pemimpin yang mudah diakses dan tidak silau seremoni. “Kalau ada ide, langsung dikirim ke 25 orang. Seperti pesan berantai yang menyebar cepat,” ujar Hasan, mengenang gaya kepemimpinan Bang Zul yang komunikatif dan inklusif.
Pemimpin Gagasan, Pemimpin Humanis
Dr. Ihsan Hamid, akademisi UIN Mataram, melihat perayaan ini bukan sekadar nostalgia. “Ini ekspresi akan sesuatu yang hilang di NTB: pemimpin dengan visi besar, tapi juga merangkul semua,” katanya. Hal serupa diamini Dr. Alvin Syahrin yang menyebut Bang Zul tak hanya punya narasi besar, tapi juga langkah nyata untuk mewujudkannya.
Akhdiansyah alias Yongki, Anggota DPRD NTB dari PKB, menyebut program-program era NTB Gemilang seperti beasiswa luar negeri dan industrialisasi jauh lebih terasa manfaatnya ketimbang konsep NTB Mendunia saat ini. “Meski gagal dua kali: jadi gubernur dua periode dan wujudkan Provinsi Pulau Sumbawa, Bang Zul tetaplah mutiara,” katanya jujur.
Doa, Rindu, dan Lilin yang Menyala
Figur-figur seperti Irpan Suriadinata (PW Ansor NTB), Salamudin Daeng (aktivis Jakarta), hingga Ahmad Samsul Hadi (DPRD Lombok Tengah) pun menggarisbawahi satu hal: Bang Zul bukan hanya pemimpin, tapi juga sahabat, inspirator, dan pendengar setia masyarakat bawah.
“Bang Zul boleh kalah di pilkada. Tapi beliau tak akan pernah kalah di hati kita,” ucap Samsul Hadi yang malam itu terlihat begitu menikmati suasana.
Di ujung acara, sebuah kue ulang tahun sederhana dibawa ke tengah ruangan. Nyala lilin ditancapkan, lagu ulang tahun bergema, dan semua tamu meriung dengan senyum penuh kenangan.
Satu perayaan yang sederhana, tapi tak biasa. Karena sosok yang dirayakan mungkin tak hadir, tapi justru terasa di setiap kalimat, tawa, dan doa yang terucap.
Selamat ulang tahun, Bang Zul. Rindu ini nyata. Doa-doa ini tulus. Dan cintamu pada NTB… belum tergantikan.


