Scroll untuk baca artikel

MASKAWIN MURAH DI TENGAH PUSARAN BUDAYA POPULER

×

MASKAWIN MURAH DI TENGAH PUSARAN BUDAYA POPULER

Share this article
Sumber Photo : Lombok Post/ Ilustrasi Mahar Sendal Jepit.

Maskawin dalam pernikahan adalah pemberian mempelai laki-laki atas permintaan mempelai perempuan berupa benda bernilai tiggi yang lazimnya berupa uang, emas, Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat yang hendak melaksanakan pernikahan. Penentuan jenis dan Jumlahnya tidak berdasarkan standar pasti baik ditinjau dari hukum agama ataupun adat pada suatu tempat tertentu melainkan sesuai dengan permintaan perempuan. Pada masyarakat suku sasak-islam bahwa benda yang dijadikan maskawin dipersepsikan memiliki nilai sakral yang diyakini membawa berkah bagi kehidupan kedua mempelai. Bahkan tidak jarang maskawin yang berupa uang atau emas dijadikan modal usaha untuk mendapatkan keberkahan dalam usaha yang digelutinya. Lalu apa jadinya pernikahan dengan maskawin berupa segelas air putih, sandal jepit, dan selembar kain kafan yang akhir-akhir ini viral dan menghebohkan masyarakat? Pernikahan yang terlihat unik nan luar biasa ini telah menyita perhatian pubik, semua tokoh angkat bicara dengan persolan ini. Namun tidak banyak yang memberikan komentar positif, tidak berlebihan hampir semua tokoh menyangsikan perkawinan tersebut, bahkan “ketua MUI Provinsi NTB menghawatirkan pernikahan murah bisa jadi permainan”.

(https://www.suarantb.com/fenomena-maskawin-murah-mui-khawatir-pernikahan-jadi-permainan/07 Agustus 2020).

IKLAN
Example 120x600

Bila melihat dengan kasat mata prosesi pernikahan tersebut sesungguhnya tidak ada yang salah, semua persyaratan beserta rukunnya terpenuhi sehingga dapat dipastikan pernikahannya sah. Namun satu hal yang menjadi sorotan yaitu maskawinnya yang unik dan luar biasa. Oleh karena itu berita tentang pernikahan ini tersebar melalui kanal-kanal media sosial bahkan media televisi nasional tak luput dari sorotannya. Ada hal yang menarik menurut penulis dengan banyak mengamati peristiwa demi peristiwa yang dipertontonkan di media sosial khusunya YouTube. Melalui kanal youTube tersebar video-video tidak hanya memuat berita tentang prosesi pernikhan tersebut, tetapi telah bergeser pada potongan-potongan video klarifikasi bahkan cerita asmara pasangan pengantin pasca pernikahan.

Nampaknya ada pergeseran motif pernikahan, tidak hanya untuk menghalalkan hubungan asmara tetapi juga untuk meningkatkan popularitas. Mungkin hal itu by desaign atau dengan kata lain sudah direncanakan jauh sebelumnya atau bisa jadi memanfaatkan momen viralnya pernikahan tersebut untuk meningkatkan popultaritas.

Terlepas dari ada atau tidak adanya pergeseran motif pernikahan tersebut tidak berlebihan bila penulis memandang pernikahan ini sesungguhnya berada pada pusaran budaya populer. Secara teori budaya populer adalah budaya yang paling banyak dinikmati masyarakat saat ini. Ada dua Nikmat yang dimaksudkan penulis, pertama, nikmat secara ekonomi yang didapatkan oleh pelaku budaya pouler yang dengan sadar dan sengaja mengolah suatu peristiwa untuk bisa dinikmati (dibaca, didengar, dan ditonton) dengan mudah oleh masyarakat. Kedua, adanya perasaan senang dan terhibur yag didapatkan oleh masyarakat bila melihat, mendengar dan menyaksikan suatu peristiwa yang telah diolah secara unik menjadi bahan bacaan, cerita, ataupun video. Oleh karena itu dalam konteks “pernikahan murah” akhir-akhir ini banyak yang mengikuti setiap tayangan yang diunggah di kanal YouTube. Terbukti setiap akun YouTube yang memuat tentang pernikahan murah khususnya mahar sandal jepit mendapat viewer di atas dua ribu dalam kurun waktu dua minggu.

Hal ini menjadi bukti betapa cairnya budaya populer yang tengah menyatu dengan masyarakat. Kehidupan sehari-hari kebanyakan masyarakat yang tidak bisa lepas dari smart phone tengah menjadi faktor pendukung segala potensi berdinamisasi. Termasuk pernikahan sangat mugkin terjadi dengan mahar atau maskawin sesuatu yang dipandang unik namun kurang etis berdasarkan kebiasaan pada masyarakat tertentu demi trend masa kini dan kadangkala untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Mungkin juga nantinya hanya dijadikan bahan candaan atau adegan prank seperti yang dikhawatirkan para tokoh agama. Semuanya itu hanya ditujukan untuk memperoleh popularitas dengan memanfaatkan kondisi pengguuna smart phone yang sesungguhnya menjadi objek budaya populer tanpa adanya kesadaran kritis dan etis.

Untuk itu, hemat penulis penting kiranya kesadaran kritis dan etis dibangun pada diri masyarakat di tengah-tengah budaya populer yang amat tinggi. Sehingga kehawatiran akan turunnya kesakralan nilai-nilai budaya termasuk pernikahan dengan motif-motif tertentu dalam tanda kutip tidak terjadi begitu saja. Dengan kesadaran kritis dan etis tentu masyarakat bisa memposisikan diri sebagai pelaku yang berorientasi nikmat ekonomi atau penikmat “menjadi bagian dari masyarakat berbudaya populer” tanpa merenggut nilai-nilai kehidupan sosial budaya dari kesakralannya.

Penulis : Andika Apriawan, M.Pd
Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama NTB

www.lombokfokus.com
Example 120x600
Example 120x600