Scroll untuk baca artikel
Daerah

Hadiri HUT Desa Giri Sasak, Senator TGH Ibnu Kholil Dorong Keadilan Fiskal untuk NTB

×

Hadiri HUT Desa Giri Sasak, Senator TGH Ibnu Kholil Dorong Keadilan Fiskal untuk NTB

Share this article

LombokFokus|Giri Sasak – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-15 Desa Giri Sasak, Selasa (30/12/2025) malam, tak hanya jadi ajang syukuran warga, tetapi juga ruang refleksi arah pembangunan desa. Momen tersebut terasa saat Anggota DPD RI Dapil NTB, TGH. Ibnu Kholil, M.Pd. hadir menyapa masyarakat dalam acara puncak HUT Desa Giri Sasak, yang menyoroti dana desa hingga Dana Transfer ke Daerah (TKD).

Puncak peringatan berlangsung khidmat di Aula Kantor Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat. Kepala desa bersama perangkat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga ratusan warga tampak mengikuti rangkaian acara zikir dan doa bersama.

IKLAN
Example 120x600

Suasana religius makin terasa lewat tausiyah kebangsaan dan keagamaan TGH. Hulaimi Umar Batu Nyale. Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan usia ke-15 desa sebagai tonggak penguatan iman, persatuan, serta kemandirian desa.

Dalam kesempatan tersebut, TGH. Ibnu Kholil menilai peringatan hari jadi desa patut dimaknai sebagai ruang evaluasi perjalanan pembangunan, termasuk kesiapan desa menghadapi tantangan kebijakan nasional ke depan.

Usai acara, Pengasuh Pondok Pesantren Inen Lemu, TGH. Ibnu Kholil, menanggapi isu TKD yang belakangan menuai sorotan. Menurutnya, pengurangan TKD ikut memengaruhi kemampuan daerah dan desa, dalam menjalankan program pembangunan serta pelayanan dasar masyarakat.

DPD RI, lanjut TGH. Ibnu Kholil yang alumni Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo-Situbondo, telah membawa aspirasi daerah ke Pemerintah Pusat, agar kebijakan pemangkasan TKD kembali dikaji secara adil dan proporsional.

“Kami di DPD RI sudah menyampaikan kepada pemerintah, agar Dana Transfer ke Daerah ini tidak dipotong. Dampaknya sangat besar, bukan hanya terhadap pembangunan daerah, tetapi juga pada realisasi janji-janji politik kepala daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” katanya.

Ibnu Kholil yang juga dikenal dengan istilah “Tuan Guru Lomboq Buaq (lurus seperti pohon pinang)” itu, juga menyebut banyak kepala daerah menyampaikan keluhan terkait keterbatasan fiskal, akibat berkurangnya dana transfer. Program nasional yang langsung menyentuh daerah, dinilai belum tentu cocok diterapkan secara seragam di seluruh wilayah.

“Pemerintah Pusat tidak boleh memukul rata semua daerah. Daerah yang secara fiskal relatif kuat mungkin bisa menyesuaikan, tetapi untuk daerah seperti NTB yang masih sangat membutuhkan dukungan dana pusat, seharusnya ada kebijakan khusus dan keberpihakan,” tegasnya.

Selain TKD, TGH. Ibnu Kholil menyoroti berkurangnya alokasi Dana Desa (DD). Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang gerak pemerintah desa, terutama sejak Dana Desa banyak dialokasikan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) pascapandemi Covid-19.

“Banyak kepala desa menyampaikan keluhan kepada saya. Saat kampanye mereka berjanji membangun jalan, fasilitas umum, dan program pemberdayaan, tetapi sekarang Dana Desa semakin berkurang. Sementara di sisi lain, banyak kebijakan strategis masih ditentukan dari Pusat,” ujarnya.

Meski begitu, anggota DPD RI itu mengajak desa tidak bergantung sepenuhnya pada dana pemerintah. Penguatan ekonomi mandiri desa dinilai perlu terus digerakkan, salah satunya melalui Koperasi Merah Putih.

Namun, ia mengingatkan pengelolaan koperasi perlu mengedepankan integritas dan profesionalisme, agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

“Kunci keberhasilan koperasi adalah kejujuran dan pengelolaan yang profesional. Jangan sampai masyarakat pesimis, apalagi jika modalnya berbasis pinjaman. Jika dikelola dengan baik, saya yakin koperasi ini bisa menjadi harapan besar bagi desa-desa di NTB,” ucapnya.

Sebagai anggota DPD RI Komite III, Ibnu Kholil turut mendorong pemerintah desa, agar lebih aktif menyampaikan aspirasi pembangunan ke Pemerintah Pusat dan lembaga perwakilan. Desa diminta tak ragu menyusun proposal pembangunan, mulai dari infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Silakan buat proposal sebanyak-banyaknya. Kirim seribu proposal pun tidak masalah. Siapa tahu dari seribu itu ada puluhan yang terealisasi. Yang penting kita terus berikhtiar, berjuang, dan tidak lelah memperjuangkan kepentingan masyarakat desa,” pungkasnya.

Peringatan HUT ke-15 Desa Giri Sasak ditutup dengan doa bersama, sebagai wujud syukur atas perjalanan desa selama 15 tahun, sekaligus harapan agar desa terus tumbuh mandiri dan sejahtera menghadapi dinamika pembangunan.(djr)

Example 120x600
Example 120x600